Ratusan terduga teroris ditangkap pada 2017, apakah potensi teror akan berkurang?

Densus 88 Hak atas foto AFP
Image caption Selama Desember 2017, setidaknya Densus 88 menangkap 20 terduga teroris di berbagai daerah, termasuk Surabaya, antara lain pada 9 Desember.

Sebanyak 172 orang ditangkap kepolisian dalam 12 bulan terakhir dengan status terduga teroris, termasuk pria berinisial MJ di Tenggarong, Kutai Kartanegara, yang Sabtu (30/12) lalu diciduk Densus 88 Antiteror.

Namun pengamat terorisme yang pernah bergabung dengan organisasi radikal Darul Islam, Al-Chaidar, menyebut rentetan penangkapan tersebut tidak akan menihilkan potensi teror di Indonesia.

"Saya kira jumlah kasus dan penangkapan pelaku teror akan semakin rendah. Menghilangkan sama sekali kan tidak mungkin karena paham itu sudah mengakar lama di Indonesia," ujarnya melalui sambungan telepon, Minggu (31/12).

Bagaimanapun Al-Chaidar berpendapat kepolisian sudah menerapkan strategi penindakan yang tepat terhadap kelompok teror, meski beberapa kali diduga tidak sesuai standar operasional prosedur atau melanggar melanggar hak asasi.

Al-Chaidar meambahkan dalam masa sepanjang tahun, biasanya potensi teror tertinggi muncul pada perayaan natal, pergantian tahun serta awal hingga akhir Januari.

Sejumlah bom dan teror dalam bentuk lain pernah terjadi di Indonesia dalam momen itu, antara lain pada malam natal tahun 2000 di sejumlah gereja dan serangan teror di kawasan Thamrin, Jakarta pada Januari 2016.

Hak atas foto AFP
Image caption Awal Agustus 2017, lima orang yang diduga merencanakan serangan teror ke Istana Negara, Jakarta, ditangkap di Bandung, Jawa Barat.

Dan Kepolisian Kalimantan Timur tidak menjelaskan tidak mau mengambil risiko keamanan pada pergantian 2017 menuju 2018 sehingga menangkap MJ yang diduga berhubungan dengan kelompok teror.

Dalam penangkapan atas MJ Itu , polisi mengklaim juga menyita senjata rakitan tak berizin dari rumah MJ di Kelurahan Mangkurawang.

"Senjata kalau tidak berada di tangan sebenarnya, berbahaya. Ini malam tahun baru, berbahaya kalau dipakai. Bisa geger," kata Kapolda Kalimantan Timur, Irjen Pol Safaruddin, kepada para wartawan di Balikpapan,

Sementara Wakil Densus 88, Brigjen Eddy Hartono, kepada BBC Indonesia mengatakan penangkapan itu merupakan pre-emptive strike, istilah yang berarti melumpuhkan lawan sebelum lawan menyerang.

Hak atas foto AFP
Image caption Serangan teror di Kampung Melayu, Mei 2017, terjadi sekitar pukul 21.00 WIB, di terminal bus dan halte Transjakarta.

Dan Al-Chaidar sepakat bahwa penindakan Densus 88 selama 2017 pre-emptive strikekarena ditujukan pada sel-sel teror yang 'tidur'. Ia berkata, para terduga teroris itu ditangkap ketika belum merencanakan serangan ke ruang publik.

"Belum ada rencana apapun dari mereka untuk melakukan serangan, penegakan hukum itu untuk mengantisipasi saja," tuturnya.

Al-Chaidar memprediksi sel-sel teror akan semakin berkurang dan berpusat di daerah-daerah yang selama ini disebutnya sebagai pusat kegiatan kelompok teror, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.

Sepanjang 2017, polisi menangkap pelaku teror di beberapa kota di Jawa Tengah, antara lain Sukoharjo, Kendal, Karanganyar, dan Temanggung.

Penelitian yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, BNPT, pada 2015 menyebut provinsi itu sebagai barometer perkembangan kelompok Islam radikal dan teroris.

Hak atas foto AFP
Image caption Nur Solikin divonis 11 tahun penjara, September lalu, karena merancang teror ke Istana Negara, Jakarta menjelang pergantian tahun 2016 ke 2017.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Muhammad Iqbal, menyebut kepolisian tidak akan mengurangi intensitas penindakan terhadap para terduga teroris namun pada saat bersamaan berharap pencegahan dan deradikalisasi akan mengurangi jumlah kasus teror tahun 2018.

"Kami juga menyebar simbol-simbol kepolisian, TNI dan ormas agar ruang gerak pelaku teror sempit. Di dunia maya kami juga patroli. Memang harus waspada, ada upaya preventif dan penegakan hukum," ujar Iqbal.

"Ada berbagai ormas dan pemerintah lokal yang bersinergi dengan kami melakukan pencegahan, deradikalisasi, membuka wawasan bahwa paham radikal itu salah, supaya ada daya cegah dan masyarakat tidak terkontaminasi doktrin itu," tambahnya.

Dari 172 pelaku teror yang ditangkap Densus 88 dari awal 2017 hingga 29 Desember lalu, 68 di antaranya masih menghadapi proses penyidikan dan 76 lainnya menjalani persidangan.

Sementara itu, 10 dari total 172 orang itu kini telah dijatuhi vonis bersalah dengan 16 orang tewas dalam penyergapan dan dua lainnya meninggal karena bunuh diri.

Hak atas foto AFP
Image caption Polri menyebut dalam beberapa tahun terakhir pelaku teror justru menargetkan polisi sebagai korban utama.

Salah satu 'teror besar' sepanang tahun 2017 terjadi di terminal Kampung Melayu, Jakarta, pada 24 Mei, berupa ledakan bom dan serangan yang mengakibatkan tiga polisi tewas di tempat.

Dan pada Juni 2017, kepolisian menetapkan 36 orang menjadi tersangka teror tersebut selain dua pelaku yang tewas dalam baku tembak di terminal bus.

Sepanjang 2017, tercatat 18 polisi menjadi korban teror dengan empat di antaranya tewas, yang merupakan peningkatan korban dibanding tahun 2016 ketika 12 polisi menjadi korban dan seorang tewas.

Sejak beberapa tahun belakangan, Polri menyebut personel mereka juga menjadi sasaran pelaku teror.

Topik terkait

Berita terkait