Pilkada DKI: Antara menyukai dan memilih calon

Ahok-Anies-Agus Hak atas foto Getty Images

Dua bulan setelah insiden dugaan penistaan agama terkait surat Al-Maidah, pemilih di DKI Jakarta kembali mementingkan kinerja calon gubernur mereka, menurut laporan terbaru Lembaga Survei Indonesia (LSI).

Survei pada Desember 2016 menunjukkan likeability (tingkat disukai) calon gubernur petahana Basuki Tjahaja Poernama alias Ahok lebih rendah dibandingkan Agus Harimurti Yudhoyono dan Anies Baswedan. Kendati demikian, ia memimpin dalam hal elektabilitas.

Baik tingkat disukai maupun elektabilitas Ahok merangkak naik sejak bulan sebelumnya.

Peningkatan itu, menurut Direktur Eksekutif LSI, Kuskridho Ambardi, dipengaruhi pandangan warga DKI terhadap kinerja Ahok sebagai gubernur serta pemahaman akan janji kampanye Agus dan Anies.

"Kan ada beberapa kemungkinan bahwa misalnya, petahana ini setelah kasus Al-Maidah akan habis. Tetapi rupanya data kita ini menunjukkan belum dan kelihatannya ada rebound (melambung kembali) di sana," kata Kuskridho.

"Loh rupanya sebagian dari publik pemilih itu sudah mulai melihat lagi bahwa kinerja itu penting diperhatikan."

Survei dilakukan terhadap 800 responden dari seluruh kecamatan di DKI Jakarta. Mereka adalah warga berumur 17 tahun ke atas, atau sudah menikah ketika survei dilangsungkan.

Survei memiliki toleransi kesalahan sebesar 3,5% pada tingkat kepercayaan 95%, LSI juga melakukan kontrol kualitas secara acak terhadap 20% dari total sampel, dengan kembali mendatangi responden terpilih, kata Kuskridho atau Dodi.

Tingkat disukai diukur lewat pertanyaan, "Jika tahu atau pernah dengar (nama calon) apakah suka?"

Sebanyak 54% menyatakan suka kepada Ahok. Angka ini lebih rendah dari yang menyatakan suka kepada Agus dan Anies, masing-masing 66%.

Namun demikian, tingkat disukai Ahok itu meningkat 2% dari bulan sebelumnya, sedangkan Agus dan Anies relatif tetap.

Hak atas foto Pemprov DKI Jakarta
Image caption Warga yang sudah menonton rekaman ahli pidato Ahok, cenderung menganggap ucapan Ahok tentang Al-Maidah bukan merupakan penistaan agama.

Dodi menjelaskan bahwa tingkat kedisukaan dijabarkan dengan sejumlah kualitas personal. Menurut persepsi responden, kejujuran dan bersih dari korupsi menjadi syarat paling penting sebagai gubernur; diikuti kualitas mampu memimpin DKI dan perhatian pada rakyat.

Mungkin seperti sudah diduga, Ahok mendapatkan nilai terendah pada kualitas ramah/santun. Akan tetapi ia unggul dalam citra pintar/berwawasan luas, perhatian pada rakyat, jujur/bersih dari korupsi, tegas berwibawa, dan mampu memimpin DKI lebih baik.

Sedangkan citra penampilan menarik Agus melampaui dua calon lainnya. Dan Anies unggul dalam citra ramah/santun.

Dampak Al-Maidah?

Dua bulan setelah meletusnya insiden dugaan penistaan agama terkait ucapan Ahok tentang surat Al-Maidah di Kepulauan Seribu, mayoritas warga DKI masih menganggap ucapan Ahok menista agama.

Namun jumlah itu sedikit menurun dari 62% ke 54% dari bulan November ke Desember, kata Dodi. Penurunan itu dibarengi peningkatan jumlah warga yang telah menonton rekaman video Ahok, dari 44% ke 61%.

"Rekaman asli ini tampaknya membantu warga memahami duduk perkaranya," kata Dodi.

Semakin banyak pula publik yang mendengar permintaan maaf Ahok dan menganggapnya tulus. Semua ini, menurut Dodi, berdampak terhadap dukungan terhadap Ahok dan meningkatnya elektabilitas Ahok dibanding bulan lalu.

Unggul karena petahana

Ketika ditanyai: "Seandainya pemilihan langsung Gubernur dan Wakil Gubernur DKI dilaksanakan sekarang, siapa yang akan bapak/ibu pilih di antara tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur berikut:..." maka sebanyak 31,8% responden menyatakan memilih pasangan Basuki Tjahaja Poernama-Djarot Syaiful Hidayat.

Sebanyak 26,5% memberikan suara untuk Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, sedangkan 23,9% memilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno; 17,7% tidak memberikan jawaban.

Dengan menanyakan alasan memilih nama-nama tersebut, survei menemukan bahwa Agus-Sylvi dipilih terutama karena dinilai tegas/berwibawa. Sedangkan Anies Baswedan dpilih karena dinilai pintar/berpendidikan. Sementara Ahok-Djarot dinilai sudah ada bukti hasil kerjanya.

Dalam hal kinerja, Dodi mengakui Ahok boleh jadi unggul karena merupakan petahana.

"Di negara-negara manapun, petahana punya keuntungan. Ini bukan khas Jakarta, bukan khas Indonesia," kata Dodi.

Survei menunjukkan kepuasan terhadap kinerja Ahok sebagai gubernur mengalami peningkatan dibanding temuan pada bulan sebelumnya; sementara jumlah warga yang menyatakan 'tidak tahu' terhadap janji kampanye Agus-Sylvi dan Anies-Sandi secara umum cukup banyak, di atas 50%.

Image caption Hasil survei menunjukkan sebanyak 17% pemilih saat ini masih besar kemungkinan mengubah pilihan mereka.

Menanggapi temuan itu, jubir tim pemenangan Agus-Sylvi, Imelda Sari mengatakan pihaknya akan semakin getol turun ke lapangan untuk sosialisasi program dalam dua bulan ke depan.

"(Alat peraga kampanye) banner dan segala macamnya itu kan sama KPUD baru dibagikan pada bulan Desember ini. Kita kan enggak boleh mencetak sembarangan... Jadi beda dengan gubernur petahana yang sudah punya program sebelumnya," ujarnya.

Menjelang waktu pemungutan suara pada Februari 2017, survei menunjukkan basis pendukung semakin kuat; dengan kebanyakan pendukung lebih kecil kemungkinan mengubah pilihan mereka. Sebanyak 17% pemilih saat ini masih besar kemungkinan mengubah pilihan mereka, jumlahnya berkurang dari 24% pada November.

Topik terkait

Berita terkait