Demonstran anti-Islam terobos masuk gereja pendukung komunitas muslim

Hak atas foto
Image caption Para demonstran sayap kanan menyeruak ke dalam sebuah gereja di Australia seraya mengenakan pakaian muslim dan meneriakkan slogan-slogan anti-Islam.

Sejumlah demonstran sayap kanan menyeruak ke dalam sebuah gereja di Australia seraya mengenakan pakaian muslim dan meneriakkan slogan-slogan anti-Islam.

Selain meneriakkan slogan anti-Islam, para aktivis organisasi Partai untuk Kebebasan itu juga berpura-pura salat sembari memperdengarkan suara adzan menggunakan pengeras suara.

“Kami ingin membagi Islam dengan Anda. Ini adalah masa depan. Ini adalah keanekagaraman budaya, bung. Kekayaan Islam yang ingin kami bagi dengan Romo Rod, jemaat, dan agenda keadilan sosial yang kami dengar setiap saat,” kata salah seorang demonstran.

Aksi 10 orang itu sempat mengganggu misa di Gereja Anglikan Gosford di Negara Bagian New South Wales.

Image caption Gereja Anglikan Gosford adalah gereja yang dikenal kerap menyebarkan pesan-pesan pro-imigrasi pada spanduk dan ibadah.

Romo Rod Bower mengatakan insiden di gereja yang dipimpinnya telah meneror jemaat.

“Mereka kaget. Saya mengetahui siapa mereka dengan cepat. Beberapa anggota jemaat cukup trauma,” ujar Bower sebagaimana dikutip Australian Broadcasting Corporation (ABC).

Menurut Bower, aksi para demonstran dilancarkan karena Gereja Anglikan Gosford adalah gereja yang dikenal kerap menyebarkan pesan-pesan pro-imigrasi pada spanduk dan ibadah.

"[Protes itu] hanya karena kami mendukung komunitas muslim. Kami mencoba membangun jembatan. Lalu mereka datang ke tempat suci ini, melanggar wilayah yang digunakan umat Kristen selagi kami merayakan perbuatan kasih dan membawa kebencian ke sini adalah pelanggaran berat. Ini hanya menguatkan keyakinan kami,” kata Brower.

Ke-10 demonstran tersebut memiliki kaitan dengan Partai One Nation pimpinan Senator Pauline Hanson yang mendukung kebijakan anti-imigrasi. Namun, lebih dari 24 jam kemudian Partai One Nation merilis pernyataan bahwa partai itu tidak berafiliasi dengan Partai untuk Kebebasan.

Sampai saat ini kepolisian setempat masih menyelidiki insiden yang disebut pihak gereja sebagai ‘aksi rasis’.

Berita terkait