Kenapa Ahmadiyah dianggap bukan Islam: Fakta dan kontroversinya

Mirza Ghulam Ahmad
Image caption Mirza Ghulam Ahmad bermisi menghidupkan kembali Islam dan menegakkan syariah Islam di Hindustan yang dijajah Kerajaan Inggris. Maka lahirlah Ahmadiyah pada 1889.

Ahmadiyah, sebuah kata yang kerap membuat emosi orang-orang yang tidak menyukainya langsung melonjak, tetapi sebutan yang sama telah pula menyebar di 210 negara di dunia.

Mengapa Ahmadiyah tidak diakui sebagai bagian dari Islam oleh Muslim arus utama, padahal Ahmadiyah juga menjadi panutan hidup jutaan umat Muslim lainnya di dunia?

BBC Indonesia berusaha merangkum berbagai informasi berkenaan dengan Ahmadiyah untuk mengawali laporan khusus bertajuk Dua realitas Ahmadiyah.

Mengapa Ahmadiyah menimbulkan kontroversi?

Dari segi eksistensi, Ahmadiyah adalah sebuah gerakan kebangkitan Islam dan mazhab atau aliran baru dalam Islam, baru lahir lebih dari satu abad lalu, yang tak lepas dari kontroversi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Ketua MUI Ma'ruf Amin memaparkan bahwa ajaran Ahmadiyah sudah menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Hal prinsip yang membedakan antara Islam arus utama dan Ahmadiyah, sebagaimana dikatakan oleh ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), adalah masalah kenabian.

''Karena Ahmadiyah menganggap ada nabi setelah Nabi Muhammad. Itu suatu pendapat yang tidak boleh dipersoalkan lagi," tegas Ma'ruf Amin dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia di kantor pusat MUI, Jakarta.

Sosok yang diyakini Ahmadiyah sebagai nabi penerus setelah Nabi Muhammad SAW adalah Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah.

Hak atas foto Jemaah Muslim Ahmadiyah
Image caption Mirza Ghulam Ahmad diyakini oleh Ahmadi sebagai nabi dan sekaligus sebagai al Masih yang dijanjikan.

Diimbuhkan oleh Ma'ruf Amin bahwa perbedaan prinsip ini tidak lagi dalam wilayah yang dapat ditoleransi.

"Dalam kesepakatan seluruh umat Islam di dunia, tajdid (pembaruan) itu boleh tapi gerakan sifatnya. Tapi kalau tajdid itu kemudian mengatakan ada nabi sesudah Nabi Muhammad, itu menyimpang.

"Itu melampaui batas pengertian tajdid. Ketika terjadi penyimpangan, harus diluruskan. Kecuali dia tidak membawa nama Islam."

Peneliti Ahmadiyah dari FISIP Universitas Merdeka Malang dan penulis buku Marginalisasi dan Keberadaban Masyarakat, Catur Wahyudi mencatat ada tiga aspek yang menjadikan Ahmadiyah kontroversial dan dinilai menyimpang dari Islam arus utama:

"Ahmadiyah dinilai tidak memiliki konsistensi dalam syahadat Islam, akibat keyakinannya terhadap sosok Mirza Ghulam Ahmad yang diposisikannya sebagai nabi, padahal Islam mainstream memandang Muhammad SAW adalah khatamul nabiiyin (nabi mutakhir)," jelas Catur Wahyudi, dosen FISIP Universitas Merdeka Malang.

Hak atas foto Koleksi Catur Wahyudi
Image caption DR Catur Wahyudi masuk ke komunitas-komunitas Ahmadiyah untuk mendalami 'keislaman' Ahmadiyah.

Kendati demikian, tambahnya, Ahmadiyah memposisikan pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad, sebagai nabi penerus yang tidak membawa risalah, dan wahyu yang diterimanya dimaknai sebagai penjelasan dari risalah Nabi Muhammad.

Dalam penelitiannya, Catur Wahyudi mencatat dalam bersyahadat, "pernyataan yang dikumandangkan sama dengan golongan Islam mainstream pada umumnya, demikian pula kumandang saat Adzan dan termasuk pula dalam bacaan sholat menyangkut kesaksian/syahadah."

Alasan kedua mengapa Ahmadiyah dianggap kontroversial, menurut Catur Wahyudi, "Fakta dimana Mirza Ghulam Ahmad mendakwahkan diri sebagai Imam Mahdi dan al Masih al Mau'ud (Imam Mahdi yang dijanjikan) juga menjadi bagian perdebatan dan menjadi perbedaan yang mendasar dengan Islam mainstream yang pada umumnya masih menunggu kehadiran Imam Mahdi dan al Masih al Mau'ud, yang dipahaminya sebagai sosok dari Isa AS."

Hal yang sama juga diakui oleh Fareed Ahmad, Sekjen Nasional Hubungan Masyarakat Jemaah Muslim Ahmadiyah Inggris, organisasi induk Ahmadiyah internasional. Menurutnya, Mirza Ghulam Ahmad merupakan nabi penerus dan Imam Mahdi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Jemaah Muslim Ahmadiyah telah menerjemahkan Alquran ke dalam setidaknya 70 bahasa di dunia, termasuk bahasa Indonesia, Korea, dan Italia.

Faktor ketiga mungkin timbul akibat pemahaman yang keliru. Kumpulan wahyu yang disebutkan diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad oleh penganutnya dibukukan setelah beliau wafat ke dalam Tadhkirah atau kadang ditulis Tazdkirah. Sebagian umat Islam menganggapnya sebagai kitab suci Ahmadiyah, jelas Catur Wahyudi.

Juru bicara JAI, Yendra Budiandra, menepis pandangan bahwa Tazdkirah adalah kitab suci bagi Ahmadi.

"Alquran adalah kitab suci komunitas Muslim Ahmadiyah yang wajib dibaca dan menjadi pegangan hidup, sementara Tazdkirah sifatnya seperti buku-buku Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as lainnya yang dianjurkan dibaca, tetapi bukan kitab suci seperti dalam konteks kitab suci agama-agama," tegasnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Dalam penelitiannya, Catur Wahyudi meletakkan Tadhkirah atau Tazdkirah di bawah bantal untuk menguji 'kesucian' buku itu dan menurutnya, Ahmadi tidak marah atas tindakannya.

Oleh karenanya, menurut Yendra Budiandra, Muslim Ahmadi tidak diwajibkan memiliki atau membacanya setiap hari, berbeda dengan Alquran.

Ahmadiyah non-Muslim?

Di sejumlah negara muncul tuntutan agar penganut Ahmadiyah tidak mendefinisikan diri mereka sebagai Muslim. Di Pakistan bahkan tidak hanya sebatas tuntutan, tetapi sudah dalam bentuk larangan dengan ancaman pidana.

Tapi apakah Ahmadi non-Muslim?

"Tidak mungkin mereka disebut dengan agama yang bukan Islam, misalnya mereka disuruh mengambil nama lain. Karena praktik agama mereka adalah Islam," papar dosen teologi di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Profesor DR. Qasim Mathar.

"Masjid dan cara sembahyang mereka itu Islam. Mereka puasa bulan Ramadan, mereka pergi haji juga, dan seterusnya."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Jemaah Ahmadiyah menjalankan Rukun Iman dan Rukun Islam sama dengan umat Islam arus utama.

Hanya, ditandaskannya, "Kita harus mengerti bahwa pada setiap kelompok mazhab atau aliran Islam, selalu saja ada kelompok ekstrem di dalamnya yang merugikan mazhab itu sendiri."

Intelektual muda Nahdlatul Ulama, Zuhairi Misrawi, dalam pengantar buku Ahmadiyah Menggugat! mengatakan biasanya mereka yang sering menyudutkan Ahmadiyah cenderung abai bahwa sebagai bagian dari umat Islam, Ahmadiyah sudah memenuhi prasyarat utama sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

"Indikatornya, jemaat Ahmadiyah telah melaksanakan Rukun Iman dan Rukun Islam secara sempurna," tandasnya.

Merujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu landasan keyakinan keislamannya, juru bicara Jemaah Ahmadiyah Indonesia, Yendra Budiandra menjelaskan bahwa Muslim Ahmadiyah bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan mengakui Muhammad adalah Utusan Allah, menunaikan kewajiban salat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan juga menunaikan ibadah haji.

"Di atas adalah kriteria Islam menurut pembawa ajaran Islam Yang Mulia Nabi Muhammad SAW, kami Muslim Ahmadiyah persis sama mengikuti dan mengimani kriteria tersebut baik dari syahadat, Rukun Iman, Rukun Islam dan Kitab Suci Alquran," tegasnya.

Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP/Getty
Image caption Serangkaian protes menentang Ahmadiyah melanda Indonesia pada 2008.

Lagi-lagi karena perbedaan keyakinan soal kenabian, Rabithah Alam al Islami, Liga Muslim Dunia yang berpengaruh, pada tahun 1974 menyatakan Ahmadiyah bukan Muslim.

Langkah serupa ditempuh oleh Akademi Fiqh Islam di Organisasi Konferensi Islam (OKI) -yang kini dikenal dengan Organisasi Kerja Sama Islam- ketika pada tahun 1985 menyatakan bahwa aliran Ahmadiyah yang mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad dan menerima wahyu adalah murtad dan keluar dari Islam.

Mengapa terjadi persekusi di Indonesia?

Meskipun pada awalnya Ahmadiyah relatif dapat diterima oleh umat Islam di Indonesia, para ulama terang-terangan tidak menyukai Ahmadiyah setelah organisasi Rabithah Alam al Islami menyatakan Ahmadiyah bukan Muslim.

Maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa sesat terhadap Ahmadiyah pada tahun 1980 yang kemudian diperkuat dengan fatwa lagi pada tahun 2005 ,yang berisi bahwa Ahmadiyah merupakan aliran sesat, menyesatkan dan sudah keluar dari Islam.

Gelombang protes dan fatwa MUI juga menuntut agar Ahmadiyah dibubarkan meskipun gerakan itu sahih sebagai organisasi. Basis-basis Ahmadiyah marak menjadi sasaran, termasuk rumah pribadi, tempat ibadah dan bahkan banyak pula Ahmadi yang mendapat serangan fisik. Imbas dari fatwa MUI dituding memicu 'kekerasan' atas nama agama.

Hak atas foto JAI
Image caption Sekelompok orang bersenjata tajam dan pentungan menyerang rumah Parman, penganut Ahmadiyah di Cikeusik, Jawa Barat pada 6 Februari 2011.

Kini Mahkamah Konstitusi tengah menangani gugatan atas Undang-Undang Penodaan Agama tahun 1965, yang diajukan oleh sembilan anggota Jemaah Ahmadiyah Indonesia.

Sejumlah pasal dalam peraturan itu, kata mereka, bisa ditafsirkan sangat luas tapi malangnya, menjadi landasan dari Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri tentang Ahmadiyah. SKB tersebut dijadikan dasar bagi pembuatan aturan-aturan pemerintah daerah yang dianggap mempersekusi Ahmadiyah.

Apa yang menimpa Ahmadiyah di Indonesia, menurut sejumlah lembaga HAM, tergolong persekusi sebab terjadi di banyak tempat dan berulang-ulang.

Siapakah pemimpin Ahmadiyah?

Setelah pendirinya wafat pada tahun 1908, secara organisasi Ahmadiyah dikomandoi secara terpusat oleh seorang pemimpin rohani yang dikenal sebagai khalifah Islam.

Organisasi ini berbendera Ahmadiyya Muslim Community atau Jemaah Muslim Ahmadiyah, yang saat ini dipimpin oleh Mirza Masroor Ahmad, pemimpin spiritual kelima dalam sejarahnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Mirza Masroor Ahmad memimpin salat Jumat dengan pengamanan ketat di London.

Seorang khalifah dipilih oleh komite khusus melalui proses panjang, mirip dengan pemilihan pemimpin gereja Katolik Roma. Ia bertugas membimbing para penganut dalam bidang kerohanian dan duniawi.

Khalifah juga memimpin salat Jumat dan salat-salat khusus di hari besar Islam. Biasanya ini diselenggarakan di Baitul Futuh, London, masjid yang menjadi sentra kegiatan Ahmadiyah di seluruh dunia.

Dari bilik-bilik kecil di masjid yang terletak di London selatan ini, tujuh penerjemah, di antaranya bahasa Arab, Inggris dan Jerman, langsung mengalih bahasakan isi khotbahnya dari bahasa Urdu. Jadi jemaah yang tidak paham bahasa nasional Pakistan itu, bisa meminjam alat pendengar nirkabel dan memilih bahasa yang ia mengerti.

Khotbah itu disiarkan pula lewat televisi Ahmadiyah ke jemaaah di seluruh dunia walau jemaah Ahmadiyah di Indonesia biasanya harus menunggu selama beberapa pekan untuk mendengarkan khotbah sang kalifah, karena harus diterjemahkan dulu ke dalam bahasa Indonesia.

Berbeda dengan kekhalifahan Islam yang didengungkan oleh kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS, kekhalifahan Ahmadiyah tidak melakukan gerakan-gerakan politik yang mengancam eksistensi kekuasaan pemerintah.

"Sang khalifah selalu berpesan kepada jemaah di mana pun mereka berada dan dalam kondisi apapun untuk selalu menunjukkan kesetiaan kepada negara dan mematuhi undang-undang yang berlaku," kata Fareed Ahmad, Sekjen Nasional Hubungan Masyarakat Jemaah Muslim Ahmadiyah Inggris, organisasi induk Ahmadiyah internasional, dalam wawancara dengan BBC Indonesia di Masjid Baitul Futuh, London selatan, Januari tahun ini.

Hak atas foto John Stillwell/PA
Image caption Para perempuan dari Jemaah Muslim Ahmadiyah menggelar aksi solidaritas bagi korban-korban serangan teror di Westminster, London, pada Desember 2017.

Dalam situsnya, Jemaah Muslim Ahmadiyah menyatakan diri sebagai organisasi Islam terdepan yang menolak terorisme.

Sikap ini dapat dimaknai sebagai implementasi dari ajaran pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, bahwa jihad dengan pedang secara agresif sudah tidak memiliki tempat dalam Islam. Sebaliknya, pengikutnya diajarkan untuk berjuang tanpa kekerasan lewat 'jihad dengan pena' dalam membela Islam.

Dalam sejarah aliran Islam yang relatif baru ini, markasnya sudah dipindah dua kali. Pertama, dari kota kelahirannya, Qadian ke Rabwah, Lahore, sebagai akibat pemisahan wilayah India-Pakistan setelah pendudukan Inggris pada tahun 1947.

Kedua, begitu Pakistan resmi melarang Ahmadiyah pada tahun 1974 terjadi persekusi skala besar terhadap Ahmadi. Keselamatan sang khalifah pun terancam maka basis gerakan dipindahkan ke London pada tahun 1984.

Apakah peran Ahmadiyah di bidang nonkeagamaan ?

Mungkin karena perlakuan yang menimpanya, Ahmadiyah menjunjung moto Love for all, hatred for none (Cinta kasih untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun).

Sebagaimana organisasi massa pada umumnya, Ahmadiyah turut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial. Donor darah, bantuan kemanusiaan dalam bencana rutin adalah sebagian contoh kontribusi kekinian.

Hak atas foto JAI
Image caption MURI memberikan penghargaan kepada JAI karena donor kornea mata dari para pengikutnya.

Di Indonesia, jika Anda suatu waktu pernah mendapat bantuan mata, mungkin saja mata itu berasal dari seorang Ahmadi. Berdasarkan data JAI, sudah terdapat 385 mata yang didonorkan, selain 15.000 calon siap donor mata.

Karena kontribusi itulah, pada tahun 2017 Museum Rekor Indonesia menobatkan JAI sebagai "Komunitas pendonor kornea mata terbanyak secara berkesinambungan".

Di Inggris, Jemaah Muslim Ahmadiyah menurunkan tim relawan muda untuk menemani kaum manula yang tinggal sendirian pada Hari Natal.

Selepas perayaan tahun baru, Jemaah Muslim Ahmadiyah dikerahkan untuk melaksanakan kerja bakti membersihkan sampah-sampah di kota-kota. Aksi bersih kota ini secara serentak dilakukan di seluruh dunia atas perintah khalifah dari markas pusat di London.

Hak atas foto AMYA/PA
Image caption Seorang anggota sayap pemuda Jemaah Muslim Ahmadiyah Inggris (AMYA) menemani seorang manula di sebuah panti jompo sebagai bagian dari prakarsa bakti sosial di Hari Natal.

Jemaah Muslim Ahmadiyah Inggris setiap tahun menggalang dana amal untuk disumbangkan ke lembaga-lembaga sosial di Inggris.

Tahun lalu komunitas itu menggalang sumbangan £685.000 (sekitar Rp13 miliar) yang diserahkan kepada 114 lembaga sosial, termasuk yayasan kanker, yayasan tunawisma hingga yayasan yang peduli binatang. Acara penyerahan digelar rutin setiap akhir tahun di Majelis Rendah Parlemen Inggris.***

Tulisan ini merupakan bagian dari laporan khusus multiplatform BBC Indonesia bertajuk Dua realitas Ahmadiyah.

Berita terkait