Aksi ormas Islam dekat Borobudur: "magnet Rohingya bisa lebih kuat dari kasus Ahok"

Getty Images Hak atas foto Getty Images

Sejumlah ormas Islam berencana melakukan salat Jumat untuk Rohingya di dekat Candi Borobudur, dengan mengatasnamakan diri sebagai alumni 212 - nama aksi yang dilakukan Desember lalu terkait kasus penistaan agama yang melibatkan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

Kepada BBC Indonesia, koordinator aksi Anang Imanudin mengatakan mereka akan melakukan salat Jumat bersama di Masjid An Nur, dua kilometer dari kompleks candi, untuk selanjutnya melakukan doa bersama, tausiyah dan penggalangan dana.

Pihak kepolisian dengan tegas melarang aksi apapun di situs bersejarah Candi Borobudur, namun belum berkomentar terkait aksi salat Jumat di masjid dekat candi. Kantor berita Antara menyebut kepolisian daerah Jawa Tengah menetapkan siaga I dari Kamis (07/09) hingga Sabtu (09/09) terkait aksi ini.

Suasananya sejuk dan damai, klaim Anang yang menyebut ada 300 ormas dan laskar dari berbagai daerah di Indonesia yang sudah menyatakan hadir.

Dia menampik tuduhan bahwa pihaknya ingin menyudutkan umat Buddha di Indonesia. Sebelumnya, ada informasi yang berbedar di media sosial mengklaim bahwa aksi itu ingin 'mengepung Candi Borobudur.'

"Tuntutannya kami ingin pemerintah Indonesia bersikap tegas, usir duta besar Myanmar dari Indonesia, memutus hubungan bilateral dengan Myanmar, dan menggugat PBB dan organisasi HAM internasional," jelasnya. Lokasi dekat candi dipilih, menurutnya, karena ingin menarik perhatian dunia.

Hak atas foto Anang Imanudin
Image caption Alumni 212 mengklaim aksi di dekat Candi Borobudur bukan untuk sudutkan

'Magnet yang lebih besar dari kasus penistaan agama'

Anang menyebut bahwa gerakan ini diinisiasi oleh sejumlah alumni gerakan 212 - sebuah aksi protes besar-besaran di Jakarta terkait kasus penistaan agama yang membelit Ahok dalam masa pilkada.

Sedemikian terinspirasinya, mereka ingin konsep yang sama ditiru di Yogyakarta dan malah menganggap aksi ini harusnya bisa setidaknya menyamai 212.

"Ini hasil dari gelombang perasaan yang sama, saya pikir saya cukup opimistis, kemarin saya di telpon itu menangis, dari berbagai penjuru telepon saya mereka membayangkan kekejaman itu apabila itu terjadi kepada orang tuanya kepada anaknya. Mereka tergerak untuk benar-benar memprotes ini," papar Anang.

"Sehingga magnet ini sangat kuat, bahkan ini bisa lebih kuat dari magnet ketika Ahok hanya menghina Al-quran waktu itu."

Jadi apakah Anda merasa aksi ini harusnya jauh lebih besar dari aksi 212?

"Ini sudah kejahatan kemanusiaan dan ini riil terjadi pembantaian yang biadab. Besar tidaknya saya kira relatif juga. Semua porsi masing-masing, kalau itu kan Alquran juga, saya juga tidak bisa mengatakan bahwa Alquran lebih tidak lebih penting dari pembantaian. Tapi ini magnet yang besar juga untuk orang berpartisipasi," aku Anang.

Topik terkait

Berita terkait