Akan berlabuh ke mana 'swing voter' dalam Pemilu Legislatif 2019?

kotak suara Hak atas foto AFP
Image caption Indonesia akan menggelar Pemilu Legislatif pada tahun 2019 mendatang.

Partai-partai politik di Indonesia diperkirakan harus bekerja lebih keras untuk meyakinkan sekitar 40% calon pemilih tidak loyal atau swing voter jika ingin meraup suara sebanyak mungkin dalam pemilu 2019.

Hal tersebut didasarkan pada hasil survei lembaga riset dan konsultan Saiful Mujani, yang mengungkapkan perpindahan dukungan sebesar 38,4% dari pemilih partai tertentu ke partai lainnya.

"Ini merupakan swing (ayunan) yang besar, dan membuat persaingan partai sangat dinamis," kata Direktur Utama Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Djayadi Hanan, Selasa (02/18), saat mengumumkan hasil jajak pendapat terbaru mereka itu.

Swing voter adalah istilah untuk merujuk pada kelompok pemilih yang pada pemilu sebelumnya mendukung partai A, tetapi pada pemilu mendatang dapat berubah mendukung partai B.

"Para pemilih Indonesia cenderung pemilih yang terbuka, bisa dibujuk oleh partai manapun. Maka Pemilu 2019 sangat tergantung kepada performa partai-partai ini dalam mencari suara dari terutama yang masih swing voter," tambah Djayadi Hanan.

Hak atas foto AFP
Image caption Tidak semua pemilih mendukung satu partai dalam setiap pemilihan yang diikutinya.

Peserta survei yang berjumlah 1.220 orang adalah warga pemilik hak pilih yang dipilih secara acak melalui wawancara tatap muka pada 7-13 Desember 2017 di seluruh provinsi Indonesia.

Tapi mengapa swing voter banyak dijumpai di Indonesia?

"Di Indonesia, party identification (ikatan psikologis dengan partai) itu lemah atau rendah, dan termasuk yang rendah di dunia," ungkap Djayadi.

Temuan SMRC mengungkapkan bahwa kedekatan psikologis dengan partai itu hanya sekitar 11,7%, jadi, menurut Djayadi, hanya satu dari sekitar 10 orang Indonesia yang punya ikatan psikologis kuat dengan partai tertentu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Survei menunjukkan swing voter paling sedikit di PKS dan PDI-P.

Hasil polling SMRC juga mengungkapkan swing voter paling banyak dialami Partai Demokrat (51%), kemudian diikuti PAN (50%), PPP dan Hanura (masing-masing 47%), Gerindra (45%) dan Golkar (38%).

Adapun partai yang paling sedikit swing voter-nya adalah PKS (20%) dan PDI-P (23%). "Bedanya, pemilih PKS pergi sekitar 20% dan belum mendatangkan pemilih baru secara berarti," ungkapnya.

Sementara, demikian temuan survei ini, pemilih PDI-P yang pergi sebesar 23% dan mampu mendatangkan pemilih baru dalam jumlah yang lebih besar.

"Fakta ini menunjukkan terbuka kemungkinan partai-partai yang lolos ke Senayan (DPR) sekarang, akan menjadi tidak lolos atau lolos dengan perolehan suara lebih baik pada pemilu 2019 nanti," paparnya saat membacakan hasil survei.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tidak semua partai yang mendapat kursi di DPR dalam pemilu sebelumnya dijamin masuk lagi ke Senayan.

Lebih lanjut disebutkan tren ini menunjukkan sejumlah partai yang 'belum aman' untuk Pemilu 2019 adalah Nasdem, Hanura, dan PAN sedang yang cenderung menurun tetapi relatif 'masih aman' adalah Golkar, Gerindra, Demokrat dan PKB.

"Satu-satunya partai yang cenderung menguat sejak pemilu 2014 adalah PDI-P," kata Djayadi.

Selain dilatari swing voter 'paling rendah' -sambungnya- partai berlambang banteng ini diidentifikasi dengan sosok Joko Widodo, Presiden Indonesia. "Sekitar 20% responden mendukung PDI-P karena dianggap partai yang mendukung Jokowi," jelasnya.

Menanggapi kehadiran swing voter, politikus PDI Perjuangan Maruarar Sirait mengatakan itu merupakan tantangan semua partai di Indonesia. "Untuk meningkatkan kedekatan dan kepercayaan rakyat kepada partai, karena kecil sekali yang loyal."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Indonesia akan menggelar Pemilu Legislatif dan Presiden pada tahun 2019 mendatang sementara pilkada serentak pada 27 Juni tahun ini.

Tetapi hasil survei tentang loyalitas pemilih partai ini dipertanyakan oleh Partai Gerindra, yang pemilihnya -menurut hasil survei- dianggap tidak loyal.

"Kok Gerindra swing voternya dikatakan relatif besar?" kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono.

Padahal ada sejumlah peristiwa yang menunjukkan simpatisan atau pengurus partai PDI-P 'berbondong-bondong pindah ke Partai Gerindra', jelas Ferry sambil merujuk pada peristiwa perpindahan sejumlah pengurus PDI-P di Jakarta ke partai yang dipimpinnya.

Dari peristiwa itu, menurutnya, "Kok tidak menggambarkan bahwa tingkat swing voter yang ada di PDI-P juga besar?"

Hak atas foto AFP
Image caption Meraih swing voter dianggap penting dalam pemilu 2019.

Sementara, Wakil Ketua Umum PAN, Ahmad Hanafi Rais, juga mempertanyakan hasil survei yang menyebut posisi partainya 'belum aman' dalam Pemilu Legislatif 2019.

"Biasanya survei terhadap partai-partai, khususnya PAN, itu kita amati selalu 2%, 1,9%... Tetapi kemudian hasilnya, dari empat kali pemilu, PAN selalu 7%, 6,4%, dan 7,7% dari hasil pemilu ke pemilu," kata Hanafi.

Lebih lanjut Hanafi kemudian menyoroti secara umum hasil sejumlah survei yang dianggapnya memuat agenda politik tertentu.

"Saya kira susah juga berharap lembaga survei itu obyektif atau netral. Semua pasti ada keberpihakan, punya agenda masing-masing, entah itu agenda politik, bisnis, atau lainnya," kata Hanafi.

Topik terkait

Berita terkait