Rute nonstop Garuda Jakarta-London, untung atau bikin buntung?

Garuda Indonesia Hak atas foto AFP/ARIF ARIADI
Image caption Maskapai penerbangan Garuda kembali melayani jalur ke London pada 2014.

Pengamat penerbangan mempertanyakan keputusan maskapai Garuda Indonesia mengoperasikan penerbangan nonstop Jakarta-London pp dengan alasan Garuda 'tak pernah untung dari pengoperasian jalur ini'.

"Agak susah dipahami ... pernah gagal dan tidak pernah untung, tapi diulang-ulang terus. Apa yang dicari Garuda?" ujar pengamat penerbangan, Arista Atmadjati, kepada BBC Indonesia.

Arista mengatakan pengoperasian penerbangan nonstop Jakarta-London pp mungkin lebih dilatari oleh pertimbangan nonkomersial dan hubungan politik.

Garuda meresmikan layanan penerbangan nonstop ini pada Rabu (31/10).

Garuda mengatakan bahwa ini adalah bagian dari upaya merestrukturisasi jalur Jakarta-London, mendorong Jakarta sebagai hub perjalanan internasional, dan untuk meningkatkan layanan terhadap penumpang dari Inggris yang ingin terbang ke kawasan Asia Pasifik, termasuk Australia.

Juru bicara Garuda, Ikhsan Rosan, mengatakan optimistis Garuda bisa mendapatkan penumpang dari Australia yang ingin melakukan perjalanan ke London.

Sebelumnya Garuda sudah mengoperasikan rute penerbangan Jakarta-London, namun pesawat transit di Singapura.

"Dengan lewat Singapura produknya jadi kurang bagus, perjalanan menjadi lebih lama," jelas Ikhsan. Ia mengatakan jalur Jakarta-London antara lain dikoneksikan dengan Melbourne.

Hak atas foto AGUNG PARAMESWARA / GETTY
Image caption Menurut Ikhsan Rosan, turis Australia familiar dengan Garuda Indonesia jika ingin terbang ke Bali.

'Sulit bersaing'

"Jadi, penumpang dari Inggris bisa ke Melbourne pindah pesawat (di Jakarta) sehingga terkoneksi. Untuk awal tahun depan kami sudah bisa buat koneksi untuk ke seluruh Australia."

Namun menurut Asmita sulit bagi Garuda untuk menembus persaingan yang sudah penuh untuk rute Australia. Maskapai-maskapai besar seperti British Airways, Qantas, Qatar dan Emirates sudah 'menguasai' rute tersebut.

"Memang rute emas untuk long haul (jalur panjang) tapi pemainnya besar. Saya rasa Garuda belum bisa bersaing. Itu rute kompetitif, maskapai yang melayani sudah puluhan tahun seperti British Airways dan Qantas," kata Arista.

Ia mengatakan mungkin yang dijual Garuda adalah hospitality. "Tapi apakah para penumpang membeli hospitality? Kan tidak juga ya? Yang penting penerbangannya nyaman, jarak (waktu)nya lebih pendek," imbuhnya.

Arista juga mengatakan dengan terbang nonstop biaya operasional yang dikeluarkan Garuda bisa meningkat mengingat harga bahan bakar avtur di Singapura lebih murah dibandingkan di Jakarta.

"Avtur itu menjadi kompenen biaya dalam penerbangan bisa 35% sampai 40%. Emirates dan Qatar bisa menghemat biaya bahan bakar karena mereka mendapat subsidi," katanya.

Hak atas foto AFP/GETTY IMAGES
Image caption Rute ini menjadi 'pertaruhan baru' Garuda yang sedang mengalami kondisi keuangan yang sulit saat ini.

Garuda mencatat ada sekitar 700.000 penumpang terbang dari Australia ke London setiap tahun.

Drai penumpang Australia ini Garuda ingin menambah load seat (jumlah kursi yang terisi) pesawat Boeing 777, pesawat yang digunakan untuk rute nonstop Jakarta-London pp, dari 65% menjadi 75%.

Keputusan restrukturisasi rute itu diharapkan dapat memperbaiki kondisi keuangan Garuda yang pada semester pertama tahun 2017 mencatat kerugian sebesar US$283,8 juta atau hampir Rp4 triliun.

Garuda memulai kembali rute ke London pada September 2014, setelah sebelumnya dilarang oleh Uni Eropa pada 2007 dengan alasan keselamatan.

Sebelum melayani kembali rute ke London, Garuda terlebih dulu mengoperasikan rute ke Amsterdam pada 2010.

Berita terkait