Pembuat petisi Ahok-Veronica Tan jangan cerai: bingung menyalurkan aspirasi

Ahok, Basuki Tjahaja Purnama Hak atas foto Reuters
Image caption Ahok mengajukan gugatan cerai dari dalam kurungan menjadi pembicaraan publik

Dibuatnya petisi agar Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok membatalkan gugatan cerainya merupakan bentuk cinta penggemarnya, walau ada seruan agar tetap memperhatikan batas ruang privat seorang tokoh publik sekalipun.

Petisi di laman change.org dibuat oleh Lisa Gunawan alias Gouw Lie San pada 8 Januari 2017 silam, yang berawal dari perbincangannya dengan beberapa rekannya di sebuah grup whatsapp.

"Ada yang menyeletuk bikin surat. Tapi untuk mencari dukungan (agar Ahok membatalkan perceraian) berarti bikin petisi. Iseng-iseng bikin petisi, dan langsung saya share," kata Lisa, kepada BBC Indonesia, 10 Januari 2018.

Alasan membuat petisi, lanjut Lisa, adalah karena tidak tahu harus ke mana menyalurkan aspirasinya buat Ahok agar membatalkan niat bercerai.

Selain itu, tambah Lisa, perhatian dan permintaan imerupakan bentuk sayang kepada mantan gubernur Jakarta tersebut. "Dia figur dan panutan kami," kata dia. "Kayanya tidak ada apa-apa, keluarganya baik-baik saja."

Hak atas foto GOH CHAI HIN/AFP/GETTY IMAGES
Image caption Veronica, istri Ahok, menangis ketika membacakan surat pembatalan banding vonis penjara 2 tahun

Lisa mengakui sebagai pendukung Ahok, meskipun berdomisili di Bogor, bukan Jakarta. "Saya tidak mau dia kena masalah. Karena dia orangnya emosian," kata perempuan berusia 46 tahun itu.

Bahkan, kata Lisa, yang ditakutkan adalah isu yang didengar Ahok dalam mengambil keputusan itu tidak benar dan berasal dari lawan politiknya. "Jangan sampai dengar sepihak lalu putuskan itu," ujarnya.

Permohonan cerai Ahok terhadap istrinya menjadi perbincangan dan pemberitaan media lantaran ketokohan Ahok. Para pendukungnya, seperti Lisa, berharap perceraian itu tidak terjadi.

Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP
Image caption Para pendukung Ahok yang masih mengikuti setiap perkembangan idolanya
Hak atas foto INGGRID
Image caption Pendukung Ahok ketika dia divonis 2 tahun penjara berkumpul di Cipinang

Pengamat komunikasi Universitas Indonesia, Irwansyah mengatakan bahwa masyarakat Indonesia senang dengan informasi semacam itu, terutama terkait hal-hal privat seorang tokoh publik.

"Bisa dibilang sebagai bahan gosip, pergunjingan, atau bahan pembicaraan di antara grupnya," kata Irwansyah.

Menurut dia, kebiasaan warganet itu merupakan cerminan masyarakat Indonesia. "Media sosial memperpanjang kebiasaan masyarakat yang senang bergunjing dan bergosip," kata pengajar di UI ini.

Petisi yang dibuat oleh Lisa, lanjut Irwansyah, salah satu contoh intervensi terhadap privasi orang lain, dalam hal ini adalah Ahok dalam kasus perceraiannya.

Penokohan dan mengkultuskan sosok Ahok oleh penggemarnya, kata Irwansyah, membuat mereka tidak rasional. "Itu membuat mereka tidak mengerti batas-batas yang tidak boleh diintervensi," ujar Irwansyah.

Hak atas foto Reuters
Image caption Ahok dimasukkan ke Rutan Mako Brimob karena alasan keamanan

Ahok sendiri sejak 9 Mei 2017 mendekam di rumah tahanan markas Brigade Mobil di Depok, Jawa Barat, setelah dinyatakan terbukti bersalah dalam kasus penistaan agama.

Petisi yang dibuat Lisa, hingga Rabu (10/01) ditandatangani oleh lebih dari 11.000 orang sejak dibuatnya dan Lisa berharap dapat ditandatangani setidaknya 25.000 orang.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Petisi di situs change.org dibuat Lisa karena sayang Ahok
Hak atas foto INSTAGRAM/BASUKIBTP
Image caption Ahok dan istrinya Veronica ketika pelantikan sebagai gubernur DKI Jakarta

Lisa juga mengakui petisi yang dibuatnya bisa dicap sebagai mencampuri urusan privat Ahok dan keluarganya namun dia menegaskan hanya ingin memberi masukan kepada Ahok.

"Apapun keputusannya, saya kembalikan lagi ke dia," kata Lisa. "Petisi ini bukan mau mencampuri (urusan privat), tapi cuma mengimbau supaya dipikirkan ulang," pungkas Lisa.

Topik terkait

Berita terkait