Sidang perdana kasus e-KTP: Setya Novanto mengaku sakit, jaksa tuduh terdakwa 'berbohong'

setya novanto Hak atas foto RAHMAT KASUBA/AFP
Image caption Terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP Setya Novanto mengaku dirinya sakit, tetapi jaksa penuntut umum menyatakan Setya "berbohong".

Sidang perdana kasus dugaan korupsi e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto, Rabu (13/12), diwarnai perdebatan sengit antara jaksa penuntut dan kuasa hukum terdakwa tentang kondisi yang bersangkutan.

Digelar di Pengadilan tindak pidana korupsi (tipikor), Jakarta, sidang yang dibuka sekitar pukul 10.10 WIB, tetapi akhirnya diskors sekitar setengah jam kemudian, karena majelis hakim meminta tim dokter memeriksa kesehatan terdakwa.

Sebelum diskors, jaksa penuntut umum (JPU) di dalam ruangan sidang menyatakan bahwa Setya Novanto "melakukan kebohongan" di hadapan majelis hakim terkait sikapnya yang mengesankan dirinya sakit.

Namun pernyataan JPU ini dipertanyakan oleh kuasa hukum Setya Novanto yang mengaku "keberatan" dengan tuduhan itu. Mereka tetap meminta kliennya diperiksa oleh tim dokter dari rumah sakit lainnya.

Setya Novanto hadir di persidangan dengan mengenakan kemeja putih dan terlihat lebih sering menunduk di kursi terdakwa. Dia juga tidak menjawab sebagian besar pertanyaan majelis hakim saat ditanya identitasnya.

Setya Novanto terdiam dan menunduk

Beberapa kali majelis hakim menanyakan "apakah nama lengkap saudara Setya Novanto" kepada terdakwa, tetapi yang bersangkutan hanya menjawab pelan dan kemudian terdiam.

Hak atas foto Aditya Mardiastuti/detikcom
Image caption Sidang yang dibuka sekitar pukul 10.10 WIB, tetapi akhirnya diskors sekitar setengah jam kemudian, karena majelis hakim meminta tim dokter memeriksa kesehatan terdakwa.

Pengacara Setya mengklaim bahwa kliennya "mengeluh sakit", walaupun menurut hasil pemeriksaan tim dokter KPK dan tim dokter RSCM, Setya dalam kondisi sehat dan siap mengikuti persidangan.

Jaksa penuntut KPK menolak klaim terdakwa yang mengaku "diare sebanyak 20 kali" pada Selasa (12/12) malam. "Dari laporan pengawal, sepanjang tadi malam, terdakwa hanya dua kali ke toilet, jadi bukan 20 kali," kata salah-seorang jaksa penuntut di ruangan sidang.

Majelis hakim kemudian mengundang tiga orang dokter dari RSCM yang sudah memeriksa Setya Novanto pada Rabu pagi sebelum mengikuti persidangan. Ketiganya menyatakan bahwa Setya siap mengikuti persidangan.

Dan saat diulang pertanyaan oleh majelis hakim tentang identitasnya, Setya tetap tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia terlihat terdiam dan kemudian dia minta izin ke kamar kecil sehingga sidang sempat diskors lima menit.

JPU: Setya 'melakukan kebohongan'

Sidang dibuka kembali, dan Setya Novanto tidak menjawab pertanyaan yang diajukan majelis hakim. "Jadi bagaimana ini penasihat hukum, klien saudara tidak menjawab pertanyaan saya. Apakah ini memang tidak mendengar atau bagaimana?" tanya majelis hakim.

Salah-seorang pengacara Setya, Maqdir Ismail kemudian menjawab bahwa ada perbedaan diantara tim dokter yang memeriksa kliennya. Karena itulah, dia mengusulkan agar kliennya diperiksa tim doket dari rumah sakit lain.

Hak atas foto Kompas.com/Garry Andrew Lotulung
Image caption Setya novanto hadir di persidangan dengan mengenakan kemeja putih dan terlihat lebih sering menunduk di kursi terdakwa.

"Agar tidak terjadi polemik, kata Maqdir.

Jaksa penuntut kemudian menganggap Setya melakukan kebohongan dan kemudian disanggah oleh pengacaranya.

Sekitar pukul 11.05 WIB, majelis hakim menskors sidang dan meminta Setya menjalani pemeriksaan secara menyeluruh di salah-satu ruangan kesehatan pengadilan tipikor Jakarta.

Dalam kasus dugaan korupsi proyek e-KTP dengan nilai sekitar Rp5,9 triliun ini, Setya Novanto dianggap terlibat oleh KPK, walaupun dia sempat dinyatakan bebas melalui gugatan praperadilan yang diajukannya.

KPK kemudian mengajukan dakwaan lainnya terhadap Setya Novanto dan dia akhirnya dinyatakan sebagai terdakwa.

Namun dalam beberapa kali kesempatan sidang, Setya mengaku sakit. Pada hampir bersamaan, dia juga mengajukan gugatan pra peradilan untuk dakwaan yang kedua ini.

Dalam berbagai kesempatan, Setya Novanto juga selalu membantah terlibat dalam kasus ini, meskipun sebagian besar saksi membenarkan dugaan keterlibatannya dalam kasus pengadaan e-KTP.

Berita terkait