Trump bantah mau pecat kepala tim penyelidikan skandal Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Donald Trump Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Donald Trump diduga saling dukung

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah berencana memecat konselor khusus Robert Mueller, yang memimpin investigasi dugaan skandal campur tangan Rusia pada pemilihan presiden 2016.

Dalam beberapa waktu terakhir, ketegangan meningkat antara Gedung Putih dengan tim penyelidikan yang dipimpin Mueller.

Pada Sabtu (16/12) pengacara tim transisi kepresidenan Trump menuduh tim Mueller memperoleh ribuan surat elektronik untuk penyelidikannya dengan cara yang tak sesuai hukum.

Trump mengatakan "hal itu kelihatan tidak bagus" dan menurut Trump, timnya "sangat marah."

"Saya tidak dapat membayangkan ada sesuatu (yang salah di tim itu). Karena seperti saya bilang, tidak ada kolusi (dengan Rusia)," ujar Trump seusai menghabiskan akhir pekan di Camp David.

Pemerintahan Trump selalu membantah ada kerja sama tim kampanye dengan Rusia dalam memenangkan pemilihan presiden 2016. Trump menyebutkan penyelidikan itu sebagai "perburuan penyihir".

Ditanya wartawan soal rencana memecat Mueller terkait kritiknya itu, Trump mengatakan, "Tidak, saya tidak (berencana memecatnya)."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Presiden Trump setibanya dari Camp David, akhir pekan lalu

Masalah dalam surat-surat elektronik itu

Pengacara kelompok Trump for America (TFA) yang membantu masa transisi ke Gedung Putih pasca pemilihan, melakukan protes setelah mereka mengetahui investigasi Mueller mendapatkan lebih dari puluhan ribu surat elektronik mereka.

Kory Langhofer dari TFA mengirimkan surat ke komite Kongres Amerika bahwa catatan-catatan itu diperoleh dengan cara yang "tak sesuai hukum".

Hak atas foto Getty Images
Image caption Selain skandal pilpres dengan Rusia, Trump juga didemo isu pelecehan seksual pada 14 Desember 2017

TFA menggunakan berbagai fasilitas, termasuk surat elektronik, dari badan pemerintah General Services Administration (GSA) pada periode setelah terpilihnya Trump November 2016 hingga pelantikan Januari 2017.

"Staf GSA secara melanggar hukum mengirim materi rahasia TFA, termasuk komunikasi yang khusus," sebut Langhofer dalam suratnya, terkait penyelidikan Mueller.

Email-email itu dilaporkan melibatkan 13 pejabat transisi Trump, termasuk penasehat keamanan Michael Flynn yang didakwa bersalah memberikan pernyataan bohong kepada FBI, awal bulan ini.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Michael Flynn mantan penasehat keamanan Trump

GSA, menurut Langhofer, tidak memiliki kontrol atau hak atas rekaman pembicaraan dalam email-email tersebut. Dia menyebut hak konstitusional tim transisi sudah dilanggar oleh mereka.

Reaksi dari tim Mueller

Juru bicara Mueller menyebutkan tidak ada yang salah dengan apa yang mereka kerjakan.

"Ketika kami memperoleh email-email untuk investigasi kejahatan, kami telah mendapatkan persetujuan pemilik email atau melalui proses pemeriksaan yang selayaknya," kata Peter Carr.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Robert Mueller adalah mantan direktur FBI pada 2001-2013

Wakil Penasehat GSA Lenny Loewentritt juga membantah tuduhan Langhofer soal keterlibatan lembaganya. Ia memastikan data atau rekaman tim transisi Trump hanya akan melalui tim pengacara.

"Tim transisi mengetahui materi yang diberikan kepada penegak hukum. Makanya tidak ada hak pribadi yang dilanggar," kata Leowentritt seperti dikutip Buzzfeed.

Perwakilan Partai Demokrat Eric Swalwell juga menyebutkan, "tuduhan itu adalah salah satu cara mendiskreditkan penyelidikan oleh Mueller ketika tuduhan #TrumpRussia semakin kuat."

Yang didapat penyelidikan Mueller sejauh ini

Badan intelijen Amerika meyakini bahwa Moskow mencoba mempengaruhi pemilihan presiden untuk keuntungan Trump. Tuduhan ini i sudah dibantah Rusia dan presiden Trump.

Selain Trump menyebutnya sebagai "perburuan penyihir", kalangan Partai Republik juga menyebut penyelidikan itu bias.

Pada awal bulan ini, Flynn, pejabat paling senior Trump yang disangka sebagai bagian dari skandal itu, mengakui memberikan pernyataan bohong ke FBI terkait pertemuan dengan duta besar Rusia. Setelah itu ia menyatakan akan bekerja sama dengan proses penyelidikan.

Bekas pembantu Trump lainnya, George Papadopoulos juga dituding memberikan pernyataan yang salah atau bohong kepada agen FBI.

Hak atas foto Reuters
Image caption Paul Manafort di kantor FBI menjalani pemeriksaan

Pada bulan Oktober, mantan manager kampanye Trump, Paul Manafort dan rekan bisnisnya Rick Gates juga dituding menipu Amerika dalam kerja sama dengan Ukraina. Keduanya membantah, meski pusat dari pusaran itu adalah mantan presiden Ukraina yang sangat dengan dengan Rusia.

Pengacara pribadi Presiden Trump direncanakan bertemu dengan Mueller dan anggota timnya pada pekan ini. Menurut laporan media Amerika, mereka berencana akan membahas tahapan selanjutnya dari penyelidikan tersebut.

Berita terkait