Bankir Inggris akan digugat demi kompensasi keluarga WNI

Hak atas foto Agus Fitra/AP
Image caption Anggota keluarga korban pembunuhan warga Indonesia, Sumarti Ningsih, berziarah di makam mendiang yang terletak di Cilacap, Jawa Tengah. Dari kiri ke kanan, Ahmad Kaliman, ayah Sumarti; Suyit, adik Sumarti; Suratmi, ibu Sumarti.

Organisasi Mission for Migrant Workers (MFMW) tengah menyiapkan tuntutan ganti rugi atas pembunuhan terhadap Sumarti Ningsih di Hong Kong. Sidang kasus pembunuhan Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih yang memunculkan terdakwa Rutik Jutting, seorang bankir asal Inggris, sedang bergulir.

"Kami akan menuntut secara perdata, karena tindakan ini terjadi di Hong Kong, sehingga akan ada kompensasinya. Sekarang kami sedang menyiapkan surat tuntutan itu, dan kami telah mendapatkan surat kuasa dari keluarga terdekat almarhumah Ningsih, yaitu dari orang tuanya, untuk melakukannya," kata Cynthia Abdon-Tellez, General Manager dari MFMW kepada wartawan di Hong Kong, Valentina Djaslim.

Abdon-Tellez menjelaskan, tuntutan uang kompensasi itu berdasarkan Common Law Action, hukum perdata yang biasa diajukan oleh pihak yang cedera atau keluarga mendiang terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Berapa jumlah uang kompensasi yang akan diterima, akan diputuskan langsung Dewan Kompensasi Cedera Kriminal Hong Kong. Termasuk juga, keputusan apakah korban atau keluarganya itu dianggap layak mendapatkan uang kompensasi tersebut atau tidak.

Meski demikian, penuntutan uang ganti rugi karena cedera atau kematian berdasarkan Common Law Action di Hong Kong biasanya dilakukan tidak untuk korban tindak kriminal, tapi untuk korban cedera akibat kecelakaan di tempat umum maupun kecelakaan kerja.

MFMW akan meminta bantuan pengacara publik dari Legal Aid Hong Kong, yang kemudian akan menentukan apa-apa saja yang akan dan bisa jadi pokok-pokok tuntutan tersebut.

"Jadi sekarang ini kami memang masih menunggu hasil keputusan kasus kriminal (di Pengadilan Tinggi) saja. Itu yang akan menentukan bagaimana nantinya klaim kompensasi ini akan kami lakukan," kata Abdon-Tellez.

Hak atas foto JEROME FAVRE/EPA
Image caption Para buruh migran di Hong Kong menuntut kompensasi untuk keluarga korban pembunuhan.

MFMW yang berafiliasi dengan organisasi buruh migran Indonesia bernama Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) di Hong Kong ini, juga telah menggelar aksi simpati terhadap korban pada hari pertama persidangan kasus ini di depan gedung Pengadilan Tinggi, Hong Kong. Selama aksi simpati tersebut, turut ditunjukkan poster-poster seruan bertuliskan "pengadilan yang cepat dan adil" dan "tuntut kompensasi".

Status imigrasi jadi ganjalan

Bagaimanapun, rencana gugatan untuk menuntut kompensasi diperkirakan terganjal lantaran status imigrasi Sumarti Ningsih. Pasalnya, hanya korban yang terbukti tidak melanggar hukum Imigrasi Hong Kong sajalah yang berhak menuntut ganti rugi berdasarkan Skema Kriminal dan Kompensasi Cedera Penegakan Hukum.

Saat menjadi korban pembunuhan di Wan Chai pada Oktober 2014, Sumart Ningsih tercatat masuk ke Hong Kong dengan visa turis. Namun dalam rekaman interogasi polisi Hong Kong pada 2 November 2014, Rurik Jutting mengaku pernah menyewa jasa Sumarti Ningsih di Hotel Ozo, Wan Chai, pada September 2014.

Jutting juga mengaku kembali menawari Ningsih alias Alice uang sebesar HK$12.000 atau sekitar Rp20 juta untuk jasa kencan semalam di apartemen Jutting di Johnston Road pada akhir Oktober 2014.

Hak atas foto DIDA NUSWANTARA/Getty/AFP
Image caption Mendiang Sumarti Ningsih

Pengakuan Jutting ini dapat menjadi bukti bahwa mendiang Sumarti Ningsih melakukan pelanggaran Hukum Imigrasi Hong Kong Pasal 115, yaitu melanggar izin tinggal dengan bekerja menggunakan visa turis.

Status imigrasi korban kedua yaitu Seneng Mujiasih juga bermasalah. Mendiang masuk Hong Kong dengan menggunakan visa kerja sebagai pembantu rumah tangga migran, tapi kemudian berhenti bekerja untuk selanjutnya tinggal di Hong Kong secara ilegal atau disebut dengan istilah overstayer.

"Status imigrasi almarhumah itu adalah masalah lain, hal yang berbeda. Kami juga akan membahasnya dengan pengacara di Legal Aid nantinya," kata Abdon-Tellez, saat ditanya tentang status imigrasi kedua almarhumah.

Abdon-Tellez lantas menegaskan MFMW hanya berencana menuntut kompensasi ganti rugi berdasarkan Common Law Action, dan dengan bukan Skema Kriminal dan Kompensasi Cedera Penegakan Hukum.

Hanya menuntut untuk keluarga Sumarti Ningsih

Saat ini, Abdon-Tellez menyatakan, MFMW hanya mempersiapkan surat tuntutan ganti rugi pembunuhan untuk keluarga Sumarti Ningsih saja. Namun tidak tertutup kemungkinan, organisasi ini juga akan mengajukan hal serupa untuk keluarga dari Seneng Mujiasih.

"Sekarang baru untuk keluarga Nona Ningsih, yang dapat kami hubungi, tapi tidak tertutup kemungkinan seandainya juga untuk (keluarga) korban kedua, jika kami dapat menghubungi," kata Abdon-Tellez.

Keputusan para juri atas sidang kriminal dakwaan pembunuhan terhadap Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih di Pengadilan Tinggi Hong Kong akan diumumkan pekan depan. Para juri akan memutuskan apakah terdakwa Rurik Jutting bersalah atau tidak atas tindakan pembunuhan berencana.

Berita terkait