Obama dorong Partai Republik untuk tinggalkan Trump

Hak atas foto Getty
Image caption Presiden AS Barack Obama mengatakan Donald Trump tak layak jadi presiden.

Presiden AS Barack Obama mendorong petinggi Partai Republik untuk mencabut dukungan mereka pada Donald Trump sebagai kandidat presiden.

Pada sebuah kampanye untuk mendukung capres Partai Demokrat, Hillary Clinton, Obama mengatakan bahwa tidak masuk akal untuk menghujat komentar kontroversial Trump, tapi masih mendukungnya untuk maju ke Gedung Putih.

Banyak petinggi Partai Republik yang sudah mengambil jarak dengan Trump karena video yang memperlihatkan Trump bersumbar melecehkan perempuan.

Trump menuduh para petinggi partai itu tak setia.

Secara khusus, Trump mengecam Ketua DPR Paul Ryan yang juga menjadi pejabat tertinggi Partai Republik Amerika Serikat sebagai "pemimpin yang lemah dan tidak efektif".

Obama, dalam kampanye di Greensboro, North Carolina, pada Selasa malam, mempertanyakan bagaimana politisi senior Partai Republik masih menginginkan Trump menjadi presiden.

"Faktanya, ada orang-orang yang bilang, 'Kami sangat tidak setuju, kami tidak sepakat...tapi kami masih mendukungnya.' Mereka masih berpikir Trump layak jadi presiden, ini tidak masuk akal buat saya," katanya pada publik.

Obama pun mengatakan bahwa komentar Trump yang tidak pantas terhadap perempuan membuatnya tak layak bekerja di toko.

"Kini Anda berada di situasi di mana ada seorang pria yang mengatakan hal-hal yang tak akan ditoleransi bahkan jika Anda melamar pekerjaan di 7-Eleven," katanya/

Beberapa kali Obama diinterupsi oleh orang-orang anti-Clinton, namun dia tak goyah, dan mengatakan, "Inilah demokrasi. Ini bagus."

Hak atas foto Getty
Image caption Pidato Obama sempat diinterupsi beberapa kali oleh kelompok anti-Clinton.

Mereka kemudian dikawal keluar lokasi oleh petugas keamanan.

Video dari 2005 yang dirilis pada Jumat lalu memperlihatkan Trump yang mengatakan bahwa dia berusaha berhubungan seks dengan seorang perempuan yang sudah menikah dan membuat komentar-komentar lain bernada seksual terhadap perempuan.

Hampir separuh dari 331 senator petahana, anggota DPR serta gubernur Partai Republik mengecam komentar Trump dalam video tersebut, dan 10% meminta Trump untuk mengundurkan diri dari pencalonan, menurut kantor berita Reuters.

Pada Senin, Ryan mengatakan dia tidak akan membela Trump atas komentarnya tersebut.

Pada sesama anggota Partai Republik di DPR, Ryan mengatakan dia akan berfokus pada pemilihan anggota kongres untuk memastikan Partai Republik bisa mempertahankan kendali legislatif.

Trump, lewat serangkaian cuitan membalas, bahwa "pasung-pasung telah dilepaskan darinya" sehingga ia dapat "berjuang untuk Amerika Serikat dengan cara seperti yang dikehendakinya".

Meski ada perpecahan di Partai Republik, beberapa anggota Partai Republik berkeras untuk membela Trump.

Gubernur New Jersey Chris Christie mengatakan bahwa dia "sangat terganggu" dengan komentar Trump soal perempuan, tapi masih berencana mendukungnya, dan mengatakan bahwa pemilihan "adalah isu yang lebih besar dari peristiwa itu".

Senator Texas dan mantan rival Trump, Ted Cruz juga mengatakan bahwa dia tetap akan memilih Trump dalam kertas suara, dan mengatakan pada stasiun televisi Texas bahwa Clinton adalah "sebuah bencana".

Polling terbaru dari PRRI/Atlantic menunjukkan Clinton unggul 49-38 dari pesaingnya.

Berita terkait