Wajah peranakan Arab di Indonesia: Rizieq Shihab, politik identitas, dan pertanyaan tentang stereotip

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Dua poster berukuran cukup besar, Presiden Sukarno dan ulama asal Yaman, Umar bin Hafidz dipajang oleh penjualnya di sebuah lorong di dekat Masjid Ampel, Surabaya.

Untuk pertama kalinya di Indonesia, dinamika warga keturunan Arab di Indonesia dibahas secara ilmiah dalam seminar internasional. Ada kritikan tajam terhadap sejumlah tokohnya yang dianggap tidak mampu menjaga warisan leluhurnya.

Walaupun jumlahnya sedikit dan tidak mewakili kepentingan orang-orang peranakan Arab secara umum, beberapa tokoh keagamaan keturunan Arab juga diingatkan agar kembali berdakwah dengan cara-cara yang tidak memecah belah kehidupan umat beragama.

Ada seruan pula agar kehadiran orang-orang keturunan Arab dalam panggung politik kontemporer Indonesia tidak melahirkan eksklusifitas, tetapi justru memperkuat persatuan Indonesia yang bercirikan multikulturalisme.

Diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lembaga riset Hadhramaut centre, pusat studi dan penelitian Menara, serta Kementerian Agama, seminar bertema Dinamika Hadhrami di Indonesia ini menghadirkan sejumlah intelektual dan peneliti -dalam dan luar negeri- yang pernah melakukan studi tentang dinamika orang-orang keturunan Arab di Indonesia.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Seorang warga keturunan Arab dan toko minyak wangi yang dikelolanya di kawasan Ampel, Surabaya, November 2015.

Orang-orang Hadhrami, sebutan untuk penduduk Hadramaut, Yaman, merupakan mayoritas orang-orang peranakan Arab di Indonesia yang diyakini mulai berdatangan ke Nusantara sejak abad 13.

Walaupun konferensi internasional ini membahas sejarah, budaya, sosial serta peran keagamaannya, sorotan tajam lebih mengarah kepada tantangan dan harapan kehadiran orang-orang Hadhrami dalam politik kontemporer Indonesia.

Kebangkitan politik identitas berbasis etnis dan gerakan populisme global, yang menurut sejumlah pembicara tergambar dalam kasus Pilkada Jakarta, juga dianggap tantangan bagian sebagian elit orang-orang keturunan Arab ketika dihadapkan persoalan keutuhan dan persatuan bangsa.

Menteri Agama: Belajarlah dari ulama keturunan Arab pendahulu

Dalam pidato pembukaan seminar, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin mengharapkan para keturunan Arab yang menjadi pendakwah supaya mampu "menjaga, memelihara, dan merawat" apa yang telah diwariskan para leluhurnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Walaupun konferensi internasional ini membahas sejarah, budaya, sosial serta peran keagamaannya, sorotan tajam lebih mengarah kepada tantangan dan harapan kehadiran orang-orang Hadhrami dalam politik kontemporer Indonesia.

Dahulu, lanjutnya, para ulama Indonesia keturunan Arab, yang memiliki garis keturunan Nabi Muhammad, tidak pernah mengajarkan "ideologi kebencian" atau "berpolitik praktis".

"Dari para habaib inilah lahir guru dan mubalik di berbagai daerah di Indonesia," kata Lukman.

"Metoda sufistik para habaib seperti inilah yang mengedepankan akhlak yang mulia sejak zaman dahulu yang kemudian diikuti oleh para Wali Songo dan dai pendahulu lainnya yang berhasil mengislamkan nusantara," kata Menteri Agama.

Dalam teks pidatonya, Lukman Hakim tidak menyebut siapa tokoh agama keturunan Arab saat ini yang diharapkannya dapat meneladani sepak terjang para ulama peranakan Arab terdahulu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Abu Bakar Ba'asyir dan Muhammad Rizieq Shihab (kanan) - dua orang warga Indonesia keturunan Arab - yang tindakan dan ucapannya sering menjadi sorotan.

Tetapi menurut Muhammad Adlin Sila, Kepala Balai litbang Kementerian Agama, pidato Menteri Agama itu merupakan "kritik" terhadap salah-seorang figur warga Indonesia keturunan Arab yang pernyataan-pernyataannya "membahayakan keutuhan" Indonesia.

Ditanya apa yang dapat dilakukan Kementerian Agama untuk menghentikan kehadiran pendakwah di kalangan keturunan Arab seperti itu, Adlin mengatakan pihaknya berencana akan "berdialog", misalnya, dengan organisasi yang menghimpun keturunan Arab dari golongan Alawiyin, yaitu Rabithah Alawiyah.

"Ini suatu sinyal pemerintah, kalau ada beberapa oknum yang 'keluar' dari ajaran atau pemahaman kita, majelis itu bisa menjadi teman partner (mitra) pemerintah untuk menegur agar sesuai semangat keindonesian," jelas Adlin.

Sosok Rizieq Shihab

Terungkap dalam seminar itu, kendati jumlah mereka relatif kecil, peranan orang-orang peranakan Arab ini dianggap "penting" karena mereka tersebar di berbagai organisasi keagamaan, ormas, serta partai politik dengan latar pemahaman agama dan ideologi yang tidak tunggal.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Orang-orang Hadhrami, sebutan untuk penduduk Hadramaut, Yaman, merupakan mayoritas orang-orang peranakan Arab di Indonesia yang diyakini mulai berdatangan ke Nusantara sejak abad 13. Sebuah kedai yang menjual makanan khas Arab di kawasan Ampel, Surabaya (foto atas).

Namun belakangan ketika politik identitas mengalami penguatan dan berisisan dengan gerakan populisme Islam, sepak terjang salah-seorang keturunan Arab, Rizieq Shihab, akhirnya menjadi sorotan utama setelah keterlibatannya yang mencolok selama Pilkada Jakarta, kata Azyumardi Azra, salah-seorang pembicara utama dalam seminar itu.

"Orang-orang Hadrami memiliki peranan yang penting di dalam kebangkitan politik identitas atau bahkan populisme Islam, terutama sejak akhir tahun lalu, ketika terjadi Pilkada Jakarta," kata Azyumardi, guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, kepada BBC Indonesia.

Pernyataan Azyumardi ini merujuk pada gelombang unjuk rasa yang melibatkan ratusan ribu orang selama Pilkada Jakarta yang menggunakan isu agama. "Salah-satu pimpinan utama kebangkitan populisme Islam itu 'kan Rizieq Shihab," katanya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption "Orang-orang Hadrami memiliki peranan yang penting di dalam kebangkitan politik identitas atau bahkan populisme Islam, terutama sejak akhir tahun lalu, ketika terjadi Pilkada Jakarta," kata Azyumardi, guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Menurutnya, Rizieq memiliki pengaruh kuat pada sebagian masyarakat Islam, terutama kalangan bawah, karena diyakini memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammad. "Ini sangat mempengaruhi Muslim lokal, karena dianggap sebagai panutan," jelasnya.

Meskipun demikian, lanjutnya, tidak berarti sikap dan tindakan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) ini mewakili aspirasi orang-orang keturunan Arab di Indonesia. Karena,"ada juga di antara mereka yang aktif di Nahdlatul Ulama (NU)," katanya.

Tidak ada 'ideologi tunggal' di peranakan Arab

Masyarakat keturunan Arab di Indonesia, seperti masyarakat pada umumnya, tidak berlabuh dalam satu aliran politik atau keagamaan yang tunggal.

"Saya rasa penting untuk menegaskan bahwa masyarakat Hadrami di Indonesia tidak homogen," kata ahli sosiologi dari National Unversity of Singapore, Syed Farid Alatas, kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption "Saya rasa itu merupakan suaru kemunduran, karena tradisi Hadhrami atau masyarakat keturunan Arab di Indonesia, tidak pernah mempolitisasi soal etnis," kata ahli sosiologi dari National Unversity of Singapore, Syed Farid Alatas.

Dalam seminar 'Dinamika keturunan orang-orang Hadramaut di Indonesia', Farid Alatas merupakan pembicara utama. Dia tampil bersama Azyumardi Azra, Huub de Jonge dari Universitas Radbound, Belanda, dan Martin Slama dari Akademi Sains, Austria.

Seperti masyarakat lainnya, mereka terdiri dari beberapa aliran. "Ada yang menganut tarekat Baalawi, seperti yang dianut oleh moyang mereka, ada juga yang terpengaruh oleh aliran-aliran lain dalam Islam, ataupun aliran seperti liberalisme atau sosialisme," jelasnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Salah-satu pintu masuk menuju Masjid Ampel, Surabaya. Di kawasan Ampel ini, sebagian warga keturunan Arab tinggal selama lebih dari 200 tahun.

Itulah sebabnya, ketika muncul sosok peranakan Arab yang sangat menonjol selama pilkada Jakarta yang diwarnai mobilisasi massa dengan menggunakan isu agama dan etnis, Farid menganggapnya itu tidak mewakili kepentingan orang-orang Arab secara keseluruhan.

"Itu bukan gambaran umum orang Arab di Indonesia," tegasnya. Artinya, apa yang menjadi pemikiran dan tindakan Rizieq Shihab tidak bisa dianggap mewakili aspirasi seluruh keturunan Arab di Indonesia.

'Keturunan Arab jangan eksklusif'

Dia menganalisa, apa yang terjadi saat Pilkada Jakarta lalu tidak terlepas apa yang disebut sebagai kemunculan gerakan populisme yang juga menjadi gejala umum di dunia.

Sebagai seorang keturunan Arab, Farid tidak setuju dengan penggunaan sentimen agama dan etnis seperti yang terjadi dalam Pilkada Jakarta lalu. Seperti diketahui, sasaran mobilisasi massa itu adalah Gubernur DKI Jakarta terdahulu, Basuki Tjahaja Purnama yang keturunan Tionghoa atau Cina.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Suasana di depan kampung di kawasan Ampel, Surabaya, yang banyak dihuni warga keturunan Arab.

"Saya rasa itu merupakan suaru kemunduran, karena tradisi Hadhrami atau masyarakat keturunan Arab di Indonesia, tidak pernah mempolitisasi soal etnis," kata Farid.

Ke depan, dia mengharapkan agar para peranakan Arab untuk lebih mengangkat isu-isu lainnya yang dianggapnya lebih penting dibicarakan dan disikapi. "Seperti pengangguran dan korupsi, misalnya."

Tentang kemunculan politik identitas yang antara lain mencirikan etnisitas dan agama, Farid Alatas mengatakan itu merupakan gejala umum dan terjadi di mana-mana. "Itu menunjukkan semacam ketidakpuasan terhadap kehidupan modern."

Tetapi sejauhmana kemunculan politik identitas itu bisa diterima sehingga tidak terjebak pada isu sektarian? Tanya saya.

"Saya kira masalah identitas ini tidak semestinya menyebabkan masalah sektarianisme, karena masalah sektarianisme itu disebabkan oleh sikap eksklusifisme," jawab Farid.

Hak atas foto Panitia seminar orang-orang Hadhrami di Indonesia
Image caption Presiden Sukarno saat berpidato di kota Malang dengan diapit oleh sejumlah kaum muda keturunan Arab.

Menurutnya, arti eksklusifisme adalah "ingin mengatakan bahwa saya paling benar dan aliran lain menyeleweng atau sesat".

Farid Alatas pun menyatakan dirinya menolak sikap eksklusif. Dan menurutnya, sikap seperti itu sudah ditunjukkan oleh orang-orang keturunan Arab pendahulu dari tarekat Alawiyin yang disebutnya tidak pernah mendiskriminasikan penganut aliran lainnya.

"Jadi memperkukuh identitas tidak semestinya mengakibatkan sikap eksklusifisme," ujar Farid

"Yang menjadi masalah adalah asabiah (fanatik), asabiah yang begitu kuat sehingga menolak golongan, aliran atau akidah yang lain. Ini yang menjadi masalah," tegasnya.

Seminar tentang keturunan Arab: Apa pentingnya?

Dalam jumpa pers, Ketua panitia seminar sekaligus peneliti LIPI, Ahmad Najib Burhani mengatakan, pihaknya menggelar konferensi ini justru untuk memberikan pemahaman mendalam (understanding deeply) tentang komunitas keturunan Arab di Indonesia agar "tidak disalahpami".

Najib mengatakan pemahaman seperti itu dibutuhkan ketika merebak apa yang disebutnya sebagai anggapan supervisial tentang komunitas tersebut yang menyebar di media sosial, terutama terkait persoalan politik yang muncul belakangan.

Hak atas foto ARSIP KELUARGA AM ALKAFF
Image caption Tidak ada ideologi politik tunggal di komunitas Arab peranakan di Indonesia. Foto atas: Aktivis Partai Arab Indonesia (PAI) - didirikan 1934 - yang mendukung kemerdekaan Indonesia.

Dalam seminar itu, materi yang dibicarakan dan dibahas juga untuk mengungkap fakta lain yang telah dilakukan orang-orang keturunan Arab dalam bidang lainnya.

"Seperti apa mereka telah membangun, berkontribusi kepada bangsa, dan juga sejauhmana mereka telah meleburkan diri dengan bangsa yang multikultural ini," kata Najib.

Titik tekan lain yang menjadi fokus seminar itu adalah pertemuan atau perjumpaan (incounter) budaya mereka dengan budaya lainnya yang ada di Indonesia.

"Perjumpaan seperti ini akan menghilangkan namanya prejudice, menghilangkan stereotype tentang Arab itu seperti apa," tegasnya.

Hak atas foto AFP
Image caption Ali Alatas (kiri) dipercaya Presiden Suharto sebagai Menteri luar negeri Indonesia.

Dia kemudian menekankan studi ilmiah tentang etnis Arab ini juga untuk mempertegas bahwa Indonesia itu adalah multi kultur, identitas, etnis, maupun agama. "Semuanya justru memperkuat kebhinekaan kita," katanya.

'Penyerbukan antar budaya'

Najib mengakui fakta kebhinekaan itu bisa mengancam persatuan, tetapi menurutnya seminar itu justru ditujukan untuk memperkuat persatuan dengan memahami keragaman tersebut.

Dalam keterangannya, seminar itu diharapkan pula dapat mengisi minimnya kajian tentang orang-orang keturunan Arab di Indonesia. "Semoga akan memantik studi-studi lebih lanjut yang lebih komprehensif," katanya.

Sementara, pimpinan Pusat studi dan penelitian Menara, yang juga menjadi penyelenggara seminar ini, Nabiel Hayaze' mengatakan, seminar itu merupakan bagian dari upaya "penyerbukan antar budaya".

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption "Semangat untuk mempelajari bangsa, atau suku lainnya yang ada di Indonesia, adalah bagian dari penyerbukan antar budaya, dan bagian dari pembentukan bangsa Indonesia," kata Nabiel di hadapan wartawan. Foto atas: nasi kebuli merupakan salah-satu kuliner khas Arab yang dikenal di Indonesia.

"Semangat untuk mempelajari bangsa, atau suku lainnya yang ada di Indonesia, adalah bagian dari penyerbukan antarbudaya dan bagian dari pembentukan bangsa Indonesia," kata Nabiel di hadapan wartawan.

Dia juga menekankan, seminar internasional ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan dan pemahaman yang lebih utuh tentang orang-orang keturunan Arab, sehingga dapat "mengcounter berita-berita di media massa yang tidak bisa mewakili apa yang sedang terjadi," katanya.

Dalam seminar yang berlangsung dua hari itu, dibahas berbagai tema, diantaranya peran keagamaan dan pengaruh orang-orang keturunan Arab di Indonesia, politik kontemporer dan nasionalisme mereka, hingga identitas budaya (musik, bahasa, makanan dan sastra).

Lainnya, konferensi itu juga menelisik tentang identitas sosial mereka (pernikahan dan sistem kekeluargaan), hingga kontribusinya di bidang perekonomian, bisnis, pendidikan dan penerbitan di Indonesia.

Berita terkait