Gadis London yang bergabung ISIS, 'tewas' di Suriah

kadiza begum amira Hak atas foto PA
Image caption Tiga remaja perempuan asal London meninggalkan bandara Gatwick Inggris untuk bergabung ISIS melalui Turki.

Salah satu dari tiga siswi yang meninggalkan London tahun lalu untuk bergabung dengan kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS diyakini telah tewas dalam serangan udara Rusia di Suriah, kata pengacara keluarganya.

Kadiza Sultana berusia 16 ketika ia meninggalkan Bethnal Green, London Timur, bersama dengan dua orang temannya.

Pengacara keluarganya, Tasnime Akunjee, mengatakan kepada BBC Newsnight mereka mendengar laporan kematiannya di Raqqah beberapa pekan lalu.

Namun dia mengatakan mereka belum bisa memastikan kebenaran kabar itu karena simpang siurnya informasi dari Suriah.

Akunjee mengatakan remaja itu menyadari bahwa yang dibayangkannya tentang ISIS keliru, dan ingin meninggalkan Suriah untuk kembali ke Inggris - tetapi memutuskan untuk tidak mengambil risiko ditangkap dan menghadapi hukuman 'brutal' dari kelompok teror ISIS itu.

Dia mengatakan keluarganya jelas 'sangat terpukul.'

Akunjee menambahkan: "Tidak ada yang lebih buruk ketimbang mendapat kabar bahwa saudara atau anggota keluarga kita tewas -dan dia adalah seorang gadis muda dengan masa depan cemerlang -sungguh kehilangan besar bagi keluarga.

"Segala upaya telah dilakukan sejak awal untuk mencoba menghindari berita duka ini, betapa pun sungguh menyesal bahwa kami dihadapkan dengan kenyataan kehilangan jiwanya yang begitu muda itu."

Hak atas foto Hand
Image caption Kadiza Sultana, Amira Abase, Shamima Begum.

Kadiza Sultana dan dua teman sekolahnya, Shamima Begum dan Amira yang saat itu keduanya berusia 15 tahun, terbang dari bandara Gatwick ke Turki pada 17 Februari 2015 setelah memberitahu orang tua bahwa mereka akan keluar sebentar.

Para murid Bethnal Green Academy ini kemudian memasuki Suriah dan diyakini tinggal di Raqqah, kubu kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS.

Akunjee mengatakan bahwa Kadiza Sultana: "menyatakan keinginan untuk kembali. Namun masalahnya adalah faktor risikonya sangat fatal. Bahwa jika ISIS mampu mendeteksi dan menangkapnya, hukuman yang mereka lakukan sangat brutal."

"Pada pekan dia berpikir untuk pulang, seorang gadis muda Austria tertangkap berusaha meninggalkan wilayah ISIS dan menurut berbagai laporan, dipukuli sampai mati di depan umum, sehingga saya pikir Kadiza menganggap itu sebagai pertanda buruk dan memutuskan untuk tidak mengambil risiko."

Menurut Akunjee, Kadiza ingin pulang, karena: "dia tahu segera bahwa propaganda ISIS itu tidak sesuai dengan kenyataan."

Berita terkait