Anggota kelompok militan minta maaf atas penghancuran tempat suci dan masjid di Mali

Seorang anggota kelompok militan Islam mengaku telah merusak situs kebudayaan di Timbuktu, Mali, pada pengadilan pertama sejenis ini di Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC).

Hak atas foto AFP
Image caption Ahmad al-Faqi al-Mahdi dituduh memimpin pengrusakan tempat suci bersejarah di situs warisan dunia.

Ahmad al-Faqi al-Mahdi menyampailkan penyesalan atas tindakannya dan meminta pengampunan.

Dia dituduh memimpin pasukan pemberontak yang menyerang tempat suci bersejarah di situs warisan dunia pada tahun 2012.

Ini juga untuk pertama kalinya seseorang yang diduga militan Islam diadili di pengadilan ICC dan untuk pertama kalinya pula seorang tertuduh mengaku bersalah.

Jaksa mengatakan Mahdi adalah anggota Ansar Dine, kelompok militan Islam yang menguasai Timbukti selama beberapa bulan. Kelompok ini memandang altar tersebut sebagai tempat penyembahan berhala.

Dia diserahkan ke pemerintah Niger setelah ICC mengeluarkan surat perintah penangkapannya.

Mahdi mengatakan kepada ICC, "Yang Mulia, dengan menyesal, saya harus mengatakan apa yang saya dengar sampai sejauh ini adalah tepat dan mewakili kejadiannya. Saya mengaku bersalah."

Dia didakwa melakukan kejahatan perang dengan menghancurkan sembilan tempat suci dan sebuah masjid.

Kelompok HAM mengatakan kehadiran para korban sangat penting untuk menunjukkan pengrusakan warisan budaya bukan hanya menghancurkan bangunan tetapi juga tatanan sosial, budaya dan sejarah.

Timbuktu terkenal karena arsitektur dengan bahan baku lumpur dan kayunya. Tempat ini merupakan pusat pengkajian agama Islam dari abad 13 sampai 17, dan dimasukkan ke dalam daftar UNESCO pada tahun 1988.

Berita terkait