Indonesia 'pasar besar' satwa liar, penyelundupan burung dari Malaysia terus terjadi

Burung berkicau Hak atas foto AFP
Image caption Banyaknya peminat di Indonesia dinilai menyebabkan penyelundupan burung berkicau dari Malaysia terus terjadi.

Empat warga Indonesia dilaporkan ditangkap otoritas penjaga pantai Malaysia, Rabu (17/1), karena diduga hendak menyelundupkan sekitar 300 burung melalui jalur laut ke Sumatra.

Sementara itu, sejak November 2016, penegak hukum Indonesia setidaknya sudah empat kali menangkap penyelundup burung dari Malaysia yang masuk ke Batam dan sejumlah titik lain di Kepulauan Riau.

Pegiat perlindungan satwa liar, Rosek Nursahid dari Profauna, menilai minat tinggi masyarakat Indonesia terhadap burung memicu penyelundupan terus terjadi.

"Indonesia menjadi salah satu pasar besar karena ada semacam kultur memelihara burung dan tren lomba burung berkicau, terutama di Jawa," kata Rosek kepada BBC Indonesia.

Namun Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Muhammad Iqbal, mengaku belum mendengar kabar penangkapan empat WNI itu.

Sedangkan pimpinan penjaga pantai Malaysia, Azman Samsudin, menyebut hanya tiga burung yang dapat diselamatkan dalam penangkapan di Selat Malaka itu.

Azman menuding empat penyelundup asal Indonesia melempar seluruh burung yang diduga jenis branjangan ketika dikejar personel penjaga pantai.

"Mereka membuang burung-burung itu ke laut," ujarnya kepada kantor berita AFP.

Adu kicau burung

Rosek menuturkan selama ini pasar burung di Jawa mendapat suplai burung berkicau, antara lain murai, kacer, dan poksay, dari Sumatra. Ia menambahkan burung-burung itu dijual tanpa dokumen resmi.

Meski tak termasuk satwa yang dilindungi undang-undang, Rosek menyebut penjualan hewan liar tanpa izin merupakan pelanggaran terhadap UU tentang konservasi sumber daya alam hayati.

Pengawasan kepolisian yang ketat, menurut Rosek, mendorong suplai burung berkicau dari luar negeri, terutama Malaysia, yang keragaman faunanya mirip Indonesia.

Hak atas foto AFP
Image caption Para juri menilai kicauan terbaik dalam kontes burung di Tangerang, Banten, Mei 2017.

Rosek mengatakan, suplai yang terus bergulir setara dengan permintaan yang tinggi dari berbagai kota di Jawa. Ia menyebut lomba kicau burung yang marak mendasari bisnis ilegal itu.

"Di Malang, aktivitas lomba burung berkicau hampir ada setiap minggu, bahkan ada tempat permanen untuk kegiatan tersebut."

"Di Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Jember, dan Banyuwangi, penjualan burung berkicau ilegal merata," tambah Rosek lagi.

Hak atas foto AFP
Image caption Di Jakarta, burung berkicau juga dipelihara di pemukiman kelas menengah ke bawah.

Kepolisian dan Ditjen Bea Cukai tercatat menangkap belasan penyelundup ribuan burung berkicau dari Malaysia pada November 2016 serta Maret, Juni, dan November 2017.

Mayoritas penyelundupan, kata kepolisian, masuk ke Indonesia melalui Nongsa sebuah kecamatan di utara Batam yang berbatasan laut dengan Malaysia.

Meski berkali-kali digagalkan, Rosek menyebut penyelundupan burung tanpa dokumen akan terus berlanjut karena penegakan hukum yang tidak menyasar bandar besar, tapi hanya kurir.

"Yang paling untung dalam perdagangan ini tetaplah pedagang besar. Kami belum pernah lihat penindakan yang menyasar mereka," kata Rosek.

Berita terkait