Kehadiran milisi Syiah dan Kurdi di Mosul, Turki 'tidak bisa tinggal diam'

Hak atas foto AFP
Image caption Kehadiran pasukan milisi Syiah dalam operasi militer merebut kembali Mosul dikritik oleh Turki.

Turki menegaskan bahwa pasukannya tidak bisa tinggal diam terkait upaya perebutan kembali kota Mosul dari tangan kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim mengatakan kemungkinan pihaknya akan mengambil tindakan karena Irak dan AS tidak menepati janji.

Dia mengatakan kedua negara itu membiarkan pasukan milisi Syiah dan separatis Kurdi ikut ambil bagian bagian dalam operasi itu.

Sementara itu, Perdana menteri Irak Haider al-Abadi, Sabtu (22/10), mengatakan kepada AS bahwa kehadiran pasukan Turki sejauh ini tidak dibutuhkan dalam operasi tersebut.

"Saya tahu Turki ingin berpartisipasi, dan kami mengucapkan terima kasih. Biarlah masyarakat Irak yang akan menanganinya sendiri," kata Abadi setelah bertemu Menteri pertahanan AS, Ash Carter di Baghdad.

"Jika kami membutuhkan bantuan, kami akan meminta kepada Turki atau negara-negara regional lainnya," katanya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pasukan Irak mengklaim sebagian besar wilayah ISIS di sekitar Mosul.

Operasi militer, yang telah memasuki hari keenam, dilaporkan berjalan sengit, dan pasukan militer Irak mengklaim telah menguasai berbagai wilayah di sekitar Mosul.

Sikap pemerintah Irak yang menolak keterlibatan Turki dalam operasi militer merebut Mosul, menurut para wartawan, dapat menyinggung perasaan Presiden Turki Recip Tayyip Erdogan.

Sebelumnya, Erdogan telah memperingatkan bakal terjadinya pertumpahan darah sektarian jika tentara Irak bergantung kepada pasukan milisi Syiah untuk merebut kembali Mosul, yang sebagian besar dihuni masyarakat Islam Sunni.

Hak atas foto AFP
Image caption Turki juga mempertanyakan kehadiran pasukan Kurdi dalam operasi merebut kembali kota Mosul.

Mosul pernah menjadi bagian dari kekaisaran Ottoman, dan Turki menganggap kota itu memiliki pengaruh kuat dalam masa depan wajah perpolitikan Irak.

Gas beracun

Sementara itu, ratusan orang di Irak dirawat di rumah sakit karena dampak gas beracun setelah pabrik pengelolaan belerang terbakar selama pertempuran dengan kelompok ISIS.

Militer AS mengatakan kelompok ISIS sengaja membakar pabrik tersebut ketika mereka melarikan diri setelah pasukan pro-pemerintah Irak bersiap menguasai Mosul.

Hari Sabtu (22/10) lalu, pasukan AS yang berada di pangkalan di dekat Mosul mengenakan masker untuk melindungi dari gas beracuns tersebut.

Kantor berita Reuters mengatakan 1.000 orang dirawat akibat masalah pernapasan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Serangan pasukan pemerintah Irak di kota Naweran di dekat Mosul.

Pasukan Irak dilaporkan telah memasuki kota Qaraqosh, yang berjarak sekitar 30 km dari Mosul.

Qaraqosh, kota Kristen terbesar di Irak sebelum dikuasaai ISIS, dilaporkan dalam kondisi tanpa penduduk. Pasukan ISIS dilaporkan telah memasang ranjau darat di kota itu yang memgarah ke kota Mosul.

Sementara, pasukan militan ISIS telah melakukan serangan bom bunuh diri di tempat lain.

Jumat (21/10) lalu, mereka menyerang kota Kirkuk, yang berjarak sekitar 170 km dari Mosul, sehingga menewaskan sedikitnya 35 orang dan 120 terluka, menurut sumber-sumber medis.

Topik terkait

Berita terkait