Bagaimana kematian Shimon Peres ditanggapi di Palestina?

Shimon Peres Hak atas foto AFP
Image caption Shimon Peres, salah satu bapak bangsa Israel, meninggal dunia pada usia 93 tahun.

Kematian mantan pemimpin Israel, Shimon Peres, pada usia 93 tahun mendapat reaksi beragam dari Palestina.

Ada yang melihatnya sebagai sosok yang memiliki peran besar dalam mengupayakan terwujudnya perdamaian di negara-negara Arab, tapi ada juga yang menganggapnya bertanggung jawab atas 'pembantaian yang menjadikan rakyat Palestina sebagai korban'.

Secara umum, suasana di Palestina tidak banyak berbeda dengan adanya kematian Peres ini.

"Biasa saja, tidak ada yang luar biasa," kata Abdillah Onim, wartawan kantor berita di Gaza, Suara Palestina.

Media di Palestina yang dipantau Onim pada hari Rabu (28/09) tidak memberikan porsi istimewa atas meninggalnya Peres.

Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, sudah mengirim surat yang berisi ucapan duka.

"Peres adalah mitra untuk mewujudkan perdamaian bersama mendiang Yasser Arafat ... mengambil upaya-upaya intensif untuk terus menciptakan perdamaian berjangka panjang sejak perjanjian Oslo sampai akhir hayatnya," demikian pernyataan yang dikeluarkan kantor kepresidenan Palestina.

'Pembantaian rakyat Palestina'

Hak atas foto Reuters
Image caption Shimon Peres adalah salah satu arsitek perjanjian damai Oslo 1993.

Onim menjelaskan secara umum faksi Fatah -kelompok yang dipimpin Presiden Abbas- bersuara netral atau positif terhadap Peres.

Sementara faksi Hamas menganggap Peres tidak berbeda dengan para politikus lain dan bahkan dianggap bertanggung jawab atas 'sejumlah insiden pembantaian terhadap rakyat Palestina'.

"Tidak ada beda antara Shimon Peres dan Ariel Sharon. Bagi anggota Hamas kematian Peres atau Sharon tidak ada untungnya bagi Timur Tengah atau Palestina," kata Onim.

Sami Abu Zuhri, juru bicara Hamas -faksi Palestina yang menguasai Gaza- mengatakan bahwa rakyat Palestina bergembira dengan kematian Peres, yang ia sebut 'terlibat dalam banyak kejahatan dan berperan menumpahkan darah di Palestina'.

Anggota parlemen Palestina, Mustafa Barghouti, sementara itu mengatakan apa yang dilakukan Peres adalah 'menciptakan ilusi perdamaian'.

Peres menurut rencana akan dimakamkan secara kenegaraan di Jerusalem, hari Jumat (30/09), tapi belum jelas apakah Presiden Abbas akan hadir di pemakaman ini.

Berita terkait