'Kehebohan' ketika sebuah sekolah di Tegal mewajibkan cadar

Sekolah bercadar
Image caption Seluruh santri putri di SMK Attholibiyah diwajibkan mengenakan cadar.

Ketika negeri konservatif seperti Arab Saudi bertekad jadi lebih moderat dan melonggarkan kebebasan buat perempuan, sebuah sekolah di Tegal memberlakukan kewajiban bercadar terhadap para siswinya.

Berikut laporan wartawan setempat, Sucipto Cokro, untuk BBC Indonesia.

line

Kehebohan di media sosial membuat pejabat dinas pendidikan datang dan menegur, sekolah itu pun membatalkan kewajiban bercadar, namun hanya terbatas di ruang kelas: di pondok pesantren mereka tetap kharus bercadar.

Sintia Dewi dan Iin Asturiah tampak kikuk ketika masuk ruang guru. Mereka segera menutup wajah: pipi, hidung sampai dagu, mereka lindungi dengan kain kerudung yang mereka kenakan. Mereka belum terbiasa tidak mengenakan cadar ketika bertemu lawan jenis.

Sama-sama berusia 15 tahun, keduanya adalah siswi SMK Attholibiyah sekaligus santri putri pondok pesantren Attholibiyah. Selasa 31 Oktober 2017 ini adalah hari pertama mereka dan siswi lain di SMK Attholibiyah tidak bercadar di lingkungan sekolah.

Sebelumnya, sejak Januari 2017 seluruh santri putri di Pondok Pesantren Attholibiyah diwajibkan mengenakan cadar. Tak syak, Sintia dan Iin yang baru masuk pondok pada Juli 2017, belum terbiasa tampil tanpa cadar.

Sebelum masuk pondok pesantren Attholibiyah, Sintia tak pernah bercadar, kendati berkerudung. Setelah lulus SMP di Brebes, ia masuk pondok pesantren Attholibiyah atas anjuran saudara dekatnya yang rutin ikut pengajian di sana.

Dan di pesantren ini ia diwajibkan bercadar. Mulanya ia merasa tidak nyaman. "Awalnya panas. Sesak. Tapi bulan selanjutnya sudah terbiasa," katanya.

Sejak Agustus 2017, ia mengaku sudah terbiasa dengan cadar, bahkan mengaku jadi canggung justru ketika melepaskannya.

"Sama diri sendiri saja malu kalau tidak pakai. Apalagi lawan jenis," ujar Sintia.

Bagitu pula dengan Puput Viara. Gadis 17 tahun itu kini duduk di kelas XI SMK Negeri Attholibiyah. Ini tahun keduanya berada di pondok Attholibiyah sekaligus menjadi siswi SMK di pondok pesantren tersebut.

Ketika masuk pondok pertama kali, pengasuh pondok belum mewajibkan santrinya memakai cadar.

Baru di tahun kedua sesudah ia masuk, di pesantren itu diberlakukan kewajiban bercadar. Puput mengaku butuh beradaptasi selama kurang lebih sebulan untuk terbiasa dengan peraturan baru pondok pesantren untuk mengenakan cadar di lingkungan pondok dan SMK Attholibiyah.

"Sesuai anjuran Abah, saya pakai cadar. Menurut saya baik karena kata abah sama seperti Fatimah," kata Puput sambil menunduk. Menghindari tatapan mata orang lain.

Tak ambil pusing

Orang tua Puput tinggal di Desa Tamujaya, Kecamatan Lamandau, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Masalah jarak membuat orang tuanya jarang menengok Puput di Tegal. Makruf (45), ayahnya mengaku menyerahkan sepenuhnya putrinya itu kepada pengasuh pondok pesantren.

"Kalau pondok mengharuskan bercadar, saya setuju saja," katanya.

Ia juga mengaku tidak ambil pusing jika ada orang yang menganggap putrinya seorang radikal karena memakai cadar.

"Saya biasa saja kalau ada yang bilang begitu. Sekarang sih saya belum dengar yang seperti itu," katanya.

Sekolah bercadar
Image caption Sintia dan Iin memakai cadar setelah belajar di pondok pesantren Attholibiyah, Tegal.

Menghindari 'pergaulan bebas'

Namanya Muhammad Al Athas. Biasa dipanggil oleh santrinya Abah atau Habib Muhammad. Ia mendirikan Pondok Pesantren Attholibiyah pada tahun 2003 di atas tanah seluas kurang lebih 1 hektar.

Pondok pesantren Attholibiyah terletak di jalan Mobok Karsih Desa Muncanglarang Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal, sekitar satu setengah jam dari pusat Kabupaten Tegal.

Pintu masuk pondok pesantren berupa portal hitam putih dengan panjang sekitar enam meter. Jalan menanjak sekitar 15 derajat. Berjalan kurang lebih 30 meter, di sebelah kanan ada pintu masuk ke MTs Attholibiyah yang berdiri sejak 2010.

Sedangkan di sebelah kiri berdiri gedung dua lantai berbentuk huruf L yang merupakan gedung SMK Attholibiyah yang diresmikan pada tahun 2016. Sebelumnya, sejak 2014 SMK tersebut menginduk ke SMK NU 3 Sirampok, Kabupaten Tegal dan telah meluluskan satu angkatan.

SMK Attholibiyah ini menggegerkan dunia maya setelah beredar foto yang menunjukkan para siswinya mengenakan cadar di dalam kelas.

Sejak pertama kali berdiri, baru pada awal 2017 pendiri sekaligus pengasuh pondok Muhammad Al Athas mewajibkan santri putrinya mengenakan cadar di lingkungan pondok. Hal tersebut juga berlaku dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah formal milik Yayasan Attholibiyah, termasuk SMK Attholibiyah.

Muhammad mengaku kewajiban cadar itu adalah inisiatifnya pribadi.

"Berawal dari keprihatinan terhadap kondisi remaja di zaman modern ini. Banyak yang terjerumus dalam pergaulan bebas," katanya.

Menurut pandangannya, santrinya yang mayoritas remaja ini pun berpotensi ikut terjerumus dalam pergaulan yang salah.

Sebelum memberlakukan aturan ini, pihaknya menemukan banyak kasus pelanggaran santri yang ketahuan menjalin hubungan atau pacaran dengan lain jenis.

"Karena kami diamanati ribuan santri oleh orang tua mereka. Tentu kami berupaya untuk menjaga amanat itu baik-baik," katanya.

Tidka jelas, apa hubungannya kewajiban cadar dengan amanat para orang tua.

Sekolah bercadar
Image caption Sejak Selasa 31 Oktober 2017, siswi di SMK Attholibiyah tidak diwajibkan bercadar di lingkungan sekolah.

Muhammad mengaku telah mengungkapkan gagasan itu kepada para orang tua melalui pengajian rutin bulanan yang dihadiri wali santri. Ada penolakan dari sejumlah wali, "Namun mayoritas mendukung," katanya.

Wali yang keberatan khawatir anak mereka dituduh berpaham radikal atau berafiliasi dengan ISIS.

Beberapa wali bahkan sempat berniat untuk menarik putri mereka dari pesantren.

Muhammad mengklaim bisa meyakinkan wali santri mengenai maksud pemakaian atribut itu.

Muhammad menegaskan, pemakaian cadar oleh santri bukan berarti pihaknya menganut paham radikal.

"Saya dan semua pengurus di sini Nahdlatul Ulama (NU) tulen. Kami masih lestarikan haul dan kaji kitab kuning yang jadi corak pesantren salaf."

Sekolah bercadar
Image caption SMK Attholibiyah ini sempat ramai diperbincangkan di dunia maya, setelah ada yang mengunggah foto siswinya belajar menggunakan cadar.

Awalnya Muhammad mewajibkan cadar bukan hanya di pesantren, namun juga ketika mengikuti pembelajaran di sekolah di lingkungan pesantren, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Sementara siswi bukan dari pesantren yang bersekolah di tempat itu tidak diwajibkan memakai cadar. Khusus SMK Attholibiyah, sejak pertama berdiri belum menerima anak didik dari luar pondok. Muhammad masih mempertimbangkan untuk menerima anak didik dari luar.

"Mereka kan sudah usia remaja. Kami takut kalau ada yang dari luar pondok, nanti mereka ikut pergaulan yang tidak sesuai dengan yang diajarkan di pondok," kata Muhammad.

Peraturan pondok tidak mengizinkan santrinya berhubungan dengan lawan jenis. Karenanya kelas santri putra di SMK Attholibiyah dipisahkan kelasnya dengan santri putri. Santri putra di lantai atas, sedangkan santri putri di lantai bawah.

"Pacaran itu kan berawal dari pandangan mata, kemudian timbul rasa suka. Kalau ditutup kan santri putra tidak bisa memandang lawan jenisnya," katanya.

Muhammad meyakinkan, materi kurikulum pesantren tidak ada yang mengarah pada paham radikal. Yang dikaji santri di pesantren adalah kitab kuning yang mengacu pada ajaran Ahlussunah Waljamaah.

Langkah 'menjaga akhlak' santri tak berhenti pada kewajiban bercadar. Kegiatan di luar belajar benar-benar dibatasi.

"Handphone juga kami larang karena lebih banyak mudaratnya untuk santri," katanya.

Santri hanya diperbolehkan membawa laptop untuk pembelajaran di sekolah formal. Usai sekolah, laptop ini kembali dititipkan ke petugas keamanan pondok.

Sekolah bercadar
Image caption Pengasuh pesantren Attholibiyah mengaku sebelum aturan cadar diterapkan, banyak kasus pelanggaran santri yang terjadi, seperti berpacaran dengan lain jenis.

Kehebohan cadar

Menyusul kehebohan tentang kewajiban brcadar yang muncul di media sosial, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal Akhmad As'ari datang ke SMK Attholibiyah pada Senin 30 Oktober 2017. Ia menemui dengan kepala sekolah dan pengasuh pondok.

Akhmad menyampaikan Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014 tidak mengakomodasi pemakaian atribut cadar di lingkungan SMA dan setingkatnya.

"Kami musyawarah. Santai-santai saja. Tidak ada perdebatan. Pihak pesantren legowo-legowo saja," kata Akhmad.

Di dalam Permendikbud itu diatur standar seragam sekolah siswi muslim yang bisa diterapkan antara lain, kemeja putih lengan panjang hingga pergelangan tangan, jilbab putih, rok panjang sampai mata kaki serta kaus kaki putih minimal 10 cm di atas mata kaki. Tanpa cadar.

Karena itu, pihaknya meminta pihak pesantren untuk mencabut kebijakan yang mewajibkan santri putrinya mengenakan cadar di sekolah formal karena bertentangan dengan aturan pemerintah.

Dari musyawarah itu kemudian diambil jalan tengah. Santri tetap diperbolehkan memakai cadar saat perjalanan berangkat atau pulang ke pesantren. Sementara saat mengikuti pembelajaran di dalam kelas, mereka wajib melepas cadar.

"Kami tentu sudah melakukan teguran dan menyampaikan aturan Permendikbud soal cara berseragam siswi muslimah. Memang aturannya sudah seperti itu,"katanya.

Sementara Kepala SMK Kustanto Widyatmoko mengatakan, pewajiban santri memakai cadar baru mulai tahun ajaran 2017/2018 ini. Kebijakan itu, menurut dia, bukan lahir dari penyelenggara sekolah, melainkan pengasuh pesantren Attholibiyah.

Kebetulan, kata dia, seluruh siswa di SMK berjumlah 282 orang merupakan santri di pesantren itu sehingga siswi perempuan memakai cadar tanpa kecuali. Sementara kelas 11 dan 12 pada tahun ajaran lalu sempat tidak memakai cadar di lingkungan sekolah sebelum turun kebijakan itu dari pengasuh.

"Kalau ada siswa dari luar pondok juga tidak dipaksakan pakai cadar. Karena ini kebijakan pengasuh, jadi khusus santri yang memakai cadar," katanya.

Sekolah bercadar
Image caption Santri perempuan wajib melepas cadar di dalam kelas, tapi tetap diperbolehkan memakai cadar saat perjalanan berangkat atau pulang ke pesantren.

Dari 17 guru di sekolah itu, enam di antaranya adalah perempuan. Menariknya, dari enam guru wanita ini, hanya satu di antaranya yang mengenakan cadar. Kustanto mengatakan, pihaknya memang tidak mewajibkan guru perempuan memakai cadar untuk menyesuaikan diri dengan siswi mereka.

Para siswi di sekolah ini diajar oleh guru laki-laki dan wanita. Saat guru perempuan mengajar, para siswi ini melepas cadar di dalam kelas. Namun mereka tetap mengenakan cadar saat diajar guru pria.

Kustanto meyakinkan, pemakaian cadar di SMK tidak terkait ajaran paham radikal. Materi kurikulum yang diajarkan juga tidak ada muatan materi yang mengarah pada ajaran terlarang itu. Di luar mata pelajaran umum, hanya ada Pendidikan Agama Islam dan muatan lokal ke NU an.

"Malah ada materi ke NU an yang jauh dari kesan radikal,"katanya

Hari Selasa (1/11) ini, pihaknya mulai menyosialisasikan Permendikbud ihwal aturan standar seragam muslimah yang direkomendasikan pemerintah. Usai sosialisasi, pihaknya menyuruh semua siswi untuk melepas cadar hitam yang mereka kenakan. Para siswi ini pun terkejut dan banyak yang salah tingkah karena wajah mereka untuk pertama kali dipeperlihatkan ke guru pria.

"Ya intinya kami laksanakan Permendikbud karena itu sudah jadi aturan. Para siswi masih butuh adaptasi kembali karena lama sebelumnya tak pernah lepas cadar," katanya.

Laporan ini disusun oleh seorang wartawan lepas di Jawa Tengah atas permintaan BBC Indonesia.

Topik terkait

Berita terkait