'Perpecahan elite eks GAM' warnai Pilkada Aceh

Suasana di Aceh Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Posisi gubernur/wakil gubernur Aceh diperebutkan oleh enam calon.

Walaupun sempat dihantui aksi kekerasan akibat persaingan antar elite eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM) puncak Pilkada Aceh 2017 diperkirakan berjalan lancar.

Dari enam pasangan calon gubernur Aceh, empat di antara mereka adalah bekas elite GAM. Mereka adalah Zaini Abdullah, Muzakir Manaf, Irwandi Yusuf, serta Zakaria Saman.

Zaini adalah mantan orang kedua atau ketiga pimpinan GAM setelah mendiang Hasan Tiro dan Malik Mahmud.

Sementara Muzakir Manaf pernah menjadi Panglima GAM, sedangkan Zakaria Saman adalah eks menteri pertahanan gerakan tersebut.

"(Persaingan politik) itu biasa di mana-mana. Tidak bisa dipungkiri namanya orang ingin menang, tapi 'kan sudah ada pengawas dan KIP (Komisi Independen Pemilu Aceh)," kata Kapolda Aceh Irjen Polisi Rio Septia Djambak, kepada BBC Indonesia di Banda Aceh pada Selasa (14/02).

Kasus kekerasan

Namun demikian, sampai menjelang hari pencoblosan, demikian Kapolda Aceh, tidak ada gejolak politik di wilayah itu.

"Tidak ada gejolak apapun," kata Rio.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Seorang pedagang buah, Marzuki, mengaku tidak ingin hak suaranya hilang sehingga ia akan mencoblos.

Sejak pertengahan 2016 lalu, temuan sebuah lembaga pengamat pemilu menyebutkan setidaknya ada 26 kasus kekerasan di Aceh.

Aceh juga ditempatkan sebagai lokasi paling rawan terjadinya kekerasan, utamanya di wilayah Aceh Timur dan Aceh Utara.

"Intensitasnya dikhawatirkan semakin mendekati hari pencoblosan," ungkap Direktur Eksekutif Perludem, pekan lalu.

Temuan mereka menyebutkan, dalam sejumlah kasus, aktor yang paling banyak terlibat - pelaku dan korban - adalah kader Partai Nasional Aceh (PNA) dan Partai Aceh (PA).

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sejumlah mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka berebut kursi pemerintahan Aceh.

Namun demikian, berdasarkan temuan LSM Perludem, angka itu jauh di bawah jika dibanding pilkada sebelumnya.

"Masih lebih baik dibandingkan dengan pilkada sebelumnya," ungkap Perludem.

Pilkada periode sebelumnya menyebabkan dua orang mantan kombatan GAM meninggal dunia. Sementara, dalam insiden sekarang hanya terjadi luka berat dan ringan.

Bagaimanapun, Kapolda Aceh Irjen Polisi Rio Septia Djambak mengatakan pihak kepolisian tidak mau kecolongan terhadap kemungkinan adanya kekerasan saat pencoblosan atau setelahnya.

"Kita siapkan sekitar 11.000 anggota polisi, dibantu BKO sebanyak 1.900 anggota. Kita juga dibantu TNI," katanya.

Seperti temuan Perludem, Kapolri menyatakan masalah kekerasan menjelang pencoblosan, jauh menurun dibanding pilkada sebelumnya.

"Dibanding sebelumnya, tidak ada gejolak apapun," tandas Rio.

Sikap warga Aceh

Ketika keramaian belum terlihat di jalanan kota Banda Aceh pada Selasa (14/02) pagi, Marzuki, kelahiran 1972, terlihat bersemangat saat ditanya perihal sikap politiknya dalam Pilkada calon gubernur Aceh.

"Saya tidak mau suara saya hilang," kata pria, yang berdagang buah-buahan di ruas Jalan Sukarno-Hatta, di pinggir ibu kota Provinsi Aceh itu.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Zainal Abidin khawatir calon yang dijagokannya mungkin tidak akan menang.

Selasa malam, ayah dua anak ini akan balik ke kota kelahirannya di Pidie Jaya, untuk mencoblos. Kira-kira tiga jalm perjalanan dari ibu kota provinsi.

"Saya sudah punya calon," katanya, tanpa mau menyebutkan namanya. Dia meyakini calonnya itu akan membuat usaha bisnis buah-buahannya - yang dia rintis lima bulan silam - bakal berkembang lebih baik lagi.

Ekonomi

Pagi itu ada satu pembeli di kiosnya - seorang ibu bersepeda motor. "Situasi sekarang sudah membaik, keamanan juga jauh membaik. Tapi saya ingin ekonomi lebih membaik lagi."

Dia kemudian mengingat lagi ketika pekerjaannya dahulu sebagai nelayan tak membuat kehidupan ekonominya membaik. "Tak ada uang untuk perbaiki perahu yang rusak, sementara BBM terus naikā€¦"

Tetapi semua itu sudah menjadi masa lalu, tambahnya. Marzuki meninggalkan pekerjaan sebagai nelayan dan berkelana ke Banda Aceh. "Sekarang sudah berubah. Tak ada lagi konflik. Saya berjualan sampai tengah malam, tak masalah lagi."

Dia juga tidak merisaukan pemberitaan yang menyebut adanya perpecahan di antara elit eks Gerakan Aceh Merdeka, GAM, yang kini berkuasa. "Biasa saja," akunya datar.

Apa yang dilontarkan Marzuki ini jamak terdengar di Aceh, belakangan ini. Beberapa warga yang saya hubungi mengaku situasi keamanan Aceh jauh lebih aman - jika dibanding pilkada sebelumnya, misalnya.

Zainal Abidin, pengemudi becak motor berusia 40 tahun, mengaku lebih memikirkan apakah calon gubernur pilihannya akan meraih kemenangan.

Warga kampung Lamlagang ini mengaku akan memberikan suaranya kepada calon gubernur yang disebutnya pernah membuat kebijakan yang menguntungkan warga klas bawah. "Saya akan pilih dia," kata Zainal.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Muriati menginginkan pemimpin yang memikirkan rakyatnya.

Muriati, 50 tahun, yang memiliki usaha toko kelontong dan menjual BBM eceran ini di Desa Mibo, Banda Aceh, mengatakan, siapapun yang terpilih, harus memikirkan rakyatnya.

"Biar kehidupan kami membaik," kata istri dari M Dahlan ini. Saat saya temui dia tengah menjaga toko kelontongnya.

Siapa raih suara terbesar?

Dalam beberapa hasil survei sejak dua tahun lalu, ada beberapa nama calon gubernur yang lebih sering disebut bakal unggul.

Diantaranya adalah Muzakir Manaf dan Irwandi, walaupun calon lainnya juga mengklaim bakal mendapatkan suara terbanyak.

Nur Zahri, politisi Partai Aceh (PA) dan salah-seorang pimpinan tim pemenangan pasangan Muzakir Manaf-TA Khalid, meyakini calonnya akan meraup suara terbanyak dalam pencoblosan.

"Kami yakin meraup suara sekitar 40%, utamanya dari daerah kantong kami di Aceh Utara dan Timur," kata Nur Zahri kepada BBC Indonesia, Selasa (14/02) siang.

Terhadap tudingan bahwa PA melakukan intimidasi agar masyarakat di wilayah tertentu mendukung Muzakir Manaf, Nur Zahri menggangap tuduhan itu merupakan "intrik" yang dilontarkan para pesaingnya.

Nur Zahri juga meyakini perpecahan di tubuh elit pimpinan eks GAM, tidak akan membuat perolehan suara calonnya menurun.

"Para pendukung kami di bawah sadar sepenuhnya ini masalah pribadi dan bukan ideologis," katanya.

Topik terkait