Keluarga Sumarti minta terdakwa bankir Inggris diharuskan biayai hidup anak korban pembunuhan itu

Sumarti Ningsih Hak atas foto LILIEK DHARMAWAN / BBC INDONESIA
Image caption Keluarga Sumarti Ningsih, WNI korban pembunuhan di Hong Kong, dan foto anak tersayang mereka.

Keluarga almarhum Sumarti Ningsih, salah satu korban pembunuhan yang digambarkan didahului siksaan di Hong Kong, mengharap pelaku dihukum maksimal dan diharuskan menanggung biaya hidup anak yang ditinggalkannya.

Sidang pengadilan terhadap Rurik Jutting, bekas bankir Inggris yang didakwa membunuh Sumarti Dingsih dan Seneng Mujiasih, dua warga Indonesia yang bekerja di Hong Kong, masih berlangsung.

Dalam sejumlah persidangan, terungkap penyiksaan yang dilakukan Jutting sebelum membunuh kedua korbannya.

Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasaih dibunuh November tahun 2014 lalu di apartemen Rurik Djutting, kawasan Wan Chai, Hong Kong.

Hak atas foto Lilik Darmawan / BBC INDONESIA
Image caption Rumah sederhana keluarga Sumarti Ningsih di luar Cilacap, Jawa Tengah

Anak Sumarti Ningsih, Muhamad Hafiz Arnovan, 7, kini sudah duduk di kelas dua SD Negeri 3 Gandrungmangu, Cilacap, Jawa Tengah.

Ditemui di rumahnya di Dusun Banaran, Desa Gandrungmangu, Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap, ayah almarhum Sumarti Ningsih, Ahmad Kaliman, 61, mengatakan kepada Lileik Dharmawan yang melaporkan untuk BBC Indonesia, bahwa ia mengerti di Hong Kong tak ada hukuman mati, namun mengharapkan hukuman setimpal.

Kaliman menyatakan sangat marah setelah mengetahui bahwa ada penyiksaan terlebih dahulu terhadap anaknya.

"Saya sangat geram, marah dengan kondisi seperti itu. Saya baru diberitahu, bahwa pada saat sebelum pembunuhan anak saya disiksa terlebih dahulu. Itu yang membuat saya semakin tidak terima dan tentu saja sangat sedih," ungkapnya.

Lepas dari apa pun yang dikatakan orang, katanya Sumarti Ningsih berangkat ke Hong Kong untuk mencukupi kebutuhan keluarga yang pas-pasan. "Almarhum berangkat ke Hong Kong, bekerja untuk membahagiakan keluarga dan menuntaskan pendidikan anaknya."

Oleh karena itu, selain meminta agar pembunuhnya dihukum berat sesuai dengan hukum di Hong Kong, keluarga juga mengharap anak Sumarti Ningsih yakni Muhamad Hafiz Arnovan juga diperhatikan. "Kami meminta agar pembunuhnya diharuskan bertanggung jawab terhadap hidup anaknya Sumarti Ningsih. Kami minta agar dia dibiayai pendidikannya sampai selesai kuliah." tandasnya.

Hak atas foto Lilik Darmawan / BBC INDONESIA
Image caption Ahmad Kaliman mengatakan, ia marah mengetahui bahwa Sumarti Ningsih disiksa sebelum dibunuh.

Kaliman mengakui bahwa sepeninggal Sumarti Ningsih, kondisi ekonomi keluarga cukup berat. Sebab, almarhum merupakan tulang punggung keluarga.

"Pada saat bekerja di Hong Kong, Sumarti Ningsih mengirimkan uang sampai Rp5 juta. Uang tersebut digunakan untuk mencukupi kebutuhan seari-hari dan biaya sekolah anaknya. Tetapi kini, saya hanya mengandalkan menggarap sawah dengan hasil yang tidak seberapa," tambahnya.

Kondisi ekonomi keluarga Kaliman terlihat sederhana. Ia harus menghidupi cucunya yang juga anak Sumarti Ningsih serta ketiga anaknya yang hidup di desa setempat. Rumahnya sederhana dan belum berubah sejak dua tahun silam ketika Sumarti Ningsih meninggal.

Suratmi, 51, ibu kandung Sumarti Ningsih, juga mengungkapkan kepedihannya.

Hak atas foto Lilik Darmawan / BBC INDONESIA
Image caption Suratmi selalu datang ke makam, setiap dilanda kesedihan terkait meninggalnya Sumarti Ningsih.

"Sumarti Ningsih sudah pergi dan tidak bisa digantikan. Selama dua tahun sepeninggalnya, kami harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Kami tak cukup penghasilan untuk membiayai pendidikan dan hidup anak Sumarti Ningsih yang masih kelas 2 SD," katanya pilu.

Suratmi mengaku kerap menangis kalau ingat anak perempuannya yang direnggut hidupnya dengan kejam. "Paling-paling kami ke makam dan mengirim dia doa. Semoga dia mendapat tempat yang layak," ujarnya.

Pada Sabtu (29/10) lalu, keluarga menggelar pengajian atau tahilan dalam rangka "mendak pindho" atau peringatan kematian tahun kedua.

"Kami sudah menggelar tahlilan berkali-kali. Pada awal kematian hingga sepekan, kami menggelar tahlilan. Kemudian pada peringatan 40 hari, 100 hari dan setahun atau 'mendak pisan.' Dan 'mendak pindho' ini peringatan dua tahun meninggalnya Sumarti Ningsih. Tidak terasa dua tahun sudah ia meninggalkan kami. Tetapi kalau ingat, saya masih selalu sangat sedih."

Berita terkait