Presiden Uzbekistan, Islam Karimov, meninggal dunia

Hak atas foto AP
Image caption Islam Karimov meninggal dunia setelah 27 tahun menjadi presiden Uzbekistan.

Pemerintah Uzbekistan telah memastikan kematian Presiden Islam Karimov, enam hari setelah dia dibawa ke rumah sakit atas dugaan pendarahan di otak.

Mendiang Karimov akan dikuburkan pada Sabtu (3/9) di Kota Samarkand dan pemerintah Uzbekistan menetapkan tiga hari berkabung untuk menghormatinya.

Upacara pemakaman pria yang telah berkuasa di Uzbekistan selama 27 tahun itu akan diatur oleh Perdana Menteri Shavkat Mirziyoyev, sosok yang diduga bakal menjabat sebagai presiden.

Kabar mengenai kematian Karimov diumumkan secara resmi oleh stasiun televisi pemerintah Uzbekistan di tengah rumor bahwa dia telah meninggal dunia beberapa hari sebelumnya.

Bahkan, Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim, mengatakan dalam rapat dengan jajaran kabinet Turki bahwa Karimov telah meninggal dunia.

“Rakyat sebangsa dan setanah air, dengan rasa sakit yang luar biasa di dalam hati kami, kami menginformasikan kepada Anda kematian presiden tersayang kita,” sebut seorang pembawa berita stasiun televisi Uzbekistan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Vladimir Putin menggambarkan mendiang Karimov sebagai seorang negarawan “yang telah berkontribusi pada keamanan dan stabilitas Asia Tengah”.

Berita soal kematian Karimov disambut ucapan duka cita oleh pemerintah Rusia. Presiden Vladimir Putin menggambarkan mendiang Karimov sebagai seorang negarawan “yang telah berkontribusi pada keamanan dan stabilitas Asia Tengah” dan kematiannya merupakan “kehilangan besar bagi rakyat Uzbekistan.”

Sepeninggal Karimov, Uzbekistan praktis dipimpin Ketua Senat, Nigmatulla Yuldashev, yang menjabat presiden sementara hingga pemilihan digelar.

Akan tetapi, sejumlah analis menilai Yuldashev sepertinya tidak akan mengisi jabatan itu secara permanen.

Calon kuat presiden Uzbekistan selanjutnya adalah Perdana Menteri Shavkat Mirziyoyev, yang telah menjabat sejak 2003. Sosok lainnya yang dianggap merupakan pemain kunci adalah Wakil Perdana Menteri, Rustam Azimov.

Warisan

Selama 27 tahun berkuasa, mendiang Karimov meninggalkan warisan yang menuai kecaman pada satu sisi dan pujian di sisi lain.

Kelompok pegiat HAM mengatakan Karimov menekan kubu oposisi selama berkuasa, namun para pendukungnya menganggap Uzbekistan berada dalam kondisi stabil saat dia memimpin.

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beberapa waktu lalu menyebut penggunaan metode penyiksaan secara sistematis oleh Karimov.

Mendiang, yang tutup usia pada 78 tahun, kerap melakukan pembenaran atas taktik represif selama berkuasa dengan merujuk bahaya kelompok Islam di Uzbekistan, yang berbatasan dengan Afghanistan.

Pada 2005, misalnya, militer Uzbekistan melancarkan penyergapan di Kota Andijanin yang menewaskan ratusan orang.

Berita terkait