Islam khas Indonesia 'terancam' pengaruh Timur Tengah

Demonstrasi di Jakarta Hak atas foto ADI WEDA/EPA
Image caption Islam di Indonesia sebelumnya dikenal toleran dan moderat namun kini disebutkan telah mengalami pergeseran.

Pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bahwa orang Indonesia tetap bisa menjadi penganut agama dari luar tanpa meninggalkan jiwa keindonesiaannya menunjukkan kekhawatiran adanya pergeseran dalam kehidupan beragama di Indonesia belakangan terutama di kalangan umat Islam.

Dalam pidato ulang tahun PDI Perjuangan di Jakarta pada Selasa (10/01), Megawati sebenarnya mengulang pernyataan ayahnya, Proklamator RI Bung Karno.

"Bung Karno menegaskan kalau jadi Hindu jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini," kata Megawati.

Pernyataan itu, menurut politikus PDI Perjuangan Zuhairi Misrawi, menunjukkan kekhawatiran bahwa kehidupan Islam khas Indonesa terancam terkikis.

"Itu merespons perkembangan terkini yang terjadi di tengah masyarakat. Munculnya beberapa pihak yang menginisiasi isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan), kemudian sentimen keagamaan, ada sosok yang ingin menjadi khalifah atau imam besar dan lain-lain.

"Kita tahu bahwa mereka ini mempunyai mimpi bagaimana membangun kekhalifahan dari Indonesia sampai Maroko. Itu jelas mengganggu kita sebagai bangsa dan tentu juga mengganggu persahabatan kita dengan negara-negara Muslim yang lain," jelas Zuhairi Misrawi yang juga menjadi salah satu pemikir Islam dari Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Hak atas foto AP
Image caption Megawati mengajak masyarakat untuk mempertahankan Pancasila sebagai fondasi bangsa Indonesia.

Padahal, lanjutnya, kehidupan di Indonesia dilandasi fondasi yang terbukti telah mempersatukan negara itu.

"Jadi apa pun agamanya, apa pun suku dan rasnya, kita harus kembali ke jati diri kita sebagai bangsa yaitu Pancasila. Jadilah orang Islam yang Indonesia, jadilah orang Hindu yang Indonesia, jadilah orang Kristen yang Indonesia yang teguh pada Pancasila," jelas Zuhairi.

'Islam Indonesia'

Dijelaskan oleh Zuhairi bahwa Islam khas Indonesia adalah Islam yang dipraktikkan oleh NU dan Muhammadiyah.

"Islam yang moderat, toleran, memperkokoh ideologi bangsa yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, negara kesatuan Republik Indonesia, UUD 45. Islam yang tumbuh dan lahir dalam tradisi dan budaya Indonesia. Jadi kita tidak perlu mengimpor ideologi-ideologi dari luar."

Hak atas foto Dita Alangkara/AP
Image caption Kelompok anti-Ahok menggelar protes di luar pengadilan ketika gubernur nonaktif DKI Jakarta itu menjalani sidang pada 27 Desember 2016.

Dosen teologi di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Profesor DR. Qasim Mathar mengatakan ajakan yang disampaikan Megawati Sukarnoputri dilandasi kekhawatiran bahwa teologi Wahabi-Salafi, yang berasal dari Timur Tengah, akan didesakkan ke dalam masyarakat Indonesia.

Dan kekhawatiran itu sendiri, tambahnya, antara lain dibuktikan dengan munculnya gelombang demonstrasi besar pada November dan Desember 2016 untuk menuntut pengusutan kasus dugaan penistaan agama Islam yang dilakukan oleh gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

"Sangat kebetulan sekali persolan pidato gubernur DKI Jakarta itu menjadi pintu masuk untuk mereka membesar-besarkan persoalan tersebut."

Menurut Profesor Qasim, jika teologi wahabi salafi sampai berkembang di Indonesia, maka Islam di negara majemuk tersebut akan berkiblat ke Timur Tengah.

"Sementara kita melihat bagaimana Islam di Timur Tengah sekarang ini kita tidak mau mencontoh keadaan masyarakat di Timur Tengah. Meskipun mereka itu adalah saudara-saudara saya, sebagai Muslim tapi saya tahu kalau itu dibawa ke sini itu sangat tidak cocok," ungkapnya dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia Rohmatin Bonasir.

Topik terkait

Berita terkait