Shimon Peres, pendiri Israel yang berkompromi tentang Palestina

Shimon Peres Hak atas foto Reuters
Image caption Karir politik Shimon Peres sebenarnya diwarnai oleh kekalahan dalam pemilihan umum.

Shimon Peres merupakan tokoh yang praktis melekat dalam politik Israel, sejak negara Yahudi modern itu berdiri.

Dia pernah menduduki berbagai jabatan di pemerintahan, termasuk perdana menteri dan presiden, walau tidak pernah mengantarkan partainya meraih kemenangan dalam pemilihan umum.

Lahir dengan nama Szymon Perski di Wiszniew, Polandia (sekarang Visnieva di Belarus), pada tanggal 2 Agutus dari keluarga pedagang kayu, orang tuanya bukanlah penganut Yahudi Ortodoks.

Namun Simon muda mendapat pendidikan Talmud -atau ikhtisar hukum Yahudi dan penafsriannya- oleh kakeknya dan menjadi penganut setia.

Tahun 1934, keluarganya pindah ke kawasan Palestina yang saat itu berada di bawah pemerintahan sipil Inggris dan menetap di Tel Aviv.

Hak atas foto AP
Image caption Tahun 1994, Peres bersama Yitzhak Rabin dan Yaser Arafat meraih Nobel Perdamaian.

Setelah menjalani pendidikan di sekolah pertanian, Peres bekerja di kibbutz (atau pertanian bersama) dan terlibat dalam politik sejak usia 18 tahun ketika terpilih sebagai sekretaris gerakan buruh zionis, Hanoar Haoved Vehalomed.

Menjadi Wakil Menteri Pertahanan

Tahun 1947, Perdana Menteri pertama Israel, David Ben Gurion, menunjuknya untuk urusan personalia dan pembelian senjata bagi Haganah -cikal bakal Departemen Pertahanan Israel.

Dia kemudian berhasil mencapai kesepakatan dengan Prancis yang memasok pesawat tempur Mirage ke negara yang baru berdiri itu dan membangun fasilitas nuklir rahasia di Dimona.

Peres terpilih masuk ke parlemen Israel, Knesset, pada 1959 lewat Parta Mapai -awal dari gerakan Partai Buruh di Israel, dan ditunjuk sebagai Wakil Menteri Pertahanan.

Image caption Walau sering kalah dalam pemilu, namun Peres menduduki berbagai jabatan pemerintahan.

Namun dia mundur setelah dinyatakan terlibat dalam penyelidikan tentang Operasi Susannah, rencana Israel untuk mengebom sasaran-sasaran milik Inggris dan Amerika Serikat di Mesir pada tahun 1954 sebagai upaya untuk mempengaruhi Inggris agar tidak menarik pasukan dari Sinai.

Kajian ulang atas penyelidikan sebelumnya memperlihatkan inkonsistensi pada kesaksian yang diberikan sehingga Peres dan Ben Gurion keluar dari Mapai dan membentuk partai baru.

Ketika Golda Meir mundur dari kursi perdana menteri tahun 1974, setelah perang Yom Kippur, Peres ikut bertarung merebut posisi itu namun kalah dari Yitzhak Rabin.

Tiga tahun kemudian Rabin mundur dari pimpinan partai karena skandal yang melibatkan istrinya namun karena penafisran yang rumit atas konstitusi Israel, dia tidak boleh mundur dari jabatan perdana menteri.

Maka Peres, sebagai ketua partai, berperan sebagai perdana menteri tidak resmi dan gagal mendapat posisi tersebut karena dikalahkan Menachem Begin dari Partai Likud.

Setelah itu dia menderita kekalahan pemilu sampai lima kali walau mendapat posisi menteri sebagai bagian dari pemerintahan koalisi.

Meraih Nobel Perdamaian

Tahun 1992 dia juga gagal meraih posisi Ketua Partai Buruh karena kalah dalam pemilihan awal dari Rabin, namun di bawah pemerintahan Rabin dia duduk sebagai menteri luar negeri.

Dalam posisi itu, dia melakukan perundingan rahasia dengan Yaser Arafat dan Organisasi Pembebasan Palestina, yang menghasilkan Kesepakatan Damai Osli tahun 1993.

Hak atas foto Reuters
Image caption Ketika mundur dari parlemen tahun 2007, dia mencatat sebagai anggota parlemen terlama di Israel.

Dengan kesepakatan tersebut, untuk pertama kalinya kepempinan Palestina mengakui hak keberadaan negara Israel.

Setahun kemudian, bersama dengan Yitzhak Rabin dan Yaser Arafat, dia meraih Nobel Perdamaian.

Setelah pembunuhhan Rabin tahun 1995, Peres akhirnya menjabat perdana menteri namun tak sampai satu tahun karena dikalahkan Benjamin Netanyahu dari Partai Likud.

Sempat menjabat presiden

Tahun 2000, Peres juga gagal untuk menduduki posisi presiden Israel karena, kali ini, kalah dari Moshe Katsav.

Ketika Partai Buruh kembali kalah dalam pemilihan 2002, Peres membawa Partai Buruh berkoalisi dengan Partai Likud dan menjabat menteri luar negeri di bawah pemerintahan Ariel Sharon.

Tiga tahun kemudian dia menyatakan mundur dari Partai Buruh dan mendukung Sharon, yang membentuk partai baru, Kadima.

Hak atas foto bbc
Image caption Shimon Peres belakangan menjadi pegiat perdamaian Israel-Palestina.

Ketika Sharon menderita stroke, sempat muncul spekulasi dia akan menjadi pemimpin baru Kadima namun dicegah oleh mantan anggota Partai Likud yang menguasai Kadiam.

Akhirnya tahun 2007, Peres terpilih sebagai peresiden dan mundur dari kursinya di Knesset, setelah menjadi anggota parlemen yang paling lama dalam sejarah Israel.

Peres -yang sebelumnya mendukung pemukiman Yahudi di kawasan pendudukan Tepi Barat- kemudian menjadi politisi yang memilih perdamaian dengan penekanan pada kompromi terkait kawasan yang dituntut di wilayah Palestina.

"Rakyat Palestina adalah tetangga terdekat kami," katanya sekali waktu, "Saya yakin mereka juga mungkin teman tedekat kami."

Berita terkait