Warga Serbia di Bosnia ingin 9 Januari tetap jadi libur nasional

Milorad Dodik Hak atas foto AFP
Image caption Pemimpin etnik Serbia di Bosnia-Herzegovina, Milorad Dodik, merayakan hasil referendum.

Hasil awal referendum warga Serbia di Bosnia menunjukkan mayoritas pemilih ingin mempertahankan 9 Januari sebagai hari libur nasional walau bertentangan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi.

Tempat pemungutan suara untuk referendum para pemilih etnik Serbia sudah ditutup pada Minggu (25/9) malam waktu setempat.

Dengan sekitar 70% suara yang sudah dihitung, sebesar 99,8% pemilih ingin agar tanggal hari libur nasional tersebut dipertahankan. Sekitar 1,2 juta warga memiliki hak untuk mengikuti referendum dan pihak berwenang mengatakan partisipasi pemilih mencapai 56% lebih.

Hak atas foto EPA
Image caption Referendum tentang hari libur nasional Serbia dilarang oleh Mahkamah Konstitusi.

Mahkamah Konstitusional sebelumnya memutuskan tanggal itu merupakan diskriminasi atas umat Muslim Bosnia dan Katolik Kroasia sehingga perlu diubah.

Komunitas etnik Serbia memproklamirkan negara sendiri bernama Republik Srpska di dalam Bosnia-Herzegovina pada 9 Januari 1992, yang memicu konflik sehingga sekitar 100.000 jiwa tewas. Tanggal 9 Januari juga merupakan hari libur umat Kristen Ortodoks.

Pendirian Republik Srpska itu praktis memecah garis etnis di dalam Bosnia-Herzegovina antara komunitas Serbia serta federasi Muslim dan Kroasia.

Referendum tentang hari libur nasional ini sebenarnya dilarang oleh Mahkamah Konstitusi di ibu kota Bosnia, Sarajevo.

Hak atas foto EPA
Image caption Tingkat partisipasi pemilih dilaporkan mencapai 56% lebih.

Presiden Republik Srpska, Milorad Dodik, menegaskan bahwa pro-kontra referendum bukan soal yang penting lagi.

"Saya bangga dengan warga Republika Srpska dan semua yang memberikan suara," katanya di kota Pale.

Sementara pemimpin umat Muslim Bosnia, Bakir Izetbegovic, menuduh Dodik 'bermain api'.

Image caption Peta Bosnia-Herzegovina yang menunjukkan dua entitas, yakni Republika Srpska dan Federasi Bosnia-Herzegovina.

Para wartawan melaporkan perlawanan yang dilakukan Dodik meningkatkan kekhawatiran bahwa dia akan menggelar referendum untuk memisahkan diri dari Bosnia-Herzegovina.

Berita terkait