Seruan Raja Maroko agar diaspora tolak Islam ekstremis

Raja Maroko Hak atas foto AFP
Image caption Pernyataan Raja Mohammed ke-IV ditujukan pada lima juta warga diaspora Maroko.

Raja Maroko, Mohammed ke-VI, meminta warga negara Maroko di luar negeri -yang kebanyakan di Eropa- untuk menegakkan nilai-nilai Islam yang toleran dan menolak tindakan ekstremisme.

Pernyataan itu ditujukan pertama kalinya kepada lima juta warga diaspora Maroko -atau yang tinggal di luar negeri- sejak peristiwa serangan baru-baru ini di Eropa oleh militan Islam.

Warga negara Eropa asli Maroko terlibat dalam beberapa serangan tersebut.

Dia mengecam pembunuhan atas orang-orang tak bersalah, khususnya pembunuhan seorang pendeta di Prancis.

Dua pengikut kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS menggorok leher Romo Jacques Hamel, 84 tahun, pada misa yang berlangsung di gerejanya di Rouen, Perancis.

Hak atas foto Reuters
Image caption Abdelhamid Abaaoud, warga Belgia asal Maroko, 'memimpin' jaringan militan penyerang Paris, November 2015.

"Membunuh pendeta dilarang agama," Raja Mohammed mengatakan dalam pidatonya.

"Membunuhnya di dalam gereja adalah kegilaan yang tak terampuni, karena pendeta adalah seorang manusia dan pria religius, walau dia bukan Muslim," tambahnya.

Bunuh diri bukanlah tindakan muslim

Dua dari militan ISIS yang terbunuh setelah rangkaian serangan di Paris pada November -yang menewaskan 130 orang- adalah warga negara Belgia berasal dari Maroko, yaitu Abdelhamid Abaaoud -tersangka pemimpin jaringannya- dan Chakib Akrouh, pengebom bunuh diri.

Tiga militan ISIS yang mengebom Brussels pada Maret, Khalid dan Ibrahim el-Bakraoui serta Najim Laachraoui- juga berasal dari Maroko.

Raja Maroko mengatakan, mereka yang terlibat dalam terorisme yang mengatasnamakan Islam 'bukanlah Muslim'.

"Mereka pikir -berdasarkan kebodohan mereka- bahwa mereka berjihad," kata Raja Mohammed.

"Sejak kapan jihad menyerukan pembunuhan orang-orang tak bersalah? Sang Maha Kuasa mengatakan 'Jangan melampaui batas, karena Allah tidak mencintai penoda."

"Bisakah dibayangkan Tuhan memerintahkan seseorang mengebom diri sendiri atau membunuh orang-orang tak bersalah? Islam, dalam kenyataannya, tidak mengizinkan segala bentuk bunuh diri, dengan alasan atau kondisi apapun," seru raja yang membawa modernisasi dan reformasi ke dalam citra Kerajaan Maroko.

Berita terkait