Apatisme warga, 'pintu masuk' bagi masuknya kelompok radikal

Penangkapan tersangka teroris Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Densus 88 menangkap empat orang di Riau yang diduga anggota kelompok radikal.

Sikap apatisme masyarakat di Riau dinilai menjadi pintu masuk bagi kalangan berideologi radikal. Hal ini disampaikan analis setelah polisi menangkap orang terduga teroris di Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru, hari Selasa (24/10).

Pengamat dari Universitas Islam Riau, S. Parman, mengatakan kondisi Riau yang heterogen, khususnya di Kota Pekanbaru, menjadikan 'pola pikir dan sikap apatisme muncul di dalam masyarakat'.

"Saya mengamati masyarakat Riau berbeda dari masyarakat lainnya. Tipikal masyarakat Riau, khususnya Pekanbaru, karena heterogen, sehingga cenderung welcome dan berprasangka baik, menerima orang asing masuk, filternya kurang kuat, agak apatis," kata Parman kepada wartawan di Pekanbaru, Wahyu.

Selain apatisme masyarakat, kondisi Riau yang cenderung aman dan tenang dimanfaatkan kelompok radikal tertentu membangun kekuatan dan merekrut anggota baru.

Ini berbeda dengan kota-kota lain di Pulau Jawa atau Sulawesi yang menjadi perhatian aparat keamanan karena berkembangnya paham radikalisme.

Sebelumnya, Detasemen Khusus (Densus) 88 antiteror Mabes Polri, menangkap empat orang terduga teroris di sejumlah tempat. Mereka adalah AA, BST, YH dan H. Mulanya Densus mengamankan AA, dan BST di Desa Pandau Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar.

Keduanya diamankan anggota Densus di jalan saat keluar rumah. Dari penangkapan keduanya, Densus mengembangkan penyelidikan sehingga mendapatkan sejumlah terduga lainnya yang diamankan di sejumlah lokasi di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar.

Keempat terduga teroris ini diketahui merupakan jaringan dari Jemaah Ansharut Daullah yang diduga hendak melakukan aksi teror di Provinsi Riau. Sejumlah tempat disebut-sebut menjadi incaran teror. Diyakni anggota kepolisian menjadi target utama jaringan teror ini.

"Dari hasil interogasi, mereka akan melakukan eksekusi, melakukan penyerangan kantor polisi, apakah pos polisi, Polsek maupun Polda," kata Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Guntur Aryo Tejo.

Keempat orang terduga teroris ini dipimpin oleh AA. Dalam jaringan Asharut Daullah dikenal isitilah amir atau pemimpin masing-masing daerah. Di Riau, AA disebut-sebut merupakan amir.

Polisi memperkirakan jaringan pimpinan AA ini memiliki hubungan dengan terduga teroris yang diamankan belum lama ini di Provinsi Jambi.

Topik terkait

Berita terkait