Myanmar diminta buka pintu bantuan untuk Rohingya

Tentara Myanmar Hak atas foto AFP
Image caption Myanmar mengerahkan pasukan tambahan di Rakhine sejak terjadi serangan terhadap pos-pos penjagaan.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia menyerukan kepada pemerintah Myanmar untuk mengizinkan badan-badan bantuan menyalurkan keperluan pokok ke Negara Bagian Rakhine di Myanmar utara.

Seruan itu disampaikan oleh Amnesty International dan Human Rights Watch (HRW) pada Jumat (21/10).

Mereka meminta pemerintah Myanmar untuk menempuh langkah-langkah lebih besar guna memungkinkan bantuan mencapai penduduk Rohingya dan kelompok-kelompok lain di negara bagian yang bergolak itu.

Menurut PBB, terdapat setidaknya 50.000 warga yang tidak mendapat bantuan makanan padahal sebelumnya sudah dijadwalkan.

Di samping itu, banyak penduduk juga tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dasar.

Kondisi tersebut terjadi setelah daerah di sekitar Maungdaw, Negara Bagian Rakhine, dekat dengan perbatasan antara Myanmar dengan Bangladesh ditutup oleh aparat keamanan pasca serangan terkoordinasi terhadap pos-pos penjagaan pada Minggu (09/10). Sembilan personel polisi tewas dalam peristiwa itu.

Ketegangan

Sejak saat itu, operasi militer di sana dilaporkan telah menewaskan setidaknya 30 orang Rohingya Muslim yang merupakan kelompok minoritas di Myanmar.

Namun karena wartawan dilarang melakukan peliputan di daerah-daerah yang rawan maka jumlah korban di pihak Rohingya tersebut tidak bisa diverifikasi.

Hak atas foto AFP
Image caption Pihak berwenang menuduh kelompok Rohingya sebagai pelaku serangan yang menewaskan sembilan polisi.

Negara Bagian Rakhine sudah lama mengalami ketegangan antara penduduk beragama Buddha dan minoritas Rohingya yang pada umumnya beragama Islam.

Kalangan nasionalis Buddha menganggap etnik Rohingya, yang jumlahnya diperkirakan mencapai satu juta orang, sebagai pendatang dari Bangladesh, walaupun sebagian besar dari mereka telah tinggal di Myanmar selama turun temurun.

Pemerintah Myanmar sejauh ini menolak memberikan status kewarganegaraan kepada mereka. Salah satu akibatnya, banyak orang Rohingya melarikan diri ke luar Myanmar dan mengungsi ke negara-negara lain, termasuk ke Indonesia dan Malaysia.

Topik terkait

Berita terkait