Tulang Punggung: ketika perupa dan buruh perempuan berkolaborasi

tulang punggung Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Karya kolektif Rajut Kejut dipamerkan dalam pameran proyek seni perempuan tulang punggung.

Kolaborasi antara dua kolektif perempuan perupa dan buruh perempuan untuk merepresentasikan relasi antara industri dan buruh perempuan menjadi tema utama yang diangkat dalam proyek seni perempuan perupa 2017 yang saat ini masih berlangsung di Taman Ismail Marzuki.

Tak bisa dipungkiri, seniman perempuan menjadi pemain utama dalam perkembangan seni kontemporer. Namun, tak demikian halnya dengan buruh perempuan.

Meski mendominasi sektor ekonomi informal, posisi mereka masih subordinat dengan buruh pria. Persoalan yang mereka hadapi pun bejibun, mulai dari kesenjangan upah, hak-hak normatif seperti cuti haid dan hak cuti melahirkan yang belum terpenuhi, dan yang paling kentara adalah kekerasan sosial.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Celotehan soal upah dari buruh perempuan menghiasi pameran proyek seni perempuan perupa 2017.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyoroti persoalan buruh perempuan di Indonesia melalui proyek seni perempuan perupa yang mengusung tema Tulang Punggung: Relasi Industri terhadap buruh perempuan.

Peran ganda

Menurut sang kurator, Angga Wijawa, proyek seni kali ini melihat bagaimana industri mempengaruhi perempuan.

'Akhirnya kita melihat bahwa ada peran ganda perempuan yang terjadi oleh buruh, dia sebagai pekerja dan sebagai ibu rumah tangga yang bekerja secara domestik, mengurus anak, mengurus suami, tapi dia juga bekerja mencari penghasilan,' ujar Angga kepada BBC Indonesia.

Berbeda dengan proyek seni tahun-tahun sebelumnya yang berkolaborasi dengan seniman tunggal, pameran kali ini menampilkan presentasi dari dua kolektif perempuan seniman dari dua generasi yang berbeda, yang dianggap sebagai simbol representasi dari serikat buruh.

'Sebenarnya ini sebagai representasi bagaimana buruh bersama-sama itu lebih berdaya, dengan serikat misalkan. Kemarin saat dimulainya proyek ini, saya pribadi mengharapkan ada kerja kolaborasi antara buruh bersama senimannya. Mungkin akan ada saling silang pengetahuan yang akhirnya mereka bisa saling berdaya masing-masing,'

Dua kolektif perempuan seniman tersebut adalah Buka Warung yang terdiri dari perempuan muda dan Rajut Kejut yang terdiri dari perempuan yang rata-rata telah berumah tangga dan menjadi ibu.

Kebahagiaan menurut buruh

Yoga dan karaoke lagu-lagu dangdut populer menjadi kesenangan yang digemari para buruh perempuan di tengah tekanan pekerjaan mereka di pabrik elektronik yang berlokasi di Depok, Jawa Barat.

Salah satu seniman dari Buka Warung, Astri Purnama Sari mengungkapkan ide tentang konsep kebahagiaan bagi buruh perempuan menjadi tema karya yang ditampilkan Buka Warung di proyek seni perempuan perupa kali ini.

"Akhirnya kita mau mencoba merepresentasi itu, gimana sih para buruh-buruh itu bisa survive, bisa bersyukur. Karena mereka rata-rata bekerja di sana sampai 20 tahun, sampai 21 tahun. Nah itu bertolak belakang sama pekerjaan anak muda, khususnya di internal buka warung sendiri. Karena di dalam Buka Warung sendiri banyak yang freelance (pekerja lepas), banyak yang setahun kerja terus cabut. "

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Instalasi ruang karaoke yang dipajang di pameran. Karaoke menjadi salah satu kenikmatan tersendiri bagi buruh perempuan.

Lalu bagaimana dengan proses berkarya para seniman ini?

Desainer grafis berusia 25 tahun ini menuturkan awalnya melakukan riset dan wawancara buruh pabrik elektronik.

"Ternyata mereka lucu-lucu. Ada yang suka banget sama Via Vallen, terus ada yang pakai lipstik wardah dan viva. Kita jadi tahu apa yang mereka konsumsi, apa yang mereka sukai. itu dia yang kita ingin sebar lagi ke khalayak ramai yang datang ke galeri kita," tutur dia.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Celotehan buruh perempuan juga menghiasi poster yang dibuat kolektif Buka Warung, sebuah kolektif yang terdiri dari pekerja lepas dengan berbagai macam disiplin ilmu.

Kemudian, kolektif dengan latar belakang lintas disiplin ilmu ini mulai berkarya sesuai dengan porsinya masing-masing.

"Karena teman-teman sudah tahu porsi kerjanya, akhirnya teman-teman secara inisiatif, secara spontan melakukan pekerjaan yang mereka bisa lakukan."

"Aku kemarin, aku ngumpulin mood untuk poster, karena kita kan waktu itu membahas tentang kebahagiaan si buruh-buruh kan. Akhirnya kebahagiaan itu ingin diilustrasikan dalam bentuk poster, nah aku berusaha untuk bikin moodnya, bikin tone warnanya."

Sementara untuk artistiknya, seniman dengan latar belakang desain interior yang mengerjakan, seniman lain dari seni kriya menjahit bantal.

Hak atas foto BBC Indonesia

Istirahat sejenak

Sementara itu, Yulina Ahrini dari kolektif Rajut Kejut menuturkan, dari hasil obrolan yang dilakukan dengan para buruh rumahan yang mereka wawancarai, Rajut Kejut menangkan keinginan para buruh ini untuk bisa sejenak.

"Tercetuslah dari obrolan mereka, kalau ibu-ibu kan enak, ibu bisa jalan-jalan, nah kalau kita tuh hampir nggak bisa jalan-jalan, nggak bisa refreshing karena kita kan dikejar target, harus selesai, kalau kita libur sebentar aja, istirahat sebentar aja, hari ini kita tidak bisa dapat upah," ujar pekerja swasta yang akrab dipanggil Rini tersebut.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Bantal dan rajutan ini dibuat oleh sekitar 200 partisipan yang terlibat dalam kolektif Rajut Kejut.

Ide ini kemudian diwujudkan dalam ruangan di Galeri Cipta III Taman Ismail Marjuki yang diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai ruang istirahat yang dipenuhi dengan bantal dan kursi goyang, dan tentu saja rajutan.

"Kita wujudkan tempat istirahat mereka itu dari kursi goyang itu kita jadikan representasi masa istirahat mereka."

Lebih jauh Rini menjelaskan untuk menuntaskan proyek seni ini, Rajut Kejut melibatkan ratusan partisipan dari seluruh Indonesia.

Hak atas foto BBC Indonesia

"Jadi kita umumkan kalau kita mau bikin pameran, terus siapa yang mau ikut menjadi partisipan, syaratnya adalah bisa merajut. Nah itu kita bikin pengumumannya di fan page Facebook kita dari situ masuklah orang-orang yang ingin menjadi partisipan, Itu sekitar ada 200 lebih partisipan yang ikut dalam proyek ini, sementara tim intinya ada sekitar 10 orang,"

'Kolaborasi, partisipasi, interaksi'

Ini untuk kali ketiga proyek seni perempuan perupa digelar. Proyek seni ini adalah tanggapan Komite Seni Rupa DKJ terhadap perkembangan seni kontemporer, bahwa kegiatan seni yang mengarah pada riset dan fokus pada isu tertentu menjadi sangat relevan saat ini.

"Proyek seni menjadi cara untuk bekerja berbasis proses, dan dalam proses tersebut ada celah-celah untuk kolaborasi. Ada partisipasi, ada interaksi, dan ada penilitian. Program ini adalah bagaimana mengemansipasi perempuan. Jadi mereka melakukan penelitian, observasi, akhirnya terjadi kolaborasi dan ada pengetahuan baru di antara mereka," ujar Angga.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Kurator Angga Wijaya menuturkan proyek seni adalah cara kesenian meretas persoalan sosial untuk memantik orang untuk mendapat pengetahuan baru tentang isu yang diangkat dalam pameran, terutama terkait isu perempuan

Hal ini diakui oleh Astri. Dari kolaborasi dengan para buruh pabrik, perempuan jebolan desain grafis Institut Kesenian Jakarta ini mengaku mendapat pemahaman baru bagaimana memandang pekerjaannya.

"Kalau aku pribadi karena aku nggak betah diatur. Aku kerja delapan bulan lalu cabut, karena merasa waktunya kebuang banget di sana harusnya aku bisa ngerjain yang lain. Tapi gara-gara aku wawancara mereka yang perlu dilakukan adalah bersyukur sama apa yang sudah didapat."

Lebih jauh, Angga menuturkan, proyek seni adalah cara kesenian meretas persoalan sosial untuk memantik orang untuk mendapat pengetahuan baru tentang isu yang diangkat dalam pameran, terutama terkait isu perempuan.

"Setelah tahun ketiga ini, sebenarnya persoalan perempuan ini memang nggak ada habisnya. Maksudnya demokrasi membuat perempuan bisa bekerja di beberapa sektor, membuat perempuan setara dengan pria, kita nggak perlu lagi untuk mengkotak-kotakkan itu, apalagi di kajian kontemporer."

"Tapi sebenarnya dalam realitas sosialnya, masih ada persoalan itu dan itu sangat dinamis, di Indonesia khususnya," ujar Angga.

Topik terkait

Berita terkait