Jumlah pengungsi Sudan Selatan capai angka sejuta

Sudan Selatan Hak atas foto
Image caption Jumlah pengungsi Sudan Selatan mencapai sejuta.

Jumlah orang yang mengungsi dari Sudan Selatan karena perang saudara mencapai angka sejuta, kata dewan PBB untuk pengungsi (UNHCR).

Perpecahan yang terjadi di ibu kota, Juba pada Juli tahun ini, dianggap menjadi penyebab utama atas gelombang pengungsian yang terjadi akhir-akhir ini.

Lebih dari 1,6 juta orang juga terlantar di Sudan Selatan, yang artinya sekitar 20% populasi menjadi tuna wisma sejak Desember 2013.

"Kekerasan pada Juli terjadi karena kemunduran besar atas upaya-upaya perdamaian di Sudan Selatan," kata juru bicara UNHCR, Leo Dobbs, dalam sebuah pernyataannya.

PBB mengatakan, lebih dari 185.000 orang mengungsi dari Sudan Selatan sejak Juli.

Kesepakatan perdamaian yang ditandatangani tahun lalu diambang keruntuhan, yang mengancam akan bertambahnya lagi para pengungsi.

Hak atas foto
Image caption Anak-anak pengungsi di kamp PBB (UNMISS) di Juba pada 2014.
Jumlah pengungsi Sudan Selatan di beberapa negara Afrika:
  • Uganda: 373.000 - lebih dari sepertiga jumlah pengungsi ini telah tiba sejak Juli, sejumlah 20.000 selama minggu lalu.
  • Ethiopia: 292.000 - 11.000 melintasi Gambella selama beberapa minggu. Pengungsi baru berasal dari kelompok Nuer, termasuk 500 anak yang bepergian sendiri, yang merasa ketakutan akan adanya konflik baru setelah melihat pergerakan pasukan.
  • Sudan: 247.317 - 1.800 tiba tiap bulan di kawasan sungai Nil Putih (White Nile), karena bencana banjir mencegah pengungsi lainnya datang ke sana.
  • Kenya: 90.000 - 300 orang tiap minggunya mengungsi dari ancaman keselamatan, ketidakstabilan ekonomi, dan bencana kekeringan.
  • Republik Demokratik Kongo: 40.000 - arus kedatangan pengungsi akhir-akhir ini ada di provinsi Ituri.

Banyak para pengungsi Sudan Selatan tiba di Uganda yang merasa letih setelah berjalan berhari-hari di hutan semak belukar tanpa makanan atau air.

Banyak anak yang kehilangan salah satu atau kedua orangtuanya, kata UNHCR.

Berita terkait