Tidak ada pesawat jet penumpang yang jatuh, 2017 tahun 'yang paling aman dalam sejarah'

pesawat Hak atas foto Getty Images

Tahun 2017 menjadi tahun teraman dalam sejarah penerbangan komersial, baik di Indonesia maupun di berbagai negara di dunia. Tercatat tidak ada pesawat jet komersial yang jatuh.

Kesimpulan ini dikeluarkan oleh lembaga konsultan To70 dan Jaringan Keselamatan Penerbangan (Aviation Safety Network/ASN).

Ketua Komite Keselamatan Nasional Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, mengatakan minimnya kecelakaan fatal di Indonesia pada 2017 tak lepas dari upaya berbagai pihak untuk meningkatkan standar keselamatan penerbangan.

"Ada kelompok-kelompok diskusi di antara maskapai penerbangan, Kementerian Perhubungan aktif melakukan pengecekan di lapangan dan audit terhadap maskapai, terutama airlines besar," kata Soerjanto kepada wartawan BBC Indonesia, Mohamad Susilo, hari Selasa (02/01).

Menurut Soerjanto, salah satu faktor terbesar yang mendorong makin amannya penerbangan komersial di Indonesia adalah pelatihan.

"Kami selalu menekankan pentingnya pelatihan operasional dan meminta seluruh maskapai penerbangan untuk mengikuti standar prosedur yang berlaku," katanya.

Di sisi lain, sejumlah maskapai juga mendirikan semacam pusat kajian yang menelaah kecelakaan-kecelakaan di masa lalu dan pelajaran apa yang bisa diambil dari insiden-insiden tersebut.

"Seperti Lion Air dan AirAsia, mereka mendirikan lesson centre, semacam training centre untuk mengingatkan kepada semua pihak, terutama para pilot. Untuk masalah teknis, seperti sudah oke, tidak ada masalah," kata Soerjanto.

Kecelakan fatal terakhir di Indonesia terjadi pada 28 Desember 2014 ketika pesawat AirAsia jatuh di Laut Jawa dalam penerbangan dari Surabaya menuju Singapura akibat cuaca buruk.

Kecelakaan ini menewaskan 155 awak dan penumpang.

Catatan internasional

Hasil pemantauan Jaringan Keselamatan Penerbangan mencatat ada 10 insiden fatal pesawat sepanjang 2017 di seluruh dunia yang menewaskan 79 orang.

Angka itu tercatat sebagai yang paling rendah baik dari segi frekuensi insiden maupun jumlah korban.

Dari 10 kejadian, lima di antaranya melibatkan pesawat kargo dan lima lain pesawat penumpang. Lembaga itu hanya mencatat insiden pesawat sipil dengan kapasitas minimum 14 orang.

Kejadian paling fatal pada 2017 berlangsung pada Januari ketika pesawat kargo Turki jatuh di sebuah desa di Kyrgyzstan yang menewaskan empat kru dan 35 orang di darat.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pesawat milik AirAsia jatuh di Laut Jawa pada akhir Desember 2014, menewaskan 115 penumpang dan awak.

Adapun kecelakaan pesawat militer atau helikopter tidak dihitung. Sehingga peristiwa jatuhnya pesawat angkut Y-8 milik militer Myanmar pada Juni 2017 yang menewaskan 122 orang tidak muncul dalam statistik.

"Sejak 1997 jumlah rata-rata kecelakaan pesawat menunjukkan penurunan tetap. Sebagian besar berkat upaya keselamatan yang dilakukan sejumlah organisasi penerbangan, seperti ICAO, IATA, Flight Safety Foundation, dan industri aviasi," sebut direktur ASN, Harro Ranter.

Merujuk pada statistik, angka kematian akibat kecelakaan pesawat terus menurun selama dua dekade terakhir. Dibandingkan dengan 2017, pada 2005, misalnya, ada lebih dari 1.000 kematian penumpang pesawat penumpang komersial di seluruh dunia.

Kini, rasio kecelakaan adalah satu insiden berbanding 7.360.000 penerbangan.

"2017 adalah tahun teraman bagi penerbangan sepanjang sejarah," kata Adrian Young dari lembaga To70.

Meski demikian, dia menilai jumlah kecelakaan yang rendah harus dipandang sebagai "nasib baik" mengingat masih ada "risiko sangat besar" dalam industri penerbangan sipil.

Risiko-risiko yang dia maksud berwujud teknologi baru, termasuk baterai lithium-ion yang terbakar di dalam kabin. Ada pula faktor "kesehatan mental dan kelelahan" kru pesawat.

Adrian juga menyoroti "beberapa insiden cukup serius tapi tidak mematikan" termasuk kegagalan mesin Air France A380.

Berita terkait