Apa makna penahanan Anas Urbaningrum oleh KPK?

Anas Urbaningrum Hak atas foto Reuters
Image caption Anas Urbaningrum dirinya tidak terlibat dalam korupsi proyek Hambalang.

Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum akhirnya ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi setelah sebelumnya mangkir dari pemeriksaan.

Ia ditahan setelah menjalani pemeriksaan selama sekitar lima jam pada Jumat (10/01) sebagai tersangka dalam proyek kompleks olahraga di Hambalang, Bogor.

Anas sendiri yang menyatakan bahwa ia ditahan KPK. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada presiden.

"Di atas segalanya tentu saya terima kasih yang besar pada Pak SBY, mudah-mudahan peristiwa ini punya arti dan makna dan menjadi hadiah tahun baru 2014," kata mantan Ketua Umum Partai Demokrat itu.

Kasus yang menjerat Anas Urbaningrum bermula saat KPK menangkap mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, pada 2011.

Nazaruddin menuduh sejumlah petinggi Partai Demokrat ikut menikmati uang hasil dugaan korupi proyek Hambalang yang dikatakan untuk biaya pemenangan Anas dalam Kongres Partai Demokrat pada 2010.

Namun Anas menepis tudingan itu.

"Yakinlah Rp1 saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas," ujar Anas sebelumnya.

Komentar Anda

Bagaimana pendapat Anda mengenai penahanan Anas oleh KPK?

Apa makna penahanan itu?

Apakah kasus tersebut kemungkinan akan menguak dugaan korupsi yang lebih besar?

Setelah banyak politikus ditahan atau masuk penjara, bagaimana kepercayaan masyarakat terhadap wakil-wakil mereka menjelang pemilihan umum 2014?

Sumbangan pendapat Anda kami nantikan untuk Forum BBC Indonesia di radio Kamis, 16 Januari 2014, dan juga di online BBCIndonesia.com.

Mohon isi nama dan nomor telepon Anda di kolom bawah untuk kami hubungi guna merekam pendapat Anda.

Komentar juga dapat disampaikan lewat Facebook BBC Indonesia.

Ragam pendapat

Berikut sebagian komentar Anda:

"Di balik penangkapan Anas mungkin akan muncul bebagai polemik politik, politik di Indonesia ini dalam keadaan sangat kritis, sekarang Indonesia bukan lagi dijajah oleh bangsa lain melainkan oleh negaranya sendiri oleh mereka yang berkuasa. Kondisi yang sangat miris." Khoerul Anisa, Cilacap, Jawa Tengah.

"Saya melihat penangkapan Anas menunjukkan bahwa Bapak SBY tampak sebagai bapak demokrasi sekaligus menunjukkan beliau sebagai panglima untuk pemberantasan korupsi. Tidak peduli orang dekatnya sendiri, kalau memang melanggar hukum harus ditangkap dan dihukum." Habib Musthofa, Pasuruan, Jawa Timur.

"Bravo KPK. Kami selalu mendukungmu untuk membesihkan Indonesia dari para "tikus" yang menggerogoti keuangan negara. Dan herannya kenapa semua koruptor yang ditangkap KPK merasa jadi korban atau jadi tumbal dari sebuah konspirasi?" Ono, Berastagi, Kabupaten Karo.

"Dari awal Nazarudin sudah mengisyaratkan bahwa kejahatan yang dilakukan olehnya adalah terorganisir. AU memiliki keyakinan yang PD sekali sehingga dapat berbicara lantang "Gantung di Monas". (backing di atas AU-nya adalah orang kuat)." Herusman Muslim, Tangerang.

"Salut dan bravo untuk KPK. Masak negara kalah dengan seorang Anas Urbaningrum, saya pernah melihat dia setelah ditetapkan menjadi tersangka. Kok masih bisa jalan-jalan ke Menteng Square, di tahun 2013." Armunanto, Jakarta.

"Anas betul-betul seorang politisi yang handal karena dengan tenang mampu menutup segala kegalauannya sambil menabuh genderang perang dengan Cikeas." Rahman Surono, Polewali Mandar.

"Kita lihat selanjutnya, apakah Anas akan bersuara bagaimana sepak terjang Demokrat, sindikat serta keterlibatan Puri Cikeas." Hartono Wijaya Antonov, BBC Indonesia di Facebook.

"Hukum Indonesia mana ada hukum gantung. Anas cuma gertak doang. Waktu jadi anggota KPU dikasih hadiah mobil katanya dibalikin." Dewa Ayu Winarni, BBC Indonesia di Facebook.

"Pertama, menjawab semua pertanyaan tentang keberanian KPK untuk menahan orang yang memiliki hak yang sama di muka hukum persoalan benar atau tidak sebagai koruptor masing-masing punya hak untuk membuktikan. Kedua, kesempatan menjawab kebohongan besar yang ditudingkan oleh Nazaruddin terhadap dirinya, atau sebaliknya menjadi jiwa yang besar mengungkap semua kebenaran bahwa dirinya dan petinggi negara telah secara syah dan bersama-sama menikmati uang haram selama menjadi pengelola kepentingan penguasa, baik tersembunyi ataupun terang-terangan..." M. Saad Ujang, Baturaja Ogan Komering Ulu.