Plagiarisme di ’puluhan universitas’ sudah mengarah ke ‘jual-beli ijazah’

ijazah, plagiarisme, pendidikan, universitas

Indikasi penjiplakan atau plagiarisme disertasi S3 telah mengarah pada dugaan praktik jual-beli ijazah di puluhan universitas di Indonesia.

Supriadi Rustad, pimpinan tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, mengatakan pihaknya melakukan penyelidikan di berbagai universitas selama dua tahun.

Dalam penyelidikan tersebut, pihaknya menemukan indikasi penjiplakan yang sedemikian 'sistematis dan masif' di puluhan kampus.

"Ini bukan lagi soal plagiarisme, tapi esensinya soal jual-beli ijazah. Ada dosen yang dalam waktu delapan bulan bisa meluluskan ratusan doktor. Itu nggak masuk akal dan itu pasti jual-beli (ijazah), pasti. Profesor hebat di ITB saja paling bisa meluluskan dua hingga tingga doktor," kata Supriadi kepada BBC Indonesia.

Temuan tim EKA berawal dari kejanggalan-kejanggalan pada sejumlah disertasi lulusan strata tiga atau S3 dalam format dokumen komputer. Supriadi Rustad mengatakan kejanggalan yang dimaksud terdapat pada jejak data dokumen disertasi.

Dia mencontohkan sejumlah disertasi diciptakan hanya dalam interval beberapa jam dan rampung dalam hitungan hari. Kejanggalan lainnya, disertasi milik beberapa sarjana di sebuah universitas diketik di komputer yang sama.

"Loh ini kok aneh, ada lima orang kok sumbernya dari komputernya yang sama? Bisa jadi mereka menggunakan jasa pengetikan atau menitipkan ke anak buah," kata Supriadi, seraya merujuk disertasi milik beberapa pejabat daerah.

Masih ada lagi masalah menyangkut isi berbagai disertasi tersebut karena, seperti dijelaskan Supriadi, pihaknya menemukan bahwa isi sejumlah disertasi hasil 'mencomoti' sumber-sumber terbuka di internet.

"Isinya mencomoti blog-blog di internet, jadi tinggal copy-paste. Saya menemukan ada disertasi yang mengambilnya sadis. Satu kalimat kan mestinya selesai. Tapi mungkin karena tergesa-gesa, dipotong nggak lengkap. Jadi kalau baca disertasinya sebal karena kalimatnya nggak selesai," kara Supriadi.

Hak atas foto UNJ
Image caption Salah satu institusi yang terindikasi meloloskan disertasi-disertasi yang diduga hasil plagiarisme adalah Universitas Negeri Jakarta, UNJ.

Dugaan praktik jual-beli ijazah

Salah satu institusi yang terindikasi meloloskan disertasi-disertasi yang diduga hasil plagiarisme adalah Universitas Negeri Jakarta, UNJ.

BBC Indonesia memperoleh soft copy sejumlah disertasi karya lulusan S3 universitas tersebut yang pada beragam bagiannya sama persis dengan karya orang lain di blog-blog internet, semisal jurnalskripsitesis.wordpress.com, scribd.com, dan academia.edu.

Bahkan, ada disertasi yang memindahkan sebagian isi karya ilmiah mahasiswa D3 Kebidanan di Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Namun, temuan itu hanyalah sekelumit dari banyak temuan lainnya.

Tim EKA mendapati bahwa disertasi-disertasi yang diduga karya plagiarisme itu diloloskan dosen-dosen tertentu, termasuk Rektor UNJ Profesor Doktor Djaali. Pada 2016 saja, yang bersangkutan meloloskan 118 mahasiswa S3.

Ketika dimintai konfirmasi atas temuan tim EKA, Rektor UNJ, Prof. Dr. Djaali menolak. "Ndak, ndak bisa. Kita sedang sibuk, sedang rapat," cetusnya.

Merasa diperlakukan tidak adil

Lepas dari penolakan Rektor UNJ, Ikatan Alumni Pascasarjana universitas tersebut telah bersuara melalui surat kepada Presiden Joko Widodo tertnggal 29 Mei 2017.

BBC Indonesia memperoleh salinan surat itu dan menemukan bahwa Ikatan Alumni Pascasarjana UNJ 'merasa diperlakukan tidak adil oleh Kemenristekdikti yang mencari kekurangan dan kelemahan penyelenggaraan S3 UNJ dengan cara yang tidak pantas'.

Hak atas foto iStimewa

Menanggapi hal ini, Supriadi Rustad mengklaim temuan kejanggalan sejumlah disertasi di UNJ sejatinya telah diketahui pihak kampus.

"Dua kali kita berkunjung. Mereka juga telah menandatangani berita acara, setuju dengan temuan-temuan itu. Tapi ketika ada wacana sanksi, mereka mulai menyangkal. Tapi itu hak mereka, nggak apa-apa," kata Supriadi.

Tidak semua elemen di dalam UNJ keberatan dengan penyelidikan tim EKA. Aliansi Dosen UNJ yang dipimpin Robertus Robert, mendukung pemberlakuan sanksi terhadap universitas.

"Pelakunya, baik yang menerima gelar maupun yang memberi harus diberi sanksi sehingga martabat UNJ pulih," ucapnya.

Robertus juga menghendaki pembentukan panel etika di UNJ untuk mengawasi karya-karya akademik dan proses akademik sehingga karya ilmiah tidak lolos dengan mudah.

Pencabutan ijazah

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 17 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi, sarjana yang diketahui melakukan plagiarisme dikenai sanksi pembatalan ijazah.

Bagaimanapun, keputusan ini masih menunggu sikap Menristekdikti Mohamad Nasir.

Pasalnya, kepala tim independen buatan Kemenristek Dikti, Ali Ghufron, mengatakan pihaknya masih harus melakukan kajian dengan melibatkan pakar plagiarisme yang tersebar di sejumlah universitas di Indonesia.

Hak atas foto Kemenristekdikti
Image caption Keputusan sanksi soal dugaan plagiarisme masih menunggu keputusan Menristekdikti Mohamad Nasir.

Lepas dari keputusan Menristekdikti, indikasi penjiplakan atau plagiarisme disertasi S3 yang mengarah pada dugaan praktik jual-beli ijazah seharusnya menjadi dorongan untuk membenahi sistem pendidikan.

Supriadi Rustad dari tim EKA bentukan Kemenristekdikti mengamini bahwa perlu pengawasan lebih jauh terhadap kelas-kelas khusus untuk mahasiswa S3 yang meluluskan hanya dalam waktu dua hingga tiga tahun. Pasalnya, kelas-kelas khusus ini patut dicurigai sebagai bagian dari praktik jual-beli ijazah.

Lainnya, perlu ada pembinaan mengenai haramnya plagiarisme sejak usia dini.

Itje Chodidjah -praktisi pendidikan sekaligus dosen di Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, Jakarta- menilai guru-guru di sekolah dasar hingga menengah belum menekankan bahwa mengambil buah pemikiran orang lain tanpa menyebut sumbernya sejatinya tidak diperbolehkan.

"Sejak SD, sikap ini tidak menjadi bagian utama yang terus-terusan ditekankan. Yang penting anak mengambil bahan dari internet, dikumpulkan, sudah cukup. Anak ini kan terpola cara berpikirnya, bahwa mengambil buah pemikiran orang lain dalam bentuk tulisan atau bentuk apapun tanpa menyebut sumbernya adalah hal biasa," papar Itje.

Topik terkait

Berita terkait