Banjir lahar dingin 'mulai melanda' sejumlah desa di lereng gunung Agung

banjir lahar dingin Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Banjir lahar dingin mulai melanda sejumlah desa di bagian selatan lereng gunung Agung, Bali, akibat peningkatan intensitas hujan dan erupsi gunung Agung.

Banjir lahar dingin mulai melanda sejumlah desa di bagian selatan lereng gunung Agung, Bali, akibat peningkatan intensitas hujan dan erupsi gunung Agung.

"Memang laharnya bersumber dari jatuhan abu (gunung Agung) yang terjadi dalam dua hari terakhir," kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian ESDM I Gede Suantika.

Di media sosial telah tersebar video dan foto yang memperlihatkan antara lain sungai yang mengalir deras tetapi dengan warna kelabu dan coklat.

Ada beberapa foto lainnya memperlihatkan semacam lahar yang mengalir di jalanan desa.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Banjir lahar dingin 'mulai melanda' sejumlah desa di lereng gunung.

Namun keterangan resmi menyebutkan material letusan Gunung Agung itu terbawa air hujan mengalir ke daerah Sungai Yeh Sah di Desa Batusesa, Kecamatan Rendang, Karangasem, Senin (27/11).

Hak atas foto BNPB
Image caption Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan "banjir lahan dingin ini akan meningkat" karena faktor intensitas hujan di sekitar Gunung Agung yang juga meningkat.

Dari laporan yang diterima, ada aroma belerang dari lahar dingin yang bercampur air sungai tersebut, kata Gede Suantika, seperti dilaporkan wartawan di Bali, Raiza Andin.

Secara terpisah, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Nugroho memperkirakan "banjir lahan dingin ini akan meningkat" karena faktor intensitas hujan di sekitar Gunung Agung yang juga meningkat.

Karena itu, "Waspadai banjir lahar hujan (banjir lahar dingin). Jangan beraktivitas di radius berbahaya dan sekitar sungai," kata Sutopo.

Hak atas foto Humas Karangasem
Image caption Foto yang dirilis pemerintah daerah Karangasem, Bali, memperlihatkan aliran deras air sungai bercampur abu vulkanik gunung Agung melanda beberapa desa di wilayah itu.

Sebelumnya, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kepulan abu gunung Agung yang terus-menerus "kadang-kadang disertai erupsi eksplosif" disertai "suara dentuman lemah" yang terdengar sampai jarak 12km dari puncak.

"Sinar api semakin sering teramati di malam hari berikutnya. Ini menandakan potensi letusan yang lebih besar akan segera terjadi," kata juru bicara BNPB, Sutopo Nugroho dalam rilis tertulisnya, Senin (27/11) pagi.

Untuk mengantisipasi segala kemungkinan dan risiko bencana, maka PVMBG telah menaikkan status Gunung Agung dari "Siaga" (level 3) menjadi "Awas" (level 4) terhitung mulai Senin (27/11) pukul 06:00 Wita.

"Status Awas adalah status tertinggi dalam status gunung api," tegas Sutopo.

Berita terkait