Mengungkap kehidupan LGBT di Afghanistan

lgbt
Image caption Sebenarnya tidak ada aturan hukum yang tertulis tentang bagi LGBT di Afghanistan.

Homoseksualitas merupakan hal tabu di Afghanistan, jarang dibicarakan di media dan secara umum dikutuk sebagai sesuatu yang tidak bermoral dan tidak Islami.

Akibatnya tidak terdapat data statistik yang mengisyaratkan jumlah anggota masyarakat lesbian, gay, biseksual dan transgender atau LGBT di negara itu.

BBC berbicara dengan empat warga Afghanistan dengan orientasi seksual yang berbeda-beda. Semuanya bercerita tentang kehidupan rahasia, tetapi semuanya bertekad untuk mempertahankan jati dirinya.

Semua nama di tulisan ini diubah dengan alasan keamanan.

Image caption Pasal 427 hukum Afghanistan hanya mengacu kepada 'pederasty' atau kegiatan seksual antara pria.

Zainab berumur 19 tahun dan tinggal di rumah. Tetapi orang tua dan saudara-saudaranya tidak mengetahui perasaannya.

"Saya berusia 15 atau 16 tahun ketika menyadari saya tidak menyukai pria," katanya.

"Saya bekerja di salon kecantikan. Terdapat banyak wanita di sekitar saya dan saat itulah saya menyadari bahwa diri saya lebih menyukai perempuan daripada laki-laki."

Zainab mengatakan baru setelah bertahun-tahun dia baru memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannnya.

Tekanan norma tradisional

Ketika Zainab mengaku kepada seseorang yang telah menjadi temannya selama bertahun-tahun bahwa dia mencintainya, reaksi yang diterimanya mengejutkan.

"Saya mengatakan kepadanya 'perasaan yang biasanya pria rasakan kepada perempuan, saya memiliki perasaan seperti itu kepadamu'. Temannya untuk menjaga jarak untuk sementara waktu, sebelum keduanya akhirnya menjadi pasangan.

Zainab mengatakan mereka dapat bertemu sekali atau dua kali dalam seminggu, tetapi hubungan mereka tetap disembunyikan.

"Ada banyak wanita lesbian tetapi mereka tidak membicarakannya secara terbuka," kata Zainab. "Di Afghanistan, menjadi lesbian dipandang tidak Islami. Jika orang mengetahuinya, sama saja dengan kematian. Keluarga harus tidak mengetahuinya."

Kekhawatiran akan penolakan dan pembalasan, bahkan kematian dirasakan semua warga Afghanistan yang berbicara dengan BBC untuk laporan ini.

Mereka juga sama-sama merasakan tekanan keluarga untuk menikahi pasangan lawan jenis dan mematuhi norma tradisional masyarakat Afghanistan.

'Kami bisa digantung'

Dawood menyadari dirinya gay pada usia 18 tahun. Meskipun demikian dia tetap bertunangan dengan seorang wanita.

"Hal itu diatur tanpa persetujuan saja," katanya. "Saya ingin membatalkannya karena saya tidak tertarik dengan lawan jenis."

Hak atas foto Nemat Sadat
Image caption Nemat Sadat berharap LGBT akan mendapatkan hak dan kebebasan di masyarakat Muslim konservatif.

Pertunangan dibatalkan dan Dawood mengatakan dia berbahagia karena berhubungan dengan pria.

"Ini sangat dalam. Ketika kami bertemu kami merasa berada di dunia yang berbeda."

Tetapi Dawood juga terpaksa menjalani kehidupan ganda.

"Di Afghanistan, homoseksualitas dipandang sebagai gejala yang mengejutkan dan negatif. Jika ketahuan, kemungkinan kami bahkan dapat digantung," katanya.

Tidak ada aturan hukum yang tertulis tentang bagi LGBT di Afghanistan, tetapi para ahli hukum dan masyarakat gay tidak ragu untuk mengatakan bahwa homoseksualitas dipandang sebagai suatu kejahatan.

Pasal 427 hukum Afghanistan hanya mengacu kepada "pederasty" atau kegiatan seksual antara pria, yang salah seorang di antaranya adalah pemuda atau anak laki-laki. Tingkah laku ini dapat dihukum penjara dalam waktu yang lama.

Kesepahaman hukuman mati?

Meskipun demikian Dr Niaz Shah dari Hull University, Inggris, seorang ahli hukum Afghanistan dan Islamis, mengatakan hukum pidana mewakili prinsip berhaluan Islam yang melarang homoseksualitas.

"Hukum berhaluan Islam hanya mengizinkan satu bentuk hubungan seksual antara seorang pria dan wanita dewasa yang sudah menikah," kata Dr Shah kepada BBC.

"Jika dua anak laki-laki mengatakan mereka gay dan menginginkan hubungan gay, hal ini akan membuat masyarakat marah; akan terdapat orang yang kemungkinan ingin membunuh mereka."

Dr Shah mengatakan meskipun homoseksualitas ada di masyarakat Afghanistan dalam berbagai bentuk hubungan pria-pria, orang tidak melihat diri mereka sebagai gay dan sering kali kemudian menikahi wanita.

Konsep gay adalah satu hal yang asing di masyarakat Afghanistan, katanya.

"Saya tidak menyadari adanya hubungan gay di Afghanistan ketika dua pria secara terbuka menyatakan cintanya dan berkeinginan hidup sebagai pasangan serta tidak berhubungan seksual dengan seorang wanita."

Hak atas foto Reuters
Image caption Penduduk menari pada pawai tahunan Gay Pride di Berlin, Jerman pada bulan Juli tahun ini.

Ulama terkemuka Afghanistan, Shams-ul Rahman, mengatakan kepada BBC terdapat kesepahaman umum diantara para ahli bahwa hukuman mati adalah hukuman yang wajar diterapkan jika kegiatan homoseksual terbukti dilakukan.

"Tembok tua harus dijatuhkan ke arah mereka dan mereka seharusnya dibunuh dalam cara yang paling kejam," katanya.

Terbuka dan bangga

Seorang warga Afghanistan yang berkeinginan mengubah perlakuan yang diterima LGBT adalah pegiat bernama Nemat Sadat, yang mengungkapan rahasia tentang dirinya kepada umum tiga tahun lalu.

"Saya ditinggalkan sebagian besar anggota keluarga dan kerabat yang sudah lebih lama tinggal di Barat daripada di Afghanistan," katanya kepada BBC dari Washington, tempat tinggalnya sekarang.

"Bahkan kelompok elit berpendidikan, orang yang belajar di Berkley dan Harvard, kesulitan menerima saya."

Sadat lahir di Afghanistan, tetapi dibesarkan di luar negara idan hanya kembali pada tahun 2012 untuk memulai karir akademis. Setelah menyatakan diri homoseksual secara terbuka dia kehilangan pekerjaan di universitas American di Kabul karena tekanan pemerintah Afghanistan.

Dia mengatakan dirinya berbicara dengan banyak warga LGBT Afghanistan saat di Kabul untuk mengetahui kehidupan mereka.

"Sama seperti tempat-tempat lain terdapat tempat pertemuan gay, seperti di tempat berolah raga, taman dan mal," katanya. "Tetapi sebagian besar pertemuan ini tidak berlanjut, kemungkinan hanya sekali bertemu."

Sama seperti kebanyakan orang yang hidup dengan keluarganya, dia mengatakan mereka tidak bisa membawa pulang pasangan, sehingga harus menyewa tempat seperti ruangan di belakang toko.

"Yang saya temukan secara umum adalah sangat sulit untuk membina hubungan dan pertemanan dalam jangka panjang. Orang LGBT terjebak Syariah Islam dan bahkan tidak bisa menuntut hak untuk hidup, apalagi menikahi orang yang mereka benar-benar cintai."

Hak di bawah tekanan

Image caption Shamela mengatakan dirinya senang memakai make up dan menari di dalam kamar terkunci.

Nemat Sadat berharap orang LGBT pada akhirnya akan mendapatkan hak dan kebebasan di masyarakat Muslim konservatif.

Tetapi bahkan di Barat, tempat tinggalnya sekarang, hak tersebut dalam tekanan dan sering kali baru saja diakui.

Dan bukan hanya Islam yang memandang homoseksual tidak bermoral karena di Jerman, misalnya, homoseksualitas pria masih diperlakukan sebagai suatu pelanggaran hukum sampai tahun 1994.

Shamela, transgender yang berusia 24 tahun, dilahirkan sebagai pria dan mengatakan selalu menyukai 'kegiatan perempuan', seperti bermain boneka dan bermain dengan anak perempuan sejak kecil.

Tetapi sekarang sebagai orang dewasa dia berusaha menyembunyikan kecenderungannya.

"Saya mengunci diri di kamar kecil seperti tahanan," katanya. "Saya mengenakan kosmetik up di depan cermin, memainkan musik, menonton TV dan menari."

Pasangannya juga memegang teguh kerahasiaan.

"Dia sangat kaku dan menginginkan saya berpakaian seperti pria di depan umum," kata Shamela. "Kekecewaan terbesar saya adalah bahwa saya tidak dilahirkan sebagai seorang wanita. Saya ingin mempunyai anak, suami dan kehidupan yang baik."

Semua orang yang berbicara dengan BBC menyebutkan perasaan seperti pencarian jiwa, keterasingan, dan terjebak antara harapan dan keputusasaan.

Namun semuanya bertekad untuk tetap menjadi diri mereka sendiri.

Pegiat Nemat Sadat tetap memiliki harapan, tetapi perubahan hanya akan terjadi jika hak LGBT dipandang dalam kaitannya dengan hak minoritas secara lebih luas.

"Tidak akan terjadi perkembangan masyarakat LGBT, atau hak wanita, atau hak minoritas lainnya sampai kita bersatu."

Penulisan dilengkapi oleh laporan Auliya Atrafi dan Johannes Dell.

Berita terkait