Duterte sampaikan 'berpisah' dari Washington, AS minta penjelasan

Presiden Rodrigo Duterte dan Presiden Xi Jinping Hak atas foto Getty
Image caption Presiden Rodrigo Duterte bertemu dengan Presiden Xi Jinping dalam lawatan empat harinya di Cina.

Amerika Serikat mengatakan pernyataan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, untuk 'berpisah' dari Washinton bertentangan dengan hubungan baik kedua negara selama ini.

Hal tersebut dinyatakan Presiden Duterte usai bertemu dengan Presiden Cina, Xi Jinping, di Beijing, Kamis 20 Oktober, dalam lawatan selama empat harinya.

"Saya mengumumkan perpisahan dengan Amerika Serikat," katanya, "Amerika tidak mengendalikan hidup kami. Cukup sudah omong kosong."

Hak atas foto Getty
Image caption Bukan pertama kali, Presiden Duterte mengeluarkan komentar kontroversial terkait AS dan Presiden Obama.

Bagaimanapun Kementerian Luar Negeri AS menyatakan akan mencari penjelasan tentang hal yang sebenarnya dimaksud Duterte.

"Aliansi AS-Filipina dibangun atas sejarah 70 tahun, kaya dengan hubungan rakyat antar rakyat dan daftar panjang atas keprihatinan keamanan bersama," kata juru bicara gedung Putih, Eric Schultz, kepada para wartawan.

Penjelasan atas pernyataan Duterte itu agaknya menjadi agenda utama dalam kunjungan Daniel Russel -salah seorang diplomat senior untuk Asia Timur dan Pasifik- ke Manila akhir pekan ini.

Hak atas foto AFP
Image caption Presiden Duterte bertemu dengan Presiden Xi Jinping dalam lawatan empat hari ke Cina.

Bukan pertama kalinya Presiden Duterte mengeluarkan pernyataan keras terkait hubungan dengan Amerika Serikat maupun atas Presiden Barack Obama.

Presiden Duterte bahkan pernah mengumpat Obama sebagai 'anak pelacur' maupun menyuruhnya 'untuk pergi ke neraka'.

Kunjungan Presiden Duterte ke Cina memang tidak hanya dilihat untuk meningkatkan hubungan kedua negara, tapi juga 'menandai pergeseran orientasi' kebijakan luar negeri Manila.

Sebenarnya hubungan Filipina-Cina memburuk terkait sengketa kepemilikan atas Kepulauan Spratly dan Scarborough Shoal di Laut Cina Selatan.

Bulan Juli, Mahkamah Internasional memutuskan untuk mendukung Manila dan menolak klaim Beijing, yang membuat ketegangan semakin meningkat.

Namun belakangan Duterte memperlihatkan nada bersahabat dengan Cina, dan pada saat bersamaan mengecam AS serta negara-negara Barat, yang mengkritik kebijakannya dalam membunuh pengedar narkotika tanpa proses hukum.

Topik terkait

Berita terkait