Reaksi diplomatik eksekusi mati, kepedulian atau gertak sambal?

Hak atas foto AFP
Image caption Keputusan Indonesia melakukan eksekusi mati terhadap sejumlah warga asing menimbulkan kecaman keras.

Australia dan Brasil mengecam Indonesia atas eksekusi mati sejumlah warga negaranya. Bahkan, Australia langsung menarik dubesnya.

Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, menegaskan hubungan Australia-Indonesia tidak akan bisa sama lagi setelah dua orang warga Australia, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan dieksekusi di Nusakambangan, Jawa Tengah, Rabu (29/04).

"Makanya hubungan dengan Indonesia tidak akan bisa sama lagi. Begitu proses yang terkait dengan Chan dan Sukumaran selesai, kami akan menarik duta besar kami untuk konsultasi," kata Abbott.

Sementara, pemerintah Brasil menyatakan akan mempertimbangkan hubungan dengan Indonesia, menyusul eksekusi terhadap warganya, Rodrigo Gularte, di Nusakambangan, Jawa Tengah, Rabu (29/04).

Gularte merupakan warga negara Brasil kedua yang dieksekusi mati menyusul eksekusi atas Marco Archer Cardoso Moreira pada Januari lalu.

Hak atas foto GETTY IMAGES
Image caption Australia mengancam akan menarik dubesnya dari Jakarta, sementara Brasil mempertimbangkan tidak akan menempatkan dubesnya.

Setelah menarik duta besarnya dari Jakarta, pemerintah Brasil mengatakan tidak berencana untuk menempatkan duta besar pengganti.

“Lantaran permohonan kami mendapat balasan yang tidak memuaskan, kami akan mengevaluasi untuk mempertimbangkan sikap apa yang harus kami ambil terhadap Indonesia mulai sekarang,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Brasil, Sergio Franca Danese.

Sebelumnya, Brasil menarik duta besar dari Jakarta setelah Moreira dieksekusi.

Tidak lama kemudian, Presiden Rousseff juga menolak memberi surat kepercayaan kepada Toto Riyanto yang telah ditunjuk Indonesia menjadi duta besar di Brasil.

Hak atas foto GETTY
Image caption Delapan terpidana mati kasus narkoba telah diekskusi di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu dini hari (29/04) sementara terpidana asal Filipina ditunda.

Pemerintah Indonesia sempat memprotes sikap Brasil yang menunda penyerahan surat kepercayaan tersebut.

Apa komentar Anda?

Ancaman Tony Abbott untuk menarik duta besarnya dari Jakarta diperkirakan akan memanaskan hubungan Australia-Indonesia dalam waktu dekat.

Namun demikian, menurut koresponden BBC di Sydney, Jon Donnison, cepat atau lambat, hubungan kedua negara akan kembali normal.

Soalnya, kata Donnison, Australia memerlukan Indonesia. Sebagian besar dana bantuan Australia mengalir ke ranah anti-terorisme dan memerangi arus imigran di Indonesia.

Hak atas foto AFP
Image caption Ancaman Tony Abbott untuk menarik duta besarnya dari Jakarta diperkirakan akan memanaskan hubungan Australia-Indonesia dalam waktu dekat.

Menurut Donnison, beberapa beberapa bulan ke depan amat mungkin rakyat Australia, termasuk pemerintah Australia, tidak akan ambil peduli tatkala Indonesia kembali mengeksekusi terpidana mati yang tidak berasal dari ‘Negeri Kanguru’.

Bagaimana tanggapan Anda terhadap ancaman Australia dan Brasil yang akan menarik duta besarnya dan kemungkinan tidak akan menempatkan dubes penggantinya di Jakarta?

Apakah ancaman itu akan berdampak negatif atas hubungan Indonesia dan dua negara tersebut?

Apakah keputusan eksekusi mati sepadan dengan keretakan hubungan diplomatik?

Kirim pendapat Anda lewat indonesia@bbc.co.uk atau lewat Facebook BBC Indonesia maupun Twitter.

Rangkuman pendapat akan disiarkan dalam BBC Dunia Pagi Ini, Kamis 7 Mei 2015, pada pukul 05.00 WIB.

Ragam komentar

"Untuk Brasil mungkin hubungan akan berat untuk dilanjutkan dalam waktu dekat dan menengah, namun untuk Australia sepertinya hanya gertak sambal. Australia sangat butuh Indonesia sebagai tameng untuk berbagai kepentingan seperti terorisme, sindikat kriminal internasional, pencari suaka, dll. Jadi kalau sekarang marah wajar tapi kepentingan yang lebih luas akan memaksa kedua belah pihak akan mesra lagi." Khairul Azmi, Sumbawa Barat, Indonesia.

Hak atas foto EPA
Image caption Sebagian komentar berisi kritikan terhadap Perdana Menteri Australia, Tony Abbott.

"Saya dukung Indonesia memberantas narkoba, tapi menyesalkan hukuman mati. Saya tidak mendukung hukuman mati. Sangat disayangkan mereka tidak dapat pengampunan untuk meringankan hukumannya." Hengki Messah, Denpasar, Indonesia.

"Penarikan dubes apapun alasannya adalah hak masing-masing negara, hal tersebut pasti berpengaruh negatif terhadap kondisi hubungan antar negara. Australia dan Brasil pasti serius tentang hal tersebut. Namun sepertinya keputusan tersebut tidak sepadan sebagai reaksi terhadap hukuman mati terhadap kejahatan narkoba!" Syamsul Huda, Depok, Indonesia.

"Masing-masing negara punya pertimbangan sendiri untuk kedaulatan negaranya. Masing-masing negara harus menghargai keputusan Indonesia untuk eksekusi mati bandar atau sindikat narkoba. Untuk efek jera dan takut sindikat tersebut memasuki wilayah Indonesia, saya sangat setuju keputusan Presiden Jokowi. Mudah-mudahan ke depan lebih baik UU mengenai sanksi hukum tentang narkoba di Indonesia, (sehingga) Indonesia bisa bebas dari barang haram tersebut. Amin." Irwen, Pekan Baru, Riau, Indonesia.

Hak atas foto AFP
Image caption Presiden Brasil Dilma Rousseff juga menolak memberi surat kepercayaan kepada Toto Riyanto yang telah ditunjuk Indonesia menjadi duta besar di Brasil.

"Hubungan dengan negara tersebut, takkan lama akan pulih. Sebab mereka membutuhkan Indonesia. Hukuman mati bagi pengedar narkoba, harus dilaksanakan. Pengguna narkoba juga harus dihukum berat. Sebab begitu mudahnya di Indonesia untuk mendapatkan narkoba. Yang sangat memprihatinkan, anak SD saja sudah bisa mendapatkan narkoba. Dan pamerintah harus menambah jumlah aparat kepolisian, melakukan patroli ke tiap-tiap kampung." Ken an, Indonesia.

"Saya pribadi merasa iri sama negara lain: orang bersalah masih saja dibela. Sedang negara kita para TKI yang dipancung, digantung kok negara kita biasa saja. Padahal banyak warga indonesia yg dipancung di negeri orang." War Dono, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Biasa, lagi panas-panasnya. Nanti kalau sudah sepi, semua akan jadi normal. Indonesia sudah menjadi bangsa pemberani. Mari kita kekalkan keberanian sampai bangsa lain betul-betul segan." Atis Newrosel, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Gertak menggertak itu hobi Australia. Kenapa Australia tidak menarik dubesnya dari Singapura? Padahal Singapura juga pernah mengeksekusi warga Australia. Biarin aja ngga usah ditanggepin terlalu serius. Australia dan Brasil seperti anak kecil yang merajuk, nanti dikasih permen baik lagi dia." Aira Fatma, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Gak butuh Brasil dan gak butuh Australia. Nggak punya hubungan diplomatik memang rugi apa?" Audie Michiels, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Aneh, membela penjahat narkoba, tapi urusan diplomatik jadi sasarannya! Ini cuma gertak sambal saja dari Australia, mereka cuma mau ngetes ketegasan Presiden Jokowi sampai dimana." Dewi Yanti Bangka,Komunitas Facebook BBC Indonesia.

'Dulu Dubes Belanda juga ditarik pulang...'

"Dulu dubes Belanda juga ditarik pulang. Tapi gak lama datang bertugas lagi di Indonesia." Grace Kurniawaty, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Sikap yang wajar dari suatu pemerintahan, kalau tidak seperti itu kemungkinan besar mereka tidak terpilih kembali pada pemilu berikutnya. Ini hanya sesaat saja (untuk memuaskan nasionalisme warganya) dan akan normal kembali." Mangapul Sinaga, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Silakan tarik saja semua yang berkaitan dengan Australia, termasuk nama merk ayam yang terkenal di Indonesia yaitu ayam Australia. Stop impor dan ekspor Indonesia-Australia. Saya yakin Australia tidak akan berani. Itu hanya tindakan gertak kuah lodeh. Maksudnya adalah bahwa pemerintah Australia mengambil titik aman dari kecaman rakyatnya sendiri. Padahal dari segi lain Australia sangat membutuhkan Indonesia." Muksalmina Mta, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

Hak atas foto AP
Image caption Eksekusi hukuman mati terhadap sejumlah narapidana narkob juga menjadi sorotan dunia internasional

"Kemunafikannya Indonesia... Ini adalah pemerintah dan rakyat yang menginginkan grasi dan pengampunan untuk tahanan-tahanan warga nasional Indonesia, sedang di Arab Saudi yang sudah dihukum karena pembunuhan, sedang dipenjara di negara itu dan lagi menunggu dieksekusi disana. Namun masyarakat Indonesia tidak mau mengampunkan orang-orang warga asing yang beberapanya sudah bertobat, dan, salah satu mereka jelas punya kelainan mental terus tidak mengerti apa-apa yang terjadi pada dia. Jangan pura-pura bahwa ini persoalan prinsip apa lagi hukuman Indonesia itu sah. Kalian cuma menipu diri kalau begitu. Orang-orang asing itu hanya dieksekusi karena mereka tidak mampu menyogok segala pihak yang menuntut uangnya. Kalian SEMUA tahu kalau Indonesia begini. Jangan sok polos. Apakah keadilan di Indonesia? Yaitu Ujung-Ujungnya Duit." Barry Reid, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Artinya negara luar lebih peduli pada warganya, bukan pada warga negara kita yang jadi korban narkoba. Abaikan saja. Kedaulatan hukum kita, itu suatu bentuk penghormatan mereka pada negara kita." Liung Ketungau, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Hal yang wajar. Paling besok-besok balik." Johar Wadi Jamal, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Satu pelajaran yang saya ambil, terlepas dari polemik ini, negara lain terlihat begitu care sama rakyatnya, walau mereka bersalah sekalipun. Apakah Indonesia bisa tegas terhadap Arab, Malaysia, dan lain-lain, yang kita tahu rakyat kita banyak yang dihukum mati, padahal kejahatan mereka mungkin hanya untuk bertahan hidup dari kekejaman majikan. Oke mari kita amati." Eka Prima, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Asyik..sebentar lagi Jakarta banjir Steak New Zealand deh...bukan Aussie lagi..." Maliky Chandra, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Bodoh amat mau pulang. Emang gue pikirin." Hendri Mangende, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Peta permasalahannya sangat gamblang: Pemerintah dan rakyat Indonesia sedang bekerja keras melawan komplotan kriminal pengedar narkoba, sementara Tony Abbot sibuk menjadikannya sebagai komoditas politik dalam negeri untuk pencitraan. Kalau alasan protesnya substantif HAM dan bukan politis seharusnya dia juga melakukan hal yang sama kepada pemerintah USA, RRC dan Arab Saudi." Mohammad Rusly, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Indonesia dari zaman Majapahit sudah bisa cari makan sendiri, tak ada Australia pun rakyat Indonesia bisa makmur." Asmar Dewa, Komunitas Facebook BBC Indonesia.

"Cuma retorika politis dari petinggi negara-negara penggertak sambel untuk kepentingan politik dalam negerinya aja. Di atas persoalan nyawa warganya yang bandar narkoba jauh lebih penting persoalan-persoalan hubungan bilateral atau internasional terkait dengan potensi ekonomi dan geopolitik bagi masing-masing negara. Biarkan aja, entar juga cepika-cepeki kalau udah urusan fulus...ha-ha-ha." Delmon DM, Komunitas Facebook BBC Indonesia.