Gempa Aceh: 'Konstruksi tidak beres' penyebab bangunan masjid, pasar, runtuh

Masjid yang roboh di Kecamatan Ulee Gle, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Bangunan masjid Muko Kuthang yang roboh di Kecamatan Ulee Gle, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, akibat gempa.

Sebagian besar korban meninggal dunia dalam gempa di Aceh adalah akibat tertimpa reruntuhan bangunan yang konstruksinya "tidak beres", kata ahli konstruksi.

Taufiq Saidi, pakar konstruksi dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, berjalan di depan Pasar Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.

Raut muka Taufiq kelihatan serius mengamati reruntuhan bangunan di hadapannya, sementara sejumlah mahasiswa didikannya sibuk membuat catatan.

"Sayang sekali struktur bangunan ada yang sudah dihancurkan ekskavator sehingga sulit diteliti," katanya kepada BBC Indonesia.

Selain ke Pasar Meureudu, Taufiq sudah berkunjung ke berbagai bangunan-bangunan yang rubuh setelah gempa melanda Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, dan Bireun.

Dari sana, Taufiq menarik sebuah kesimpulan.

"Saya melihat ada kelalaian," tegasnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Reruntuhan ruko di Pasar Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya

"Kita lihat bangunan-bangunan yang ambruk, termasuk masjid, ada ketidakberesan dalam konstruksinya. Misalnya terlalu banyak campuran air dalam adukan beton, dan sebagainya," katanya.

Taufiq enggan menuding siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas rubuhnya sejumlah bangunan, namun dia menekankan urgensi pengawasan izin pembangunan.

"Kalau kita lihat aturan, di Indonesia sejak 2004 kan ada aturan tentang bangunan tahan gempa. Kemudian ada standar bangunan tahun 2013. Aturan sudah ada, tinggal sekarang bagaimana menegakkan aturan itu. Kita tahu izin pembangunan selama ini tidak menyangkut aspek kualitas gedung. Untuk membangun ruko, misalnya, harus ada IMB dan pengecekan pada desainnya," kata Taufiq.

Taufiq mengingatkan bahwa mesti ada evaluasi dan pembelajaran setelah bencana terjadi.

"Masyarakat Indonesia, atau masyarakat Aceh dalam hal ini, 'kan selalu berkata 'Ini sudah kehendak Tuhan' atau 'Ini takdir' ketika bencana terjadi. Kita lupa untuk mengevaluasi agar dampak bencana bisa diminimalisasi," kata Taufiq.

Bencana faktor utama

Wakil Bupati Pidie Jaya, Said Muliyadi, menepis bahwa ada unsur kelalaian dan kurangnya pengawasan terhadap pembangunan.

"Gempa kita ini 'kan modelnya lain, guncangannya vertikal dari bawah ke atas. Gempa seperti ini tidak pernah terjadi. Tidak ada masalah dengan IMB," kata Said.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Warga mendatangi lagi reruntuhan ruko di Pasar Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.

Dalam perjalanan ke sekitar Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, dan Bireun, saya beberapa kali menjumpai bangunan runtuh.

Masjid Muko Kuthang, Kecamatan Ulee Gle, Kabupaten Pidie Jaya, misalnya, ambruk sehingga bangunan berlantai dua itu nyaris rata dengan tanah.

Meski demikian, rumah-rumah di sekitarnya tetap kokoh berdiri.

"Ini murni karena gempa, bukan faktor lain," kata Abdullah, salah seorang warga setempat.

Ketika ditanya mengapa bangunan di sekitar masjid tetap berdiri tanpa ada retak sedikitpun, dia diam tak menjawab.

Berita terkait