Suku bunga acuan BI turun: Apa manfaatnya bagi warga biasa?

bank indonesia Hak atas foto Antara/Reuters
Image caption Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardoyo, mengumumkan penurunan suku bunga acuan BI sebesar 4,5%.

Akhir-akhir ini, Rian lebih banyak menghabiskan waktu membaca surat kabar dan mengobrol dengan sesama pedagang di pusat jual-beli emas, Cikini, Jakarta Pusat.

Baginya itu lebih menghibur ketimbang meratapi nasib karena tidak ada orang yang datang bertransaksi.

"Omzet saya berkurang 40% selama setahun terakhir. Bayangin sudah siang begini tidak ada satu orang pun yang mampir dan keadaannya sehari-sehari seperti ini," keluh Rian.

Dahi di wajahnya langsung mengernyit ketika ditanya apakah berminat meminjam uang dari bank mengingat Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan dari 4,75% menjadi 4,5%.

"Dengan menurunnya suku bunga, nggak ada pengaruhnya. Semua lagi drop, lagi lesu, lagi pada teriak semua. Uang nggak muter. Daya beli bener-bener jatuh. Nggak ada yang bakalan minjam untuk perputaran modal, nggak kuat mulanginnya," kata Rian.

Di luar pusat jual-beli emas, ada Ujang yang sedang duduk terpekur. Dia langsung mendesah panjang saat saya bertanya apakah dia berminat untuk meminjam uang dari bank untuk keperluan konsumsi.

"Minjam sih bisa, tapi mulanginnya bingung. Nambah beban aja. Kalau seimbang pengeluaran dengan pendapatan sih boleh aja," cetusnya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Seorang calon konsumen mencoba jilbab di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Sejumlah pedagang mengaku tidak berani meminjam uang dari bank untuk menambah modal usaha karena sepi pembeli.

Pangkas bunga

Pada Selasa (22/08), Bank Indonesia memutuskan memangkas suku bunga acuan 7-Days Reverse Repo (7DRR) Rate sebesar 25 basis poin dari sebelumnya 4,75% menjadi 4,5%.

Selain itu, suku bunga deposit facility turun 25 basis poin menjadi 3,75% dan lending facility turun 25 basis poin menjadi 5,25%.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan langkah ini diharapkan dapat menurunkan bunga kredit perbankan sehingga mendorong konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.

Namun, apakah pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia serta merta menurunkan suku bunga kredit perbankan? Secara teori, menurut Winang Budoyo, kepala ekonom Bank Tabungan Negara, mengatakan hal itu bisa saja terjadi.

Pemangkasan suku bunga acuan bakal mendorong penurunan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N) dan bisa merembet pada turunnya suku bunga deposito.

Selanjutnya itu akan mempengaruhi turunnya biaya dana perbankan (cost of fund) dan memberikan peluang untuk menurunkan suku bunga kredit perbankan.

"Masalahnya, ada di waktu. Perlu waktu yang lama agar penurunan suku bunga acuan BI berdampak pada bunga kredit perbankan. Yang kedua, kalaupun turun, besarannya tidak sebesar penurunan suku bunga acuan BI. Sejak awal 2016, BI telah menurunkan 170 basis poin. Pada saat yang sama, bunga kredit perbankan baru turun 100 basis poin atau 1%," papar Winang.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kepala ekonom Bank Tabungan Negara, Winang Budoyo, mengatakan kalangan menengah ke bawah mengalami penurunan daya beli dan kalangan menengah ke atas mengubah pola konsumsi.

Winang juga pesimistis penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia akan mendorong khalayak untuk meminjam uang dari bank.

Dia merujuk data Bank Indonesia per Juni 2017, bahwa pertumbuhan kredit perbankan hanya tumbuh 7,8%, lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya 8,7%.

Rendahnya permintaan kredit perbankan dari khalayak umum dipicu beberapa penyebab.

"Kalangan menengah ke bawah mengalami penurunan daya beli. Sementara kalangan menengah ke atas mengubah pola konsumsi. Mereka memilih menabung uang karena was-was atas kondisi ekonomi di kemudian hari," kata Winang.

Karena itu, Winang menilai langkah Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan bersifat psikologis demi memberi kepercayaan kepada masyarakat.

"Yang perlu dijaga adalah keyakinan masyarakat untuk tetap berbelanja supaya ekonomi tetap berjalan," ujarnya.

Harapan agar masyarakat Indonesia tetap berbelanja juga diutarakan CEO Home Credit Indonesia, Jaroslav Gaisler.

"Dengan adanya penurunan suka bunga ini, diharapkan akan membuat lending rate dari perbankan semakin kompetitif dan memicu pertumbuhan kredit. Secara umum kebijakan ini diharapkan mampu merangsang daya beli yang berujung kepada peningkatan konsumsi masyarakat di dalam negeri," sebutnya dalam pernyataan kepada BBC Indonesia.

"Dan seperti kita ketahui bersama, konsumsi domestik masih menjadi tulang punggung dan kontributor utama bagi perekonomian Indonesia,"

Hak atas foto EPA
Image caption Agar ekonomi bisa berjalan, Enny Sri Hartati selaku pengamat ekonomi dari INDEF, mengatakan pemerintah perlu memperhatikan sektor fiskal dengan memberi insentif kepada pelaku usaha kecil dan menengah.

Kebijakan fiskal

Enny Sri Hartati, pengamat dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menyamakan kebijakan Bank Indonesia dalam menurunkan suku bunga acuan dengan memberi gula-gula kepada masyarakat.

"Ibaratnya mobil, BI menekankan pada remnya agar ekonomi tetap stabil dan inflasi tidak naik. Kalau inflasi terkendali, daya beli masyarakat terjaga. Tapi masalahnya, karena ada perlambatan pertumbuhan ekonomi, diperlukan akselerasi," kata Enny.

Agar mobil bisa 'digas', menurut Enny, pemerintah juga perlu memperhatikan sektor fiskal dengan memberi insentif kepada industri serta usaha kecil dan menengah.

"Selain mengeluarkan kebijakan moneter, pemerintah harus memperhatikan perizinan, bahan baku, penyediaan listrik, infrastruktur, dan sebagainya."

Dalam pidatonya beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo akan menggelontorkan sekitar sepertiga Rencana Belanja Negara 2018 untuk transfer daerah dan dana desa demi pemerataan ekonomi.

Topik terkait

Berita terkait