Seberapa nyata ancaman bom nuklir Korea Utara?

Peluru kendali Hak atas foto AP
Image caption Peluncuran peluru kendali Korea Utara dipamerkan lewat siaran TV milik negara.

Program nuklir Korea Utara kerap menjadi sumber kekhawatiran komunitas internasional.

Sekalipun banyak upaya untuk menghentikannya, Pyongyang menyatakan telah melakukan lima kali uji coba nuklir, dan yang kelima ini dianggap yang "paling kuat" hingga saat ini.

Apakah Korea Utara punya bom nuklir?

Secara teknis ya - Korea Utara telah lima kali melakukan uji coba ledakan bom nuklir.

Namun untuk meluncurkan serangan nuklir ke negara tetangga, negara itu perlu membuat hulu ledak yang cukup kecil untuk dimasukkan ke dalam peluru kendali jarak jauh.

Korea Utara mengaku sudah berhasil "memperkecil" hulu ledak nuklir - tapi ini belum pernah diverifikasi secara independen. Para ahli menyangsikan pengakuan ini.

Seberapa kuat bom nuklir Korea Utara?

Korea Utara menyatakan telah berhasil mengadakan lima kali uji coba nuklir, tahun 2006, 2009, 2013 dan pada bulan Januari serta September 2016.

Hak atas foto AP
Image caption Fasilitas pengolahan nuklir di Yongbyon, Korea Utara.

Ledakan bom itu tampaknya telah meningkat.

Uji coba bulan September 2016 memberi indikasi ledakan dengan kekuatan antara 10 hingga 30 kiloton, yang, jika benar, merupakan uji coba nuklir terbesar Korea Utara.

Pertanyaan besar lain adalah, apakah bom yang diuji coba ini adalah bom atom, atau bom hidrogen, yang lebih kuat.

Bom hidrogen menggunakan teknik fusi - penggabungan atom - untuk melepaskan energi besar, sementara bom atom menggunakan fisi nuklir, atau pemecaham atom.

Uji coba pada tahun 2006, 2009 dan 2013 merupakan uji coba bom atom.

Korea Utara mengaku uji coba pada bulan Januari 2016 itu adalah uji coba bom hidrogen.

Hak atas foto AP
Image caption Peta seismik yang menandai lokasi yang diduga menjadi pusat ledakan uji coba bom nuklir Korea Utara.

Namun para ahli menyangsikannya berdasarkan besar ledakan yang tercatat.

Plutonium atau uranium?

Para analis percaya bahwa dua uji coba pertama menggunakan plutonium, tetapi sejak tahun 2013 tidak jelas apa materi yang digunakan.

Keberhasilan uji coba uranium berarti peningkatan penting dalam program nuklir Korea Utara.

Cadangan plutonium Korea Utara terbatas, tetapi jika mereka mampu memperkaya uranium, mereka akan bisa membangun gudang nuklir.

Apalagi yang kita ketahui?

Situs Yongbon diketahui sebagai fasilitas pengembangan nuklir utama di Korea Utara, sementara uji coba bulan Januari dan September dilakukan di situs Punggye-ri.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bertemu dengan para ilmuwan.

Situs Yongbon memproses buangan dari bahan bakar pembangkit energi dan menjadi sumber plutonium yang dipakai di program nuklir Korea Utara.

Baik Amerika Serikat dan Korea Selatan mengatakan mereka percaya Korea Utara punya situs lain untuk menjalankan program pengayaan uranium. Korea Utara memiliki banyak sumber cadangan biji uranium.

Apa yang dilakukan komunitas internasional?

Amerika Serikat, Rusia, Cina, Jepang, dan Korea Selatan mencoba mengajak Korea Utara untuk terlibat perundingan yang dikenal sebagai perundingan enam pihak.

Ada berbagai upaya perundingan perlucutan senjata nuklir dengan Korea Utara tapi tak ada upaya ini yang menghalangi tindakan Pyongyang.

Pada tahun 2005, Korea Utara menyetujui kesepakatan besar untuk menyerahkan ambisi nuklir mereka dengan konsesi bantuan ekonomi dan politik.

Pada tahun 2008, mereka menghancurkan menara pendingin di Yongbyon sebagai bagian dari pertukaran perlucutan senjata dengan bantuan.

Hak atas foto AFP
Image caption Komunitas internasional terus berupaya mencegah kelanjutan program nuklir Korea Utara.

Namun implementasi dari perundingan ini terhenti pada tahun 2009.

Tahun 2012 Korea Utara tiba-tiba mengumumkan akan menunda kegiatan nuklirnya dan membuat moratium uji coba peluru kendali sebagai pertukaran bantuan makanan dari Amerika Serikat.

Namun ini tak berarti apa-apa ketika Pyongyang mencoba peluncuran roket bulan April tahun itu.

Bulan Maret 2013 sesudah perang diplomasi dengan Amerika dan penerapan sanksi baru dari PBB, Pyongyang berjanji menghidupkan kembali fasilitas nuklir di Yongbyon.

Tahun 2015, operasi normal di Yongbyon telah berlangsung.

Berita terkait