Menlu Retno akan bertemu Aung San Suu Kyi bahas Rohingya

Retno Marsudi Hak atas foto AP
Image caption Menlu Retno Marsudi menjelaskan pertemuan dengan Suu Kyi adalah bagian dari upaya diplomasi untuk membantu menyelesaikan krisis di Rakhine, Myanmar.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi berada di Naypyidaw untuk membahas situasi di negara bagian Rakhine dengan pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi.

Pertemuan Retno-Suu Kyi dijadwalkan Selasa (06/12) malam waktu setempat, demikian keterangan yang disampaikan Kemenlu di Jakarta.

"Pertemuan dengan State Counsellor Myanmar (jabatan resmi Aung San Suu Kyi) diharapkan akan membawa perbaikan situasi kemanusian dan stabilitas bagi semua komunitas, khususnya komunitas Muslim, di Rakhine," ujar Menlu Retno.

Di Rakhine inilah komunitas Muslim minoritas Rohingya berada.

Situasi di negara bagian di Myanmar barat tersebut dilaporkan mengenaskan setelah terjadi insiden kekerasan pada awal Oktober ketika sejumlah milisi menyerang pos-pos polisi yang menewaskan sembilan anggota aparat keamanan.

Tun Khin, pegiat Rohingya di Inggris mengatakan bahwa orang-orang Rohingya menjadi korban 'kejahatan massal' yang dilakukan oleh aparat keamanan.

Tak lama setelah serangan itu, militer Myanmar menggelar operasi keamanan dan orang-orang Rohingya mengatakan aparat menjadikan semua komunitas Rohingya sebagai sasaran, tanpa pandang bulu.

BBC tak bisa mendatangi kawasan tersebut untuk memverifikasi klaim komunitas Rohingya, sementara pemerintah Myanmar secara tegas membantah telah terjadi penindasan besar-besaran terhadap komunitas Rohingya.

'Pembersihan etnik'

Hak atas foto AFP
Image caption Ribuan pengungsi Rohingya membanjiri Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari aksi-aksi kekerasan yang terjadi di negara bagian Rakhine di Myanmar barat.

Tapi para pejabat PBB kepada BBC mengatakan bahwa orang-orang Rohingya mendapat hukuman secara kolektif atas tindakan beberapa milisi, yang pada akhirnya membuat tindakan pemerintah Myanmar 'tak ubahnya seperti pembersihan etnik'.

Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamian yang naik ke kekuasaan setelah menang pemilu, banyak dikecam karena dianggap tak mengecam aksi-aksi kekerasan yang menimpa anggota komunitas Muslim Rohingya.

Suu Kyi mengatakan diakui ada masalah di Rakhine tapi juga meminta semua pihak untuk fokus menyelesaikan masalah, bukan 'membesar-besarkan masalah di lapangan'.

Ia sendiri sudah membentuk tim investigasi meski tak banyak yang yakin penyelidikan akan berjalan secara independen.

Retno menjelaskan bahwa pertemuan dengan Suu Kyi merupakan bagian dari rangkaian upaya diplomasi Indonesia dalam membantu penyelesaian masalah di Rakhine.Sebelumnya, pada hari Sabtu (03/12), Retno melakukan pembicaraan telepon dengan mantan Sekjen PBB, Koffi Anan, yang sekarang menjabat sebagai ketua komite penasehat penyelesaian masalah di Rakhine.

Juru bicara Kemenlu, Arrmanatha Nasir, dalam kesempatan terpisah mengatakan bahwa pemerintah Indonesia menolak penggunaan militer untuk menyerang warga Rohingya.

"Ibu Menlu (Retno Marsudi) sudah bicara dengan Menteri Dalam Negeri (Myanmar) dan menyampaikan agar Myanmar bisa menegakkan stabilitas di Rakhine. Agar ada perlindungan dan pengormatan HAM atas semua masyarakat di negara bagian tersebut, termasuk minoritas muslim diperhatikan. Agar perdamaian selalu menjadi syarat di Rakhine," kata Arrmanatha.

Topik terkait

Berita terkait