WNI dihukum mati di Saudi, dilema buat Indonesia?

Hak atas foto Amnestry International CIMW
Image caption Praktek hukuman mati di Indonesia, menurut Migrant Care, mengakibatkan pemerintah Indonesia "kehilangan legitimasi moral untuk mendesak negara lain agar membebaskan warga Negara Indonesia yang terancam hukuman mati di luar negeri."

Para pegiat HAM dan aktivis buruh migran mengecam pemerintah Arab Saudi yang telah mengeksekusi seorang pekerja rumah tangga migran asal Indonesia, Siti Zaenab.

Siti Zainab, WNI asal Bangkalan, Madura, kelahiran tahun 1968, dihukum mati karena kasus pembunuhan pada tahun 1999.

Kementerian luar negeri Indonesia mengumumkan, pihaknya menerima Informasi dari pengacara Khudran Al Zahrani bahwa Siti Zaenab dihukum mati di Madinah, Selasa (14/04) pukul 10.00 waktu setempat.

Organisasi HAM Amnesty International menyatakan eksekusi terhadap seseorang yang diduga mengalami gangguan jiwa bertentangan dengan dasar kemanusiaan.

"Praktik ini telah dikecam secara luas di dunia dan Arab Saudi seharusnya menanggapi kesempatan untuk mempertimbangkan kembali kebijakan mengenai hukuman mati", demikian rilis Amnesty International dalam situs resminya.

Hak atas foto Spencer Platt Getty Images
Image caption "Praktik ini telah dikecam secara luas di dunia dan Arab Saudi seharusnya menanggapi kesempatan untuk mempertimbangkan kembali kebijakan mengenai hukuman mati", demikian rilis Amnesty International dalam situs resminya.

Sementara, LSM yang peduli terhadap isu buruh migran, Migrant Care mengatakan, pihaknya mendesak pemerintah Indonesia untuk melakukan persona non grata terhadap duta besar Saudi Arabia untuk Indonesia.

Hentikan hukuman mati di Indonesia

Melalui siaran persnya, Migrant Care juga menuntut agar Pemerintah Indonesia menghentikan praktek hukuman mati di Indonesia.

"Ini sebagai langkah pertama untuk mendesak negara lain agar tidak menerapkan hukuman mati bagi buruh migran," demikian Migrant Care.

Praktek hukuman mati di Indonesia, menurut Migrant Care, mengakibatkan pemerintah Indonesia "kehilangan legitimasi moral untuk mendesak negara lain agar membebaskan warga Negara Indonesia yang terancam hukuman mati di luar negeri."

Sementara itu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian luar negeri menyampaikan protes kepada Pemerintah Arab Saudi terkait hukuman mati tersebut.

Hak atas foto JEWEL SAMADSONNY TUMBELAKASTRBAY ISMOYOMETRO TVSURYO WIBOWOAFPGetty Images
Image caption Sedikitnya tujuh orang warga negara asing menunggu untuk dieksekusi mati oleh otoritas hukum Indonesia.

"Karena (Pemerintah Arab Saudi) tidak menyampaikan notifikasi kepada Perwakilan RI maupun kepada keluarga mengenai waktu pelaksanaan hukuman mati tersebut," demikian isi siaran pers Kemenlu, Selasa (14/04) malam.

Menurut Kemenlu, Pemerintah Indonesia telah melakukan semua upaya secara maksimal untuk membebaskan Siti Zaenab dari hukuman mati, mulai pendampingan hukum hingga pendekatan terus menerus kepada ahli waris korban.

Kemenlu menyatakan, sejak Juli 2011 hingga 31 Maret 2015, Pemerintah Indonesia telah berhasil membebaskan dari hukuman mati bagi 238 WNI di luar negeri.

Sejak Januari 2015, Arab Saudi telah menghukum mati sebanyak 59 orang, dimana 35 orang di antaranya merupakan warga Arab Saudi, dan 25 orang lainnya merupakan warga negara asing.

Menurut LSM Migrant Care, setidaknya sampai April 2015, masih ada 290 buruh migran yang terancam hukuman mati di Malaysia, Saudi Arabia, Singapura, Cina dan Qatar. Dan 59 orang diantaranya sudah divonis tetap hukuman mati.

Apa komentar Anda?

Bagaimana tanggapan Anda terhadap hukuman mati terhadap seorang TKI bernama Siti Zaenab di tengah rencana eksekusi mati terhadap sejumlah warga asing oleh otoritas hukum Indonesia?

Apakah sikap Indonesia yang mempraktekkan hukuman mati itu membuat pemerintah Indonesia kehilangan legitimasi moral untuk mendesak negara lain agar membebaskan WNI yang terancam hukuman mati di luar negeri?

Upaya seperti apa yang dapat dilakukan pemerintah Indonesia untuk membela warga Negara Indonesia yang terancam hukuman mati di luar negeri?

Kirim pendapat Anda lewat indonesia@bbc.co.uk atau lewat Facebook BBC Indonesia maupun Twitter.

Anda juga bisa mengirim pendapat dengan mengisi formulir di bawah.

Hak atas foto AFP
Image caption Eksekusi mati terhadap pekerja rumah tangga migran telah menimbulkan pro dan kontra di masyarakat Indonesia.

Rangkuman pendapat akan disiarkan dalam BBC Dunia Pagi Ini, Kamis 23 April, pada pukul 05.00 WIB.

Ragam komentar

"Indonesia harus konsisten dengan hukuman mati kasus narkoba. Setiap negara punya aturan sendiri, dan harus kita hormati. Kalau ada warga kita yang terkena kasus hukum, negara wajib mengusahakan pembelaan termasuk dengan jaminan uang. Harusnya setiap perbuatan dipikir matang-matang. Dan sudah tahu resiko perbuatannya dengan hukum yangg berlaku di negara tersebut." Rollis W Iskandar, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Saya turut berduka bila ada TKW yang mengalami nasib seperti mbak Zainab. Permintaan pengampunan adalah hak setiap warga negara manapun, tapi itu tak guaranty (dijamin) akan dikabulkan. Di Arab, keluarga majikan (korban pembunuhan) si mati yang menentukan, mau uang atau nyawa... Mau mendesak gimanakalo keluarga si mati tak mau coba.. Sebelum ada kasus narkoba Bali9 pun banyak WNI yang tak bisa lepas dari hukuman pancung. Kenapa baru sekarang di sama-samakan? Lagian kasusnya beda, Mba-nya (TKI Zainab) membunuh karena terpaksa. Tapi bila Narkoba itu pilihan mereka, mau kaya hura-hura jualan narkoba." Nyep Nyep Aungi Sumarto, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Segera eksekusi terpidana narkoba! Masing-masing negara mempunyai kedaulatan hukum yg berbeda". Tuti Ratna Djuwita, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

Hak atas foto AFP
Image caption Kebijakan Indonesia yang mendukung hukuman mati dianggap "melemahkan" legitimasi moral pemerintah Indonesia dalam memperjuangkan WNI yang terancam hukuman mati di luar negeri.

"Hukuman mati di Indonesia adalah layak dan patut didukung masyarakat karena menyangkut masa depan bangsa dan menyelamatkan kita dari racun yang mematikan yaitu narkoba. Sebaliknya hukuman mati yangg diterapkan di Arab Saudi adalah bersifat pribadi karena membunuh yang sebenarnya perlu dipertimbangkan motif alasan pembunuhan itu: apakah pelaku pembunuhan itu melakukan karena terpaksa atau membela diri atau dalam keadaan tidak sadar atau dalam faktor gangguan kejiwaan. Secara khusus kami tidak menolak hukuman mati di Arab, tapi sebenarnya perlu diteliti, disiasati motif pembunuhan itu karena hukuman mati hanya layak pada pihak yang salah yang membunuh dengan berencana dan ada dipihak yg salah." Opek Anakna Dimo, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Kita harus bisa bedain kasusnya, kasus narkoba tidak bisa ditolerir, simpati dengan kasus mbak Zainab." Nunung Noeraini, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Hukuman mati bagi Indonesia merupakan kedaulatan hukum di Indonesia, sedangkan mengusahakan pembatalan hukuman mati bagi WNI di luar negeri adalah kewajiban pemerintah RI. Kalau tidak bisa diusahakan, ya itu hak negara lain. Yang jelas pemerintah RI sudah berusaha mengupayakan penyelamatannya. Yang jelas kalau di luar negeri berhati-hatilah dan jaga diri jangan melanggar hukum di negara setempat." Selamet Supriadi, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Semua itu ya harus dilihat takaran dan ukuran kasusnya dong." Roman Diwangi, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Janganlah memperkeruh keadaan, dengan alasan kemanusiaan. Hukum adalah rambu-rambu untuk mengatur kehidupan agar tercipta kedamaiaan. Jadi kalau ada orang yang dihukum karena melanggar rambu-rambu, apakah salah orang yang menghukum, baik itu hukuman mati sekalipun, itu sah-sah saja, bukan berarti kita tega atau kejam." Ahmad Khoo, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Jangan melihat dari legitimasi moral karena hal ini sangat berbeda dalam sudut pandang tiap orang, apalagi negara. Terkait kasus yg melibatkan WNI hingga berujung hukuman mati tentu semua ada sebabnya. Hukum di negara kita berbeda dengan mereka diluar sana. Harusnya yang dijunjung tinggi adalah legitimasi hukum. Persoalannya di sini adalah pemerintah yang mengemban amanat UU yaitu melindungi segenap WNI baik di dalam maupun di luar negeri masih perlu mempertimbangkan "hukuman mati" yg saat ini dilaksanakan. Biarlah pemerintah kita bekerja menurut apa yg mereka pikirkan. Tentu sebagai warga negara yang baik, kita perlu "mengawasi" apa-apa yang dilakukan pemerintah kita. Semua adalah pilihan, mau menegakkan supremasi hukum atau tidak." Winston Ignatius, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

Hak atas foto AFP
Image caption Keluarga Siti Zaenab, pekerja rumah tangga migran di Saudi Arabia yang dihukum mati.

"Jangan takut legitimasi dan pengaruh yang lainnya.Tetap eksekusi segera Bali nine. Soal TKI di Arab itu memang resiko individu, tetapi RI harus memastikan kepada semua TKI yang legal tentang hukum di negara tersebut." Cholid Sani, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Tak 'kan ada hukuman mati jika tak melakukan kesalahan. Apapun itu. Jangan buat dilema. So hargai hukum negara kita. Dan kita juga menghormati hukum negara lain." Anggita Binti Husain, Komunitas Fabecook BBC Indonesia.

"Indonesia harus tegas dan melanjutkan hukuman mati kepada siapapun. Ini demi memberikan efek jera kepada siapapun yg jelas-jelas merusak dn melanggar negara. Negara lain juga silakan tegakkan hukuman mati sesuai aturan negaranya. Dan ini merupakan peringatan kepada warga negara manapun, termasuk WNI, agar tidak gegabah dalam berbuat." Nagari Jati, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Ironis. Ketika pemerintah kangguru mati-matian memperjuangkan warganya dari hukuman mati (bahkan walaupun mereka kriminal alias penjahat narkoba). Juga Brasil dan lainnya protes hukuman mati terhadap pengedar "klas kakap" narkoba, pemerintah Indonesia malah kecolongan dua orang TKI dihukum mati. Padahal para TKI disebut-sebut sebagai pahlawan devisa. Apalagi Pak Jokowi pernah berjanji saat kampanye akan memberikan perlindungan TKI di luar negeri. Introspeksi, dan NKRI sewajarnya bertindak sebagai pioner untuk menuntut Arab Saudi menghapus hukuman mati dengan cara pancung terhadap para pembunuh level PRT, kecuali penjahat atau pengedar kakap narkoba. Ordinary crime seperti pembunuhan lingkup rumah tangga harus dibedakan dengan special crimepengedar narkoba dengan korban yang puluhan ribu orang. Semoga." Ag Paulus, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Kasus permohonan pengampunan Zaenab itu 'kan sudah diupayakan oleh pemerintah sejak 16 tahun yang lalu, namun selalu gagal. Semua negara memiliki kedaulatan maka hargailah. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun mbak Zaenab, semoga diberi ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan." Sandra Huang, komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Di negara Saudi memang hukumnya darah balas darah, mati balas mati. Sebelum berbuat tidak berfikir. Tidak seharusnya disalahkan pemerintah. Ya mau apa lagi. Menerima kenyataan dengan sabar aja. Semoga keluarganya tabah dan tawakal saja. Insyah Allah Siti Zainab berrada Di Syurga. Amin." Dijot Notang Janos Noputes, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Cinta tanah air jangan diartikan membela setiap WNI meskipun dia bersalah. Salah ya salah, benar ya benar. Media ini berupaya menggiring opini untuk membebaskan warga negara australia yangg divonis mati." Suichi Akai, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Saat kita mengeksekusi WNA, kita minta negara lain menghormati kedaulatan hukum di negara kita. Kini saatnya kita menghormati kedaulatan hukum di negara lain. (Tanpa mengurangi simpati kita buat keluarga almarhum Zainab). Walaupun terasa pahit tentunya". Darwin Rahardja, Komunitas Facebook BBC Indonesia.