Toko-toko di Indonesia banyak yang gulung tikar di tahun 2017, bagaimana tahun depan?

Jakarta, Indonesia Hak atas foto Reuters
Image caption Industri retail di Indonesia sedang terpuruk, kata Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).

Tahun 2017 menjadi tahun yang berat bagi industri ritel di Indonesia lantaran banyak perusahaan ritel pakaian jadi yang menutup sebagian toko atau bahkan sampai gulung tikar.

Tahun 2108, bisnis ritel diperkirakan masih lesu lantaran fenomena meningkatnya leisure economy atau belanja untuk rekreasi kata pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics & Finance (INDEF), Bhima Yudhistira.

Gelombang penutupan beberapa gerai ritel sepanjang tahun ini di Indonesia, termasuk gerai 7 eleven, matahari dan Lotus, dipandang sebagai realitas yang menunjukkan penurunan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, Bhima Yudhistira mengatakan belakangan terjadi kecenderungan perubahan pola konsumsi masyarakat dari konsumsi barang menjadi belanja barang yang didasarkan pada gaya hidup dan lebih pada aktualisasi diri atau leisure yang berbasis online.

"Artinya belanja untuk pakaian jadinya turun, tetapi belanja dari rekreasi, transportasi dan komunikasi ini pertumbuhannya cukup bagus, di atas 5%. Ini menandakan mungkin masyarakat berhemat untuk beli pakaian jadi, untuk membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari, tetapi mengalokasikan lebih banyak untuk traveling," ujar Bhima kepada BBC Indonesia, Selasa (19/12).

Corporate Communication General Manager PT Trans Retail Indonesia, Satria Hamid mengakui performa industri ritel memang mengalami perlambatan lantaran perubahan pola konsumsi masyarakat yang berujung pada banyak bisnis ritel yang kemudian gulung tikar.

"Menutup toko ini memang adalah salah satu strategi di bisnis ritel. Kalau toko yang sudah tidak bisa perform, daripada menganggu menganggu kinerja perusahaan, lebih baik ditutup. Kita cari daerah yang lebih baik," ujarnya.

Sepanjang 2017, gelombang penutupan ritel di Jakarta bermula pada penutupan seluruh gerai 7 Eleven pada akhir Juni lalu, dilanjutkan dengan dua gerai Pasaraya milik Matahari dan seluruh gerai Lotus yang tersebar di 5 lokasi pada bulan Oktober. Departemen store lainnya yang lisensinya berasal dari Inggris yakni Dabenhams dan toko dari merek asal Amerika Serikat GAP juga akan menutup gerainya di penghujung tahun ini.

Hak atas foto PETER PARKS/AFP/Getty Images
Image caption Meski secara resmi, 7-Eleven di Indonesia akan ditutup pada 30 Juni 2017, namun banyak gerai waralaba tersebut yang sudah lebih dulu ditutup sejak pekan lalu.

Prospek ekonomi digital makin moncer

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan konsumsi pakaian jadi di triwulan III 2017 memang mengalami perlambatan, hanya tumbuh 2%. Padahal tiga tahun belakangan, pertumbuhannya sebesar 5% namun terus mengalami penurunan.

Dengan adanya tren leisure economy, Bhima memprediksi prospek bisnis online atau e-commerce semakin bersinar. Apalagi, berdasar hasil survey, 70% kaum milenial gemar jalan-jalan.

Adapun saat ini share bisnis online baru 1% dari total retail nasional, dengan nilai transaksi sebesar Rp 75 triliun, menurut data Bank Indonesia.

Dengan indikasi bahwa nilai transaksi e-commerce pada hari belanja online nasional (harbolnas) beberapa hari lalu mencapai Rp 4 triliun rupiah, ia optimistis pada 2018 nilai transaksi ekonomi digital akan mencapai Rp 120 triliun.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Diskon besar-besaran menjelang penutuptan toserba Lotus di bilangan Thamrin Jakarta Pusat pada Oktober lalu.

Apalagi, teknologi finansial (fintech) yang menjadi pendukung e-commerce per September 2017 nilai pendanaanya mencapai Rp 1,6 triliun rupiah.

"Porsi yang 1% tadi akan naik menjadi 3% dari total ritell, didukung oleh fintech dan banyak perusahaan konvensional yang berkolaborasi dengan digital," jelasnya.

Ia mencontohkan, perusahaan taksi konvensional Blue bird kerjasama dengan start-ups, sementara bank menjalin kerja sama dengan fintech. Bahkan, perusahaan transportasi berbasis aplikasi, Gojek, sudah mengakuisisi tiga fintech yang cukup besar.

Hak atas foto ADEK BERRY
Image caption Gojek adalah aplikasi transportasi online terbesar di Indonesia.

Kendati begitu, akhir tahun ini dipandang sebagai titik balik dari daya beli masyarakat, terutama di daerah yang sebelumnya mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif seperti Kalimantan Timur, Riau, dan Aceh, seiring dengan membaiknya harga komoditas.

"Jadi ini semua akan berkontribusi pada kenaikan daya beli. Transimisinya nanti ritel-ritel di daerah justru makin banyak lagi yang hidup," ujar Bhima.

Namun, ia memproyeksikan bisnis ritel pakaian jadi di Jakarta akan terus stagnan.

"Ritel pakaian jadi di Jakarta memang kurang begitu bagus prospeknya. Mall akan tetap hidup, tapi sebagai pusat kuliner. Karena tadi, ada leisure economy. Orang akan lebih banyak jalan-jalan."

Inovasi mengikuti perubahan

Kendati begitu, Corporate Communication General Manager PT Trans Retail Indonesia, Satria Hamid mengaku tak gentar dengan perubahan pola berbelanja konsumen dan percaya diri sanggup berkompetisi dengan pebisnis online. Kata kuncinya, inovasi mengikuti perubahan.

"Kalau terjemahan di perusahaan kami sendiri, kami kembangkan, kami mekarkan dengan memadukan konsep entertaintment, shopping is experience, kemudian juga kita sasar segmen keluarga."

"Konsep yang kita kembangkan kita tidak hanya berjualan saja, kami juga kembangkan konsep four in one. Kita ramu konsep berbelanja, bersantap atau kuliner, bermain, dan menonton," imbuhnya.

Hak atas foto AHMAD ZAMRONI/AFP/Getty Images
Image caption Melempemnya industri ritel menuntut pengusaha untuk berinovasi dalam mengemas konsep berjualan.

Bahkan, di saat ritel-ritel lain menutup toko, Satria menegaskan pihaknya cukup percaya diri membuka toko.

"Seiring terus bertumbuhnya kota-kota di Indonesia. Tahun ini saja, terakhir di Cirebon, kita sudah membuka 19 toko. Selain itu, di penghujung tahun, kita akan membuka toko secara serentak di tiga kota, Bintaro, Sidoarjo dan Lampung," kata dia.

Lebih jauh, Satria menuturkan bisnis ritel merupakan bisnis yang sangat dinamis. Yang menjadi pemimpin pasar, menurutnya, adalah mereka yang bisa "menterjemahkan apa kemauan konsumen secara tepat, sesuai dengan segmentasinya".

Tahun politik genjot konsumsi

Selain tren leisure economy, perekonomian Indonesia pada tahun depan juga akan dibayangi dengan tahun politik.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan salah satu peluang positif dari tahun politik adalah pengeluaran sektor konsumsi yang diprediksi ikut naik.

"Karena tahun politik, biasanya banyak concern, banyak pertanyaan terutama mengenai investasi. Kalau konsumsi kemungkinan terbantu karena kegiatan yang terkait dengan pilkada maupun pemilihan legislative sendiri. Tapi untuk investasi seharusnya Indonesia sudah pada tahap dimana kegiatan ekonomi dan politik tidak saling berpengaruh terlalu dekat lagi,"

Hak atas foto MOLLY RILEY/AFP/Getty Images
Image caption Bambang Brodjonegoro mengatakan salah satu peluang positif dari tahun politik adalah pengeluaran sektor konsumsi yang diprediksi ikut naik.

Beberapa sektor yang menopang pertumbuhan ekonomi tahun depan antara lain infrastruktur, perbankan, dan manufaktur.

Ekonom dari Universitas Padjajaran Ina Primiana mengakui, pada tahun-tahun dimana pemilu digelar, sektor ekonomi mikro kecil tumbuh dan bergerak lantaran membanjirnya pemesanan untuk kebutuhan pilkada itu.

"Tapi menurut saya itu hanya di bawah, di sisi mikro kecil, tapi tidak di mikro menengah besar yang lebih bisa mendorong lebih besar untuk pertumbuhan ekonomi, terutama untuk membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan daya beli," ujar Ina kepada BBC Indonesia.

Pada Juni 2018 nanti, 171 daerah akan melangsungkan pemilihan kepala daerah serentak. Tak hanya momentum pilkada, tahun depan juga diprediksi menjadi tahun pemanasan menjelang pemilihan presiden dan legislatif pada April 2019.

Topik terkait

Berita terkait