Protes di Iran: Mengapa Amerika Serikat dituduh lakukan campur tangan 'menjijikkan'?

Protes di Iran Hak atas foto AFP

Dalam surat resmi kepada PBB, Iran menuduh Amerika Serikat melakukan campur tangan 'menjijikkan' dalam urusan dalam negeri negara itu di tengah gelombang demonstrasi yang terjadi Iran.

Disebutkan kepemimpinan Amerika Serikat, melalui "banyak twit yang aneh, mengompori rakyat Iran untuk melibatkan diri dalam tindakan-tindakan mengganggu" yang melanggar hukum internasional.

Surat itu dikirim oleh Duta Besar Iran untuk PBB, Gholamali Khoshroo, yang antara lain mengatakan Amerika memang sudah biasa mencampuri urusan dalam negeri Iran.

Namun, lanjut Khoshroo, pemerintahan yang sekarang telah "melanggar setiap batas dalam mencemooh berbagai peraturan dan prinsip hukum internasional yang mengatur tatakrama beradab hubungan internasional".

Hak atas foto NIMA NAJAFZADEH/AFP
Image caption Unjuk rasa tandingan mendukung pemerintah digelar antara lain di Ardabil, Mashhad, Shiraz, Birjand, dan Isfahan.

Meskipun ada solidaritas profesi dengan rakyat Iran, tambahnya lagi, Amerika Serikat sejatinya menghina mereka dengan cara melarang rakyat biasa dari Iran masuk ke wilayah Amerika Serikat (berdasarkan perintah eksekutif Presiden Trump tentang larangan perjalanan).

Yang kedua, kata Dubes Gholamali Khoshroo, Presiden Trump menolak mengesahkan kesepakatan internasional untuk membatasi program nuklir Iran.

Tuduhan 'tak masuk akal'

Kementerian Luar Negeri Rusia juga menyuarakan hal serupa dan menyerukan Amerika Serikat untuk tidak melakukan campur tangan dalam "masalah dalam negeri" Iran, sebagaimana dilaporkan kantor berita Itar-Tass. Wakil Menteri Luar Negeri Sergei Ryabkov menegaskan yang terjadi di Iran adalah masalah dalam negeri.

Sebelumnya, Selasa (02/01), Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, menepis tudingan bahwa musuh-musuh Iran di luar negeri menyulut kekacauan. Ia menyebut tuduhan itu "tak masuk akal sama sekali".

"Rakyat Iran menangis untuk kebebasan. Semua orang yang cinta kemerdekaan harus membela tujuan mimpi mereka."

Sejak terjadi protes pekan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyuarakan dukungan terhadap aksi-aksi unjuk rasa. Puncak dukungan diberikan pada Rabu (03/01) ketika Trump mengisyaratkan bahwa negaranya dapat memberikan "dukungan besar" kepada para pemrotes.

Pernyataan tersebut seolah menguatkan narasi kalangan konservatif Iran yang menyalahkan negara-negara lain, termasuk Israel, Arab Saudi dan Amerika Serikat, atas gelombang unjuk rasa terbesar sejak protes atas hasil pemilihan presiden tahun 2009.

Hak atas foto ATTA KENARE/AFP
Image caption Tanpa menyebut nama, Ayatollah Ali Khamenei mengatakan ada pihak-pihak luar yang menyulut kerusuhan di Iran.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan musuh-musuh Iran adalah pihak-pihak yang menghasut kekacauan dengan menyediakan dana tunai, senjata dan agen intelijen bagi kelompok pemrotes.

Gelombang protes -yang semula dipicu oleh kesulitan ekonomi dan kemudian melebar ke politik- melanda sejumlah kota dan beberapa diwarnai kerusuhan yang merenggut sampai 21 nyawa.

Pada hari Kamis (04/01), media pemerintah menayangkan siaran langsung demonstrasi tandingan propemerintah setelah dua malam berturut-turut tidak ada laporan tentang aksi protes besar menentang kepemimpinan di Iran.

Aksi unjuk rasa propemerintah antara lain terjadi di Ardabil, Mashhad, Shiraz, Birjand, dan Isfahan.

Topik terkait

Berita terkait