Kebutuhan pekerja di Malaysia 'undang' pendatang gelap Indonesia

Johor, Malaysia, Hak atas foto KJRI Johor Baru
Image caption Pencarian korban yang hilang masih diteruskan dengan perkiraan penumpang kapal sekitar 40 orang.

Pencarian masih diteruskan atas warga Indonesia yang hilang karena terbaliknya sebuah kapal di lepas pantai Tanjung Rhu, Johor, Malaysia, dua hari setelah kecelakaan itu.

Hingga Rabu (25/01) sore waktu setempat, sudah ditemukan 16 jenazah (sembilan pria dan tujuh perempuan) dan korban selamat menjadi delapan sedang 13 lainnya melarikan diri.

"Estimasi jumlah penumpang 40 orang, jadi masih ada beberapa yang hilang dan pencarian terus dilanjutkan," jelas Konsul Jenderal Indonesia, Haris Nugroho, di Johor Bahru, kepada BBC Indonesia.

Kapal yang terbalik itu diduga membawa para pendatang gelap, dan 13 orang yang selamat melarikan diri ke dalam kawasan hutang ketika melihat aparat keamanan.

"Begitu laut, pantai, langsung pinggirnya sudah hutan, jadi gampang sekali masuk ke hutang dan menghilang," tambah Haris.

Kebutuhan tenaga kerja

Kecelakaan kapal yang membawa terduga pendatang gelap asal Indonesia dengan jatuhnya korban jiwa cukup sering terjadi, baik dalam perjalanan menuju Malaysia maupun pulang ke Indonesia.

Bulan November lalu, 40 orang hilang di dekat Batam karena kapal yang membawa mereka pulang dari Malaysia tenggelam, sedang bulan Juli lalu, sedikitnya 10 orang Indonesia meninggal dunia dan puluhan hilang karena kapal mereka tenggelam di Pantai Batu Layar, Johor, Malaysia.

Hak atas foto KJRI Johor Baru
Image caption Kondisi sekitar pantai Johor Baru yang dekat dengan hutan diduga membuat para pendatang gelap dengan cepat bisa menghilang.

Sekitar sebulan sebelumnya, Juni 2016, sedikitnya sembilan jenazah warga Indonesia ditemukan dan sekitar 20 lainnya hilang di perairan Malaysia dan Januari tahun lalu kapal yang diperkirakan membawa 30 hingga 35 pekerja gelap asal Indonesia tenggelam dengan sedikitnya 18 orang meninggal.

Para warga Indonesia tersebut menempuh perjalanan laut yang berisiko untuk menghindari pihak berwenang karena tidak memiliki dokumen resmi untuk masuk ke Malaysia.

Perkebunan kelapa sawit, konstruksi, dan pabrik-pabrik di Malaysia yang membutuhkan banyak tenaga kerja disebut mengundang, antara lain warga Indonesia, Bangladesh, Myanmar, dan Vietnam untuk memanfaatkan peluang tersebut.

'Jalan tikus' di Johor Bahru

Negara Bagian Johor, tempat kecelakan terbaru ini dan juga beberapa kecelakaan sebelumnya, sebenarnya bukan tujuan akhir bagi para pendatang asal Indonesia.

"Dari data yang kami temui, ternyata Johor Bahru sebagai titik untuk masuk, karena mungkin kedekatan jarak dengan Batam itu dijadikan untuk titik masuk yang lebih mudah daripada daerah yang lebih jauh ke utara," jelas Haris Nugroho.

Selain jaraknya yang dekat dari Batam -sekitar dua jam perjalanan laut dengan kapal motor- pantai yang panjang di Johor Bahru juga membuat keamanan realtif lebih sulit untuk diawasi.

Sementara walau perjalanan laut dengan melintasi perairan di Selat Malaka lebih aman, sulit ditembus leh pendatang gelap karena penjagaan yang sangat ketat.

Hak atas foto Science Photo Library
Image caption Perkebunan kepala sawit Malaysia merupakan salah satu sektor yang membutuhkan banyak tenaga kerja.

Oleh karena itu, pantai timur di Johor di Laut Cina Selatan menjadi pilihan tujuan para pendatang gelap.

"Beberapa kali kami meninjau yang disebut sebagai jalan tikus itu, yang membentang sekitar 70km, dan di pinggir pantai itu ada kombinasi hutan alam dan perkebunan kelapa sawit yang amat lebat. Sebagian besar sekarang melului jalur itu."

Kondisi itu -tambah Konjen Indonesia di Johor Bahru, Haris Nugroho- membuat para pendatang gelap bisa langsung bersembunyi di dalam hutan sambil berkomunikasi dengan pihak yang diduga sudah mengatur kedatangan mereka.

Jumlah para pekerja gelap asal Indonesia di Malaysia jelas sulit dipastikan namun pada Maret 2016 lalu, Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, mengatakan kepada media terdapat 792.581 tenaga kerja resmi asal Indonesia.

Sementara KBRI di Kuala Lumpur, pada September lalu, memperkirakan terdapat 2,5 juta WNI di Malaysia, dengan 1,3 juta memiliki dokumen dan sekitar 1,2 juta tidak berdokumen dan diduga merupakan buruh migran.

Topik terkait

Berita terkait