Perempuan calon 'pengebom' Istana Presiden dihukum tujuh setengah tahun

Dian Yuli Novi berembuk dengan dua kuasa hukumnya dari Tim Pembela Muslim. Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Dian Yuli Novi berembuk dengan dua kuasa hukumnya dari Tim Pembela Muslim, setelah mendengarkan tuntutan jaksa penuntut umum dalam sidang sebelumnya.

Dian Yulia Novita, perempuan yang didakwa sebagai calon pelaku serangan bunuh diri dengan bom panci ke Istana Negara, dijatuhi hukuman 7,5 tahun penjara.

Dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Jumat (25/08), Novi dinyatakan terbukti melanggar pidana terorise.

Dalam sidang sebelumnya, jaksa menuntutnya dengan hukuman penjara 10 tahun.

Novi adalah mantan pekerja migran yang kini sedang hamil sembilan bulan.

Ia adalah perempuan pertama di Indonesia yang mengambil peran sebagai pelaku langsung untuk suatu rencana serangan bom bunuh diri.

Dalam beberapa bulan terakhir, pengadilan negeri Jakarta Timur menyidangkan 44 terdakwa terorisme, empat di antaranya perempuan.

Bulan Desember lalu ia ditangkap di rumah kosnya di Bekasi, dengan dengan bom seberat tiga kilogram yang disebutkan oleh pengadilan, disiapkan untuk serangan ke Istana Negara yang direncanakan berlangsung keesokan harinya.

Hak atas foto AFP
Image caption Mabes Polri menduga Dian berniat menjadi 'pengantin' atau calon 'pelaku bom bunuh diri' dalam teror bom panci yang menargetkan Istana Kepresidenan.

Disebutkan, Dian menyasar Pasukan Pengamanan Presiden sebagai korbannya.

Bom panci yang akan diledakkan Dian dibuat oleh suaminya, Nur Solihin.

Dian menikah dengan laki-laki asal Solo, Jawa Tengah, itu Oktober 2016. Nur lantas membaiat Dian untuk setia kepada ISIS di sebuah hotel di Cirebon, Jawa Barat, sebulan setelahnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Empat terdakwa kasus bom panci, Agus Supriadi, Nur Solihin, Tutin Sugiarti, dan Dian Yuli Novi, mendengarkan tuntutan jaksa penuntut umum.

Institute for Policy Analysis and Conflict (IPAC) menyebut perempuan pertama yang dinyatakan bersalah pada kasus terorisme di Indonesia adalah Munfiatun. Ia adalah istri Noordin Muhammad Top, otak sejumlah teror bom, antara lain di Hotel Marriot dan Kedutaan Besar Australia di Jakarta tahun 2003.

Munfiatun divonis bersalah karena membantu Noordin Top dan satu pelaku teror lainnya, Azhari Husin, melarikan diri dari pencarian kepolisian. Ia dijatuhi penjara selama tiga tahun sebelum bebas tahun 2006.

Selain Munfiatun, IPAC mencatat terdapat sejumlah perempuan yang pernah diadili dalam kasus terorisme, antara lain Putri Munawaroh dan Denny Carmelita.

Hak atas foto AFP/MALIQI
Image caption Rumah kos Dian Yulia Novi, perempuan pertama terduga calon 'pengebom bunuh diri'.

Putri adalah istri Susilo, seorang pengikut Noordin Top, sedangkan Denny merupakan istri Pepu Fernando, pelaku bom termos yang mengincar rombongan Susilo Bambang Yudhoyono pada 2009, yang kala itu menjabat Presiden Indonesia.

"Meningkatnya keinginan perempuan mengorganisasikan grup-grup di media sosial, menggalang dana untuk aksi teror dan menyediakan perlengkapan logistik bagi gerakan pro-ISIS tidak hanya menunjukkan eksploitasi ekstremis laki-laki terhadap perempuan tapi juga kemauan kuat para perempuan itu untuk dikenal sebagai pejuang jihad," tulis IPAC dalam laporannya.

Topik terkait

Berita terkait