Uang palsu ratusan juta rupiah disita, sindikat 'segera dapat muncul kembali'

uang palsu
Image caption Terduga pembuat uang palsu yang ditangkap Bareskrim Polri, memiliki 'pabrik' di Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Polri menangkap enam orang yang diduga sebagai anggota sindikat uang palsu. Penangkapan ini diklaim kepolisian memutus rantai kejahatan peredaran uang palsu.

Namun, seorang pengamat ekonomi menegaskan kondisinya tidak segampang itu: sindikat dapat muncul kembali dengan cepat.

Menurut pengamat ekonomi, Drajat Wibowo, meskipun proporsi peredaran uang palsu saat ini terus mengalami penurunan, kalau pelaku "tidak digencet dari awal, peredaran akan bisa terjadi lagi dengan cepat."

"Uang palsu ini seperti api di hutan yang kering. Tahu-tahu beredar banyak sekali. Apalagi kalau tekanan dari pendekatan hukum dilonggarkan, sindikat akan merasa bebas dan tumbuh eksponensial," kata Drajat kepada BBC Indonesia, Rabu (18/10).

Menurutnya, tidak gampang memberantas sindikat uang palsu di Indonesia, karena berbagai tindak kriminal lain yang terkait dengan uang palsu, "tumbuh subur di Indonesia", misalnya narkoba dan berbagai kasus pencucian uang.

Image caption Tiga dari enam terduga pelaku pemalsuan uang, saat konferensi pers di Bareskrim Polri, Rabu, (18/10).

Sebelumnya Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menangkap enam orang yang disebut sebagai anggota sindikat uang palsu. Pelaku berinisial S, M, RS, GK, T dan AR itu ditangkap di berbagai kota di Jawa Barat dan Jawa Timur. Peran mereka pun beragam, mulai dari pemberi modal, pembuat hingga pengedar.

Saat konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Pusat, Rabu (18/10), Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Agung Setya, menyebut dari tangan pelaku disita barang bukti 373 lembar uang palsu nominal Rp100.000 lama dan "uang palsu senilai Rp400 juta yang telah dibakar terduga pelaku, menjelang penggerebekan pabriknya di Bangkalan, Madura, Jawa Timur".

Image caption Polisi menyebut mesin pencetak uang palsu ini digunakan terduga pelaku.

Dengan penangkapan tersebut, Brigjen Pol. Agung menyebut "sindikat uang palsu pasti akan banyak berkurang." Dia menambahkan, "Kalau kita sudah bisa menemukan siklus pembuat uang palsu ini dari pembuat sampai pengedarnya, saya rasa rantai ini akan memutus banyak, peredaran uang palsu bisa kita hentikan."

Ancaman hukuman seumur hidup

Terkait pernyataan Drajat Wibowo, bahwa untuk menangani masalah uang palsu, hukum harus ditegakkan dengan kuat, Polri menegaskan itu akan dilakukan. Keenam pelaku disebut Brigjen Pol. Agung akan dikenaikan pasal 36 dan 37 Undang-undang nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang.

"Ancaman hukumannya bisa sampai seumur hidup. Kita mengharapkan ini bisa menimbulkan efek jera pada pelaku, atau orang yang ingin melakukan pemalsuan," tutur Brigjen Pol. Agung.

Image caption Barang bukti uang palsu yang disita kepolisian.

Meskipun begitu, penegakan hukumnya tetap diragukan Drajat Wibowo, karena "setahu saya belum pernah ada vonis seumur hidup (yang dijatuhkan) pada kasus seperti ini, karena memang mereka baru pengedar relatif kecil."

Bagaimanapun, Bank Indonesia menegaskan jumlah uang palsu yang beredar di Indonesia terus mengalami penurunan. Tahun ini, jumlahnya 'hanya' lima lembar uang palsu untuk setiap satu juta lembar uang asli.

"Tahun lalu itu sekitar 100 lembar uang palsu untuk setiap sejuta lembar yang asli. Tahun sebelumnya lagi, 200-an," tutur kepala grup penyelenggara pengelolaan keuangan Bank Indonesia, Luctor Tapiheru, di Bareskrim Polri, Rabu (18/10).

Image caption Sejumlah uang palsu yang sudah selesai cetak, disebut polisi, dibakar oleh pelaku menjelang penggerebekan.

Namun, Luctor mengakui masalah uang palsu ini tidak dapat disepelekan, karena "seperti fenomena gunung es". Yang terlihat hanya di permukaan, tetapi yang belum terungkap bisa saja jauh lebih banyak.

Luctor menyebut, sepanjang tahun 2017, telah diamankan sekitar 80.000 lembar uang palsu. Sindikat yang baru saja ditangkap oleh Bareskrim Polri hanya memproduksi sekitar 6% dari total uang palsu yang beredar sepanjang tahun ini.

'Takut menyinggung perasaan'

Bank Indonesia menilai metode tiga-D, untuk mengecek keaslian uang kertas: dilihat, diraba, diterawang, 'masih sangat efektif' untuk diterapkan masyarakat. Sambil memegang uang palsu yang dibuat sindikat yang baru saja ditangkap Polri, Luctor berucap, "Ini saya raba saja, saya langsung tahu palsu."

Meskipun begitu, sejumlah pedagang mengaku kesulitan untuk menerapkan metode ini. Misalnya Anton, seorang pedagang kain di pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Menurutnya, "tidak mungkin mengecek uang satu persatu. Kadang pelanggan kita jadi tersinggung. Jadi, ya Bismillah saja."

Alhasil, dia baru mengecek keaslian uang, meskipun sempat meragukannya, setelah pelanggan pergi. Dia mengisahkan, di suatu waktu, dia baru tahu uang yang diterimanya itu palsu saat dia akan menyetorkannya secara tunai lewat anjungan tunai mandiri (ATM). "Yang lainnya bisa masuk, yang satu ini tidak bisa. Dicoba beberapa kali, tidak bisa, ternyata palsu."

Image caption Bahan pewarna yang digunakan pelaku untuk membuat uang palsu.

Luctor menegaskan, untuk kasus seperti yang dialami Anton, "dia memang tidak bisa langsung menuding teman bertransaksinya memberikan uang palsu. Itu bisa bahaya. Tapi dia bisa sama-sama datang ke bank, deteksi bersama. Kalau di bank biasa tidak percaya, datang ke BI."

Dia pun menambahkan, untuk ke depannya peredaran uang palsu akan dapat terus ditekan, karena uang kertas baru yang dikeluarkan Bank Indonesia, diklaim "jauh lebih sulit untuk dipalsukan. Bahkan sampai sekarang belum ditemukan uang baru itu yang dipalsukan".

Berita terkait