KPK hibahkan rumah rampasan terpidana koruptor jadi museum batik

Rumah koruptor Hak atas foto Fajar Sodiq

Ini mungkin bukan peristiwa yang terlalu sering: rumah mewah rampasan kasus korupsi diserahkan KPK kepada pemerintah kota Solo, dan diubah menjadi museum batik.

Ketua KPK Agus Raharjo mengatakan bangunan rumah dan tanah tersebut disita setelah mantan Kakorlantas Irjen Pol Djoko Susilo dinyatakan terbukti melakukan korupsi dalam kasus simulator SIM.

"Setelah kita inventarisasi, aset milik Pak Djoko Susilo dan salah satu asetnya di sini, berupa gedung dengan luas tanahnya 3.077 meter persegi. Sedangkan bangunan rumah memiliki luas 597,57 meter persegi," katanya usai melakukan prosesi serah terima aset rumah di Sondakan, Solo, Selasa (17/10).

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mengatakan Pemkot Solo telah lama mengajukan permohonan supaya bisa mendapatkan hibah rumah sitaan KPK untuk menjadi museum batik.

"Permohonan itu sudah diajukan sejak empat tahun silam dan baru terealisasi hari ini. Selain difungsikan sebagai museum batik, bangunan ini juga akan menjadi workshop untuk kerajinan batik seperti proses membuat batik," kata dia.

Dilaporkan wartawan Solo, Fajar Sodiq, penyerahan hibah kepada Pemkot Solo dilakukan oleh Ketua KPK, Agus Raharjo kepada Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo ditandai dengan penyerahan kunci rumah dan penandatangan berita acara.

Nilai tanah dan bangunan itu ditaksir mencapai Rp49 miliar.

Ketua KPK Agus Rahardjo menjelaskan objek bangunan rumah sudah menjadi barang rampasan milik negara, dan sudah berkekuatan hukum tetap berdasarkan putusan Mahkamah Agung Nomor 4 Juli 2014.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo menerima hibah dari Ketua KPK Agus Rahardjo, dan mengatakan bahwa Pemkot Solo telah lama mengajukan permohonan untuk mendapatkan hibah rumah sitaan KPK itu.

Rumah mewah itu adalah rampasan harta kasus korupsi yang disita pada tahun 2013 dari mantan Kakorlantas Irjen Pol Djoko Susilo terletak di Jalan Kebangkitan Nasional No 70, Sondakan, Laweyan, Solo. Letak rumah bergaya campuran indische dan Jawa itu tidak jauh dari Kampung Batik Laweyan.

Agus menyebutkan penyerahan itu dilakukan setelah mendapat persetujuan Presiden Joko Widodo.

Namun Agus menegaskan aset yang dihibahkan kepada Pemkot Solo itu hanya berupa tanah dan bangunan rumah. Sedangkan isinya yang termasuk barang yang dirampas untuk negara hanya lampu-lampu saja.

"Lainnya: tempat tidur, perabotan, meja, jam dan lainnya tidak termasuk yang dirampas," jelasnya.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Rumah besar dengan halaman luas itu dtaksir bernilai setidaknya Rp49 miliar.

Langkah awal yang akan dilakukan Pemkot Solo, menurut wali kota yang akrab disapa Rudy itu, adalah mempersiapkan anggaran tahun 2018 untuk perawatan dan kegiatan di lokasi tersebut. Museum batik akan berada di bawah Dinas Kebudayaan melalui UPTD Museum.

"Nanti kami juga menyiapkan kurator batik. Dalam tahap awal nanti mungkin akan ada kegiatan festival wayang bocah atau karawitan di sini," jelasnya.

Irene Putri, Koordinator Unit Labuksi (Pelacakan Aset Barang Bukti dan Eksekusi) KPK menjelaskan bangunan di Solo menjadi salah satu objek yang berhasil diselamatkan. Menurutnya, hingga saat ini terhitung Rp300 miliar berhasil diselamatkan dari aset senilai Rp600 miliar yang disita.

"Aset yang diselamatkan ini tidak hanya berupa uang, ada juga rumah dan SPBU. Aset tersebar di beberapa daerah, ada di Yogya, Solo dan Jakarta," jelas Irene.

"Dari Rp300 miliar yang diselamatkan ada yang sudah disetorkan ke negera dan ada yang baru proses lelang."

Topik terkait

Berita terkait