Ridwan Kamil masih belum dapat pasangan untuk Pilgub Jabar

Ridwan Kamil Hak atas foto Julia Alazka untuk BBC Indonesia
Image caption Ridwan Kamil masih menunggu negosiasi partai-partai pendukungnya untuk pasangannya di Pilkada 2018.

Ridwan Kamil tampaknya 'ketinggalan' dibandingkan dengan calon gubernur lain yang akan bertarung dalam Pilgub Jawa Barat, Juni 2018 mendatang.

Walau pendaftaran resmi baru pada pekan pertama Januari, Partai Partai Gerindra dan PKS sudah mengumumkan pasangan calonnya, Sudrajat dan Ahmad Syaikhu, di Jakarta, Rabu (27/12) sore.

Seolah tak mau kalah, malam harinya Partai Demokrat dan Golkar yang mengumumkan koalisinya dengan mengusung Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi.

Namun Ridwan Kamil -yang lebih dulu mengantongi syarat pencalonan- malah masih menjomblo biarpun sudah sempat mendapat 'sanksi' dengan Partai Golkar yang menarik dukungan atasnya berhubung tidak menetapkan calon wakil gubernur sesuai batas waktu yang ditetapkan.

Bagaimanapun wali kota Bandung yang akrab dipanggil Kang Emil itu tidak terlalu pusing.

"Sudah saya diserahkan kepada DPP (Dewan Pimpinan Pusat), jadi saya menunggu kabar posisinya bagaimana urusan wakil," kata Emil kepada para wartawan usai meresmikan Gedung Bandung Creative Hub, Kamis (28/12).

Menurutnya, proses pemilihan dan penentuan calon wakil gubernur yang akan mendampinginya masih dalam tahap negosiasi di kalangan partai pendukung, yakni Nasdem, PPP, dan PKB.

Dia juga menepis anggapan yang menempatkan pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi -yang seringkali membayanginya dalam setiap survei- sebagai saingan berat.

"Kalau saingan berat tidak berat mah, di setiap kompetisi pilkada selalu saya asumsikan persaingan tidak mudah supaya kita berikhtiar terus, tidak takabur. Jadi survei baguspun sekadar referensi saja, bukan menjadi sebuah ukuran yang utama," ujar wali kota Bandung yang selalu unggul di setiap survei Pilgub Jabar itu.

Duet DM

Pasangan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi, dengan inisial sama-sama DM, bisa dikatakan memiliki pengalaman yang sama. Dalam istilah Dedi Mulyadi, pasangan dukungan Partai Demokrat dan Golkar itu merupakan 'koalisi untuk merajut kisah cinta Jawa Barat yang tertunda', seperti dilaporkan wartawan di Bandung, Julia Alazka, untuk BBC Indonesia.

Soalnya Dedi Mulyadi pernah 'patah hati' ketika partainya justru memilih untuk mendukung Ridwan Kamil dan bukan dirinya yang merupakan kader setia Golkar.

Sedangkan Deddy Mizwar mengalami 'patah hati' saat ditinggal Partai Gerindra dan PKS, yang awalnya menyatakan akan mendukung pencalonan dirinya namun kemudian mengusung Sudrajat dan Ahmad Syaikhu.

Hak atas foto Julia Alazka untuk BBC Indonesia
Image caption Dedi Mulyadi (tengah) akan berpasangan dengan Deddy Mizwar namun belum diputuskan siapa yang akan menjadi calon gubernur.

Bersatunya kedua DM ini, menurut Dedi Mulyadi, akan menggunakan nama Koalisi Sajajar (sejajar).

"Koalisi ini adalah seperti Rama dan Shinta, seperti Kabayan dan Iteung, seperti bumi dan langit, seperti air dan tanah, yaitu sebuah kesetaraan untuk sama-sama memberikan karya terbaik bagi perubahan kultur dan struktur masyarakat Jawa Barat," jelas Dedi saat konferensi pers di Bandung, Rabu (27/12) malam.

"Bukan persoalan menjabat, tapi mengubah," tegasnya usai penetapan resmi pasangan calon Partai Demokrat dan Golkar yang tidak dihadiri oleh Deddy Mizwar karena sedang sakit.

Tanpa kebijakan?

Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran, Firman Manan, melihat koalisi Partai Golkar dan Demokrat koalisi 'office-seeking' atau mencari jabatan, yang disepakati dalam waktu relatif cepat.

Dengan demikian, koalisi hanya menyepakati nama kandidat dan tidak menyepakati hal-hal yang terkait dengan agenda-agenda kebijakan yang akan diusung.

"Koalisi ini terbentuk sebagai konsekuensi ditinggalkannya Deddy Mizwar dan Partai Demokrat oleh PKS dan PAN," ujar Firman.

Dosen Universitas Padjajaran ini juga memprediksi ada dua potensi masalah yang timbul dari terbentuknya koalisi ini.

"Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi hingga saat ini mengincar posisi cagub."

Masalah kedua, lanjut Firman, koalisi ini belum final karena baru diputuskan di tingkat Jawa Barat dan belum disetujui oleh elit-elit partai di tingkat pusat. "Sehingga tidak tertutup kemungkinan terjadi perubahan."

Sementara pengamat politik dari Universitas Padjadjaran lainnya, Muradi, menduga dalam koalisi dua DM ini maka Dedi Mulyadi -dari Partai Golkar- yang berpeluang lebih besar untuk menjadi calon gubernur karena posisi Partai Demokrat di Jawa Barat yang tidak sekuat mitra koalisinya itu.

"Artinya prediksi saya, jika situasinya seperti saat ini, maka besar kemungkinan Demokrat akhirnya mengalah dan memberiokan posisi cagub ke Demul (Dedi Mulyadi) dan Golkar," ujar Muradi.

Masih ada waktu sekitar dua minggu lagi dan perundingan -atau mungkin juga transaksi politik- tampaknya akan makin giat menjelang tanggal 8 atau 10 Januari nanti, saat penetapan resmi calon Pilkada 2018.

Topik terkait

Berita terkait