Penangkapan terduga teroris terus terjadi, 'potensi serangan di Indonesia tetap ada'

Tim penjinak bom Hak atas foto Reuters
Image caption Anggota Detasemen Khusus 88 menyita barang-barang dari sebuah rumah di Bandung pada tanggal 15 Agustus 2017.

Kepolisian Indonesia melakukan pengejaran terhadap dua orang terduga teroris yang melawan aparat keamanan ketika hendak ditangkap di kawasan perbukitan di Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (30/10.

Keberadaan mereka di kawasan perbukitan diketahui warga setempat namun jati diri mereka tidak dikenal sehingga warga melaporkannya ke polisi.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul, mengatakan polisi berusaha menangkap mereka namun mereka justru melakukan perlawanan.

"Dalam kontak senjata tersebut, dua orang berhasil dilumpuhkan dan kemudian meninggal dunia, sementara dua lagi melarikan diri. Kemudian kita melakukan investigasi terhadap mereka dan ternyata mereka adalah yang melakukan penembakan terhadap anggota Polri pada 11 September lalu di Bima," kata Martinus Sitompul kepada wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir, Selasa (31/10).

Persamaan peluru

Pada tanggal tersebut, dua anggota Polres Bima ditembak di tempat berbeda pada waktu yang hampir bersamaan ketika keduanya usai mengantarkan anak mereka ke sekolah.

Menurut Kombes Pol Martinus Sitompul, di persembunyian empat terduga teroris polisi menemukan dua senjata rakitan dan sekitar 20 peluru tajam yang menunjukkan persamaan dengan peluru yang digunakan untuk menembak dua anggota Polri pada bulan September lalu.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Aparat keamanan menangkap empat orang di Riau yang diduga anggota kelompok radikal dan menyita sejumlah barang bukti pada tanggal 24 Oktober.

Dua peristiwa di Bima dan juga penangkapan-penangkapan serupa, seperti penangkapan dua terduga teroris di Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru, Riau, Selasa pekan lalu (24/10), kata Martinus Sitompul, menunjukkan bahwa potensi serangan di Indonesia tetap ada.

"Dari beberapa peristiwa yang berhasil ditangkap dan kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap mereka, ada beberapa orang yang menjadi bagian yang harus dilakukan upaya pengejaran dan penangkapan untuk diproses secara hukum," jelasnya.

Di antara mereka, lanjut Martinus Sitompul, termasuk orang-orang yang pernah menjadi tentara kelompok yang menyebut diri Negara Islam (ISIS) dan kemudian masuk ke Indonesia atau warga negara Indonesia yang pernah menjadi anggota pasukan ISIS di Suriah maupun Irak.

Sebelumnya sejumlah pengamat mengatakan bahwa pelaku-pelaku tindakan teror di Indonesia belakangan tergabung dalam kelompok-kelompok kecil yang bergerak sendiri.

Peneliti masalah terorisme yang menjabat sebagai direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sydney Jones, misalnya, mengatakan ada puluhan sel teroris yang mempunyai kapasitas melakukan aksi kekerasan.

Adapun menurut direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie, meskipun sel merupakan organisasi terkecil, keberadaannya mengkhawatirkan dan perlu diwaspadai.

Topik terkait

Berita terkait